Cerita Bokep Dewasa Pantai Tempat Melepas Rasa Cemburu

Posted on
Cerita Bokep Dewasa Terbaru 2016 Pantai Tempat Melepas Rasa CemburuNovel sex, cerita sex terbaru, cerita mesum, cerita ngentot, cerita bokep, cerita xxx, cerita ml, cerita porno | “Mas
Ray itu mu keras sekali membikin aku bisa orgasme” tak akan kulupakan
malam ini bersamu” kata dari Diana yang aku kenal saat berkampanye di
bundaran HI.

sex di pantai, ngentot di pantai, foto mesum di pantai, nikmatnya ngewe di tepi pantai, pantai terindah
Cerita Bokep Dewasa Pantai Tempat Melepas Rasa Cemburu
Ceritanya
begini, saat aku sedang berkeliling untuk mencari sebuah informasi
untuk sebuah tugas kantor, aku tak sengaja lewat di sekitaran bundaran
HI, ternyata disana banyak orang berkampanye untuk sebuah partai,
perkenalkan nama aku Monray panggilan “Ray” aku bekerja di sebuah
perusahaan yang bagiannya untuk meliput sebuah berita / acara, saat aku
sedang mengambil gambar di sekitaran budaran HI.
Disitulah
ada gadis yang memang cantik parasnya, pandanganku tertuju kepada gadis
itu, saat itu dia sedang bergerombol dengan temannya yang berkampanye
kepada sebuah partai, dia memberiku senyuman kepadaku. Gadis itu dan
temannya memakai sebuah kaos partai, yang mana bagian bawahannya dan
lengannya dipotong sehingga menyerupai sedang memakai tank top,
sedangkan bawahannya dipadu dengan celana panjang ekstra ketat yang
berwarna putih.

Bacaan Menarik: Cerita Bokep Terbaru Sebelum Berangkat Kuliah Ngentot Dulu

“Mas, Mas wartawan ya?” katanya kepadaku.

“Iya”.
“Wawancarai kita dong”, Salah seorang temannya nyeletuk.
“Emang mau?”.
“Tentu dong. Tapi photo kita dulu…”
Nah darisinilah berawal cerita ini dan kini ku koleksi dalam kenangan sehingga menjadi Kumpulan Cerita Dewasa
Mereka beraksi saat kuarahkan kameraku kepada mereka. Dengan lagak dan gaya masing-masing mereka berpose.
“Kenapa sudah ada di sini, sih? Bukankah ____ (nama partai) baru besok kampanyenya?”.
“Biarin Mas, daripada besok dikuasai partai lain?”.
“Memang akan terus di sini? Sampai pagi?”.
“Iya, demi ____ (nama partai), kami rela begadang semalaman.”
“Hebat.”
“Mas di sini aja, Mas. Nanti pasti ada lagi yang ingin manjat tugu selamat datang.” Kata gadis yang menarik perhatianku itu.
 
Aku pun duduk dekat mereka, berbincang
tentang pemilu kali ini. Harapan-harapan mereka, tanggapan mereka, dan
pendapat mereka. Mereka lumayan loyal terhadap partai mereka itu,
walaupun tampak sedikit kecewa, karena pemimpin partai mereka itu kurang
berani bicara. Padahal diproyeksikan untuk menjadi calon presiden. Aku
maklum, karena tahu latar belakang pemimpin yang mereka maksudkan itu.
 
“Eh, nama kalian siapa?” Tanyaku, “Aku Ray.”
“Saya Diana.” Kata cewek manis
itu, lalu teman-temannya yang lain pun menyebut nama. Kami terus
bercakap-cakap, sambil minum teh botol yang dijual pedagang asongan.
Waktu terus berlalu. Beberapa kali aku
meninggalkan mereka untuk mengejar sumber berita. Malam itu bundaran HI
didatangi Kapolri yang meninjau dan ‘menyerah’ melihat massa yang telah
bergerombol untuk pawai dan kampanye, karena jadwal resminya adalah
pukul 06.00 – 18.00.
Saat aku kembali, gerombolan Diana masih ada di sana.
“Saya ke kantor dulu ya, memberikan kaset rekaman dan hasil photoku. Sampai ketemu.” Pamitku.
“Eh, Mas, Mas Ray! Kantornya “x” (nama koranku), khan. Boleh saya menumpang?” Diana berteriak kepadaku.
 
