Cerita Mesum 2016 Dosa Terindah Bersama Angga

Posted on
Nonton Video Porno HD Full Movies
Blog Sex Online Cerita Mesum 2016 Dosa Terindah Bersama Angga – Cerita panas terhot, Sebelumnya kisah sex yang pernah saya publish Cerita Dewasa Luapan Birahi Murid dan GuruCerita
sex terbaru, novel sex terlengkap, cerita dewasa terupdate, cerita
mesum terbaik, cerita ngentot terpopuler, cerita bokep terselubung,
cerita xxx, cerita ml abg perawan, cerita porno janda binal
| Aku kini benar-benar terbangun setelah mendengar dengkuran Mas Har
beberapa lamanya. Kuperhatikan dada dan perutnya yang padat lemak itu
naik-turun seirama dengan suara dengkur yang makin menjengkelkanku. Aku
turun dari ranjang dan berjalan menuju cermin besar di kamar tidur kami.
Kupandangi dan kukagumi sendiri tubuh telanjangku yang masih langsing
dan cukup kencang di usiaku yang tigapuluhan. Kulitku masih cukup mulus
dan putih, payudaraku tetap bulat dan kenyal, pas benar dengan bra 37B
warna pink favoritku saat kuliah. Dan wajahku masih halus, semua terawat
oleh kosmetik yang aku dapatkan dari