“Kemana?”
“Rumah. Rumah saya di dekat situ juga.”
“Boleh saja.” Kataku, “Tapi katanya mau tetap di sini? Begadang?”
“Nggak deh. Ngantuk. Boleh ya? Gak ada yang mau ngantarin nih.”
Aku pun mengangguk. Tapi dari tempatku berdiri, aku dapat melihat di dalam mini bus itu ada sepasang remaja berciuman.
 
Benar-benar kampanye, nih? Sama saja
kejadian waktu meliput demontrasi mahasiswa dulu. Waktu teriak, ikutan
teriak. Yang pacaran, ya pacaran. (Ini cuma sekedar nyentil, lho. Bukan
menghujat. Angkat topi buat gerakan mahasiswa kita! Peace!)
Diana menggandengku. Aku melambai pada rekan-rekannya.
“Diana! Pulang lho! Jangan malah…” Teriak salah seorang temannya.
Diana cuma mengangkat tinjunya, tapi matanya kulihat mengedip.
 
Lalu kami pun menuju mobilku. Dengan
lincah Diana telah duduk di sampingku. Mulutnya berkicau terus,
bertanya-tanya mengenai profesiku. Aku menjawabnya dengan senang hati.
Terkadang pun aku bertanya padanya. Dari situ aku tahu dia sekolah di
sebuah SMA di daerah Bulungan, kelas 2. Tadi ikut-ikutan teman-temannya
saja. Politik? Pusing ah mikirinnya.
Usianya baru 17 tahun, tapi tidak mendaftar pemilu tahun ini. Kami terus bercakap-cakap. Dia telah semakin akrab denganku.
 
“Kamu sudah punya pacar, belum?” Tanyaku.
“Sudah.” Nadanya jadi lain, agak-agak sendu.
“Tidak ikut tadi?”
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Lagi marahan aja.”
“Wah.., gawat nih.”
“Biarin aja.”
“Kenapa emangnya?”
“Dia ketangkap basah selingkuh dengan temanku, tapi tidak mengaku.”
“Perang, dong?”
“Aku marah! Eh dia lebih galak.”
“Dibalas lagi dong. Jangan didiemin aja.”
“Gimana caranya?” Tanyanya polos.
“Kamu selingkuh juga.” Jawabku asal-asalan.
“Bener?”
“Iya. Jangan mau dibohongin, cowok tu selalu begitu.”
“Lho, Mas sendiri cowok.”
“Makanya, aku tak percaya sama cowok. Sumpah, sampai sekarang aku tak pernah pacaran sama cowok. Hahaha.”
 
Dia ikut tertawa.
Aku
mengambil rokok dari saku depan kemejaku, menyalakannya. Diana meminta
satu rokokku. Anak ini badung juga. Sambil merokok, dia tampak lebih
rileks, kakinya tanpa sadar telah nemplok di dashboardku. Aku merengut,
hendak marah, tapi tak jadi, pahanya yang mulus terpampang di depanku,
membuat gondokku hilang.
Setelah itu aku mulai tertarik
mencuri-curi pandang. Diana tak sadar, dia memejamkan mata, menikmati
asap rokok yang mengepul dan keluar melalui jendela yang terbuka. Gadis
ini benar-benar cantik. Rambutnya panjang. Tubuhnya indah. Dari baju
kaosnya yang pendek, dapat kulihat putih mulus perutnya. Dadanya
mengembang sempurna, tegak berisi.
Tanpa sadar penisku bereaksi.
 
Aku menyalakan tape mobilku. Diana memandangku saat sebuah lagu romantis terdengar.
“Mas, setelah ini mau kemana?”
“Pulang. Kemana lagi?”
“Kita ke pantai saja yuk. Aku suntuk nih.” Katanya menghembuskan asap putih dari mulutnya.
“Ngapain”
“Lihat laut, ngedengerin ombak, ngapain aja deh. Aku males pulang jadinya. Selalu ingat Ipet, kalau aku sendirian.”
“Ipet?”
“Pacarku.”
“Oh. Tapi tadi katanya ngantuk?”
“Udah terbang bersama asap.” Katanya,
tubuhnya doyong ke arahku, melingkarkan lengan ke bahuku, dadanya
menempel di pangkal tangan kiriku. Hangat.
 
“Bolehlah.” Kataku, setelah berpikir
kalau besok aku tidak harus pagi-pagi ke kantor. Jadi setelah mengantar
materi yang kudapat kepada rekanku yang akan membuat beritanya, aku dan
Diana menuju arah utara. Ancol! Mana lagi pantai di Jakarta ini.
 
Aku
parkirkan mobil Kijangku di pinggir pantai Ancol. Di sana kami terdiam,
mendengarkan ombak, begitu istilah Diana tadi. Sampai setengah jam kami
hanya berdiam. Namun kami duduk telah semakin rapat, sehingga dapat
kurasakan lembutnya tubuh yang ada di sampingku.
Tiba-tiba Diana mencium pipiku.
“Terima kasih, Mas Ray.”
“Untuk apa?”
“Karena telah mau menemani Diana.”
 
Aku hanya diam. Menatapnya. Dia
pun menatapku. Perlahan menunduk. Kunikmati kecantikan wajahnya. Tanpa
sadar aku raih wajahnya, dengan sangat perlahan-lahan kudekatkan wajahku
ke wajahnya, aku cium bibirnya, lalu aku tarik lagi wajahku agak
menjauh. Aku rasakan hatiku tergetar, bibirku pun kurasakan bergetar,
begitu juga dengan bibirnya. 
 
Aku tersenyum, dan ia pun tersenyum. Kami
berciuman kembali. Saat hendak merebahkannya, setir mobil menghalang
gerakan kami. Kami berdua pindah ke bangku tengah Kijangku. Aku cium
kening Diana terlebih dahulu, kemudian kedua matanya, hidungnya, kedua
pipinya, lalu bibirnya. Diana terpejam dan kudengar nafasnya mulai agak
terasa memburu, kami berdua terbenam dalam ciuman yang hangat membara.
Tanganku memegang dadanya, meremasnya dari balik kaos tipis dan bhnya.
 
Sesaat kemudian kaos itu telah kubuka.
Aku arahkan mulutku ke lehernya, ke pundaknya, lalu turun ke buah
dadanya yang indah, besar, montok, kencang, dengan puting yang memerah.
Tanganku membuka kaitan BH hitamnya. Aku mainkan lidahku di puting kedua
buah dadanya yang mulai mengeras. Yang kiri lalu yang kanan.
 
“Mas Ray, kamu tau saja kelemahan saya, saya paling nggak tahan kalo dijilat susu saya…, aahh…”.
Aku pun sudah semakin asyik mencumbu
dan menjilati puting buah dadanya, lalu ke perutnya, pusarnya, sambil
tanganku membuka mini skirtnya.
 
Terpampanglah jelas tubuh
telanjang gadis itu. Celana dalamnya yang berwarna hitam, menerawangkan
bulu-bulu halus yang ada di situ. Kuciumi daerah hitam itu.
Aku berhenti, lalu aku bertanya kepada Diana
“Diana kamu udah pernah dijilatin itunya?”
“Belum…, kenapa?”.
“Mau nyoba nggak?”.
Diana mengangguk perlahan.
 
Takut ia berubah pikiran, tanpa
menunggu lebih lama lagi langsung aku buka celana dalamnya, dan
mengarahkan mulutku ke kemaluan Diana yang bulunya lebat, kelentitnya
yang memerah dan baunya yang khas. Aku keluarkan ujung lidahku yang
lancip lalu kujilat dengan lembut klitorisnyana.
Beberapa detik kemudian kudengar desahan panjang dari Diana
 
“sstt… Aahh!!!”
Aku terus beroperasi di situ
“aahh…, Mas Ray…, gila nikmat bener…,
Gila…, saya baru ngerasain nih nikmat yang kayak gini…, aahh…, saya
nggak tahan nih…, udah deh…”
 
Lalu dengan tiba-tiba ia menarik
kepalaku dan dengan tersenyum ia memandangku. Tanpa kuduga ia
mendorongku untuk bersandar ke bangku, dengan sigapnya tangannya membuka
sabuk yang kupakai, lalu membuka zipper jins hitamku. Tangannya
menggapai kemaluanku yang sudah menegang dan membesar dari tadi. Lalu ia
memasukkan batang kemaluanku yang besar dan melengkung kedalam
mulutnya.
 
“aahh…” Lenguhku
Kurasakan kehangatan lidah dalam mulutnya. Namun karena dia mungkin belum biasa, giginya beberapa kali menyakiti penisku.
 
“Aduh Diana, jangan kena gigi dong…, Sakit. Nanti lecet…”
Kuperhatikan wajahnya, lidahnya sibuk
menjilati kepala kemaluanku yang keras, ia jilati melingkar, ke kiri, ke
kanan, lalu dengan perlahan ia tekan kepalanya ke arahku berusaha
memasukkan kemaluanku semaksimal mungkin ke dalam mulutnya. Namun hanya
seperempat dari panjang kemaluanku saja kulihat yang berhasil terbenam
dalam mulutnya.
“Ohk!.., aduh Mas Ray, cuma bisa masuk seperempat…”
“Ya udah Diana, udah deh jangan dipaksaain, nanti kamu tersedak.”
 
Kutarik tubuhnya, dan kurebahkan
ia di seat Kijangku. Lalu ia membuka pahanya agak lebar, terlihat
samar-samar olehku kemaluannya sudah mulai lembab dan agak basah. Lalu
kupegang batang kemaluanku, aku arahkan ke lubang kemaluannya. Aku
rasakan kepala kemaluanku mulai masuk perlahan, kutekan lagi agak
perlahan, kurasakan sulitnya kemaluanku menembus lubang kemaluannya.
 
Kudorong lagi perlahan,
kuperhatikan wajah Diana dengan matanya yang tertutup rapat, ia
menggigit bibirnya sendiri, kemudian berdesah.
 
“sstt…, aahh…, Mas Ray, pelan-pelan ya masukkinnya, udah kerasa agak perih nih…”
Dan dengan perlahan tapi pasti kudesak
terus batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Diana, aku berupaya
untuk dengan sangat hati-hati sekali memasukkan batang kemaluanku ke
lubang vaginanyana. Aku sudah tidak sabar, pada suatu saat aku
kelepasan, aku dorong batang kemaluanku agak keras. Terdengar suara
aneh. Aku lihat ke arah batang kemaluanku dan kemaluan Diana, tampak
olehku batang kemaluanku baru setengah terbenam kedalam kemaluannya.
Diana tersentak kaget.
 
“Aduh Mas Ray, suara apaan tuh?”
“Nggak apa-apa, sakit nggak?”
“Sedikit…”
“Tahan ya.., sebentar lagi masuk kok…”
 
Dan kurasakan lubang kemaluan Diana
sudah mulai basah dan agak hangat. Ini menandakan bahwa lendir dalam
kemaluan Diana sudah mulai keluar, dan siap untuk penetrasi. Akhirnya
aku desakkan batang kemaluanku dengan cepat dan tiba-tiba agar Diana
tidak sempat merasakan sakit, dan ternyata usahaku berhasil, kulihat
wajah Diana seperti orang yang sedang merasakan kenikmatan yang luar
biasa, matanya setengah terpejam, dan sebentar-sebentar kulihat mulutnya
terbuka dan mengeluarkan suara. “sshh…, sshh…”
 
Lidahnya terkadang keluar sedikit
membasahi bibirnya yang sensual. Aku pun merasakan nikmat yang luar
biasa. Kutekan lagi batang kemaluanku, kurasakan di ujung kemaluanku ada
yang mengganjal, kuperhatikan batang kemaluanku, ternyata sudah masuk
tiga perempat kedalam lubang kemaluan Diana.
 
Aku coba untuk menekan lebih jauh
lagi, ternyata sudah mentok…, kesimpulannya, batang kemaluanku hanya
dapat masuk tiga perempat lebih sedikit ke dalam lubang kemaluan Diana.
Dan Diana pun merasakannya.
“Aduh Mas Ray, udah mentok, jangan
dipaksain teken lagi, perut saya udah kerasa agak negg nih, tapi
nikmat…., aduh…, barangmu gede banget sih Mas Ray…”
 
Aku
mulai memundur-majukan pantatku, sebentar kuputar goyanganku ke kiri,
lalu ke kanan, memutar, lalu kembali ke depan ke belakang, ke atas lalu
ke bawah. Kurasakan betapa nikmat rasanya kemaluan Diana, ternyata
lubang kemaluan Diana masih sempit, walaupun bukan lagi seorang perawan.
Ini mungkin karena ukuran batang kemaluanku yang menurut Diana besar,
panjang dan kekar. Lama kelamaan goyanganku sudah mulai teratur,
perlahan tapi pasti, dan Diana pun sudah dapat mengimbangi goyanganku,
kami bergoyang seirama, berlawanan arah, bila kugoyang ke kiri, Diana
goyang ke kanan, bila kutekan pantatku Diana pun menekan pantatnya.
Semua aku lakukan dengan sedikit
hati-hati, karena aku sadar betapa besar batang kemaluanku untuk Diana,
aku tidak mau membuatnya menderita kesakitan. Dan usahaku ini berjalan
dengan mulus. Sesekali kurasakan jari jemari Diana merenggut rambutku,
sesekali kurasakan tangannya mendekapku dengan erat.
 
Tubuh kami berkeringat dengan
sedemikian rupa dalam ruangan mobil yang mulai panas, namun kami tidak
peduli, kami sedang merasakan nikmat yang tiada tara pada saat itu. Aku
terus menggoyang pantatku ke depan ke belakang, keatas kebawah dengan
teratur sampai pada suatu saat.
“Aahh Mas Ray…, agak cepet lagi sedikit goyangnya…, saya kayaknya udah mau keluar nih…”
 
Diana mengangkat kakinya tinggi,
melingkar di pinggangku, menekan pantatku dengan erat dan beberapa menit
kemudian semakin erat…, semakin erat…, tangannya sebelah menjambak
rambutku, sebelah lagi mencakar punggungku, mulutnya menggigit kecil
telingaku sebelah kanan, lalu terdengar jeritan dan lenguhan panjang
dari mulutnya memanggil namaku.
 
“Mas Ray…, aahh…, mmhhaahh…,
Aahh…” Dia kelojotan. Kurasakan lubang kemaluannya hangat, menegang dan
mengejut-ngejut menjepit batang kemaluanku.
“aahh…, gila…, Ini nikmat sekali…” Teriakku.
Baru kurasakan sekali ini lubang
kemaluan bisa seperti ini. Tak lama kemudian aku tak tahan lagi,
kugoyang pantatku lebih cepat lagi keatas kebawah dan, Tubuhku
mengejang.
 
“Mas Ray…, cabut…, keluarin di luar…”
Dengan cepat kucabut batang kemaluanku lalu sedetik kemudian kurasakan kenikmatan luar biasa, aku menjerit tertahan
“aahh…, ahh…” Aku mengerang.
“Ngghh…, ngghh..”
 
Aku pegang batang kemaluanku sebelah
tangan dan kemudian kurasakan muncratnya air maniku dengan kencang dan
banyak sekali keluar dari batang kemaluanku.
Chrootth…, chrootthh…, crothh…,
craatthh…, sebagian menyemprot wajah Diana, sebagian lagi ke
payudaranya, ke dadanya, terakhir ke perut dan pusarnya.
Kami terkulai lemas berdua, sambil berpelukan.

Bacaan Top: Cerita Sex Lanjut ke Villa Setelah HORNI di Puncak Gunung

“Mas Ray…, nikmat banget main sama
kamu, rasanya beda sama kalo saya gituan sama Ipet. Enakan sama kamu.
Kalau sama Ipet, saya tidak pernah orgasme, tapi baru sekali disetubuhi
kamu, saya bisa sampai, barang kali karena barang kamu yang gede banget
ya?” Katanya sambil membelai batangku yang masih tegang, namun tidak
sekeras tadi.
“Saya nggak bakal lupa deh sama malam ini, saya akan inget terus malem ini, jadi kenangan manis saya”
 
Aku hanya tersenyum dengan lelah dan berkata “Iya Diana, saya juga, saya nggak bakal lupa”.
Kami
pun setelah itu menuju kostku, kembali memadu cinta. Setelah pagi, baru
aku mengantarnya pulang. Dan berjanji untuk bertemu lagi lain waktu
 
Tamat
cerita xxx igo
Gravatar Image
NovelSeks.org Merupakan media hiburan bagi orang dewasa berumur 20 tahun keatas, bagi yang belum mencapai batas umur saya mohon kesadarannya untuk segera meninggalkan blog ini. Bagi yang cukup umur silahkan menikmati sajian cerita cerita panas igo nakal terbaru 2017 yang telah kami sudur dari berbagai sumber blog lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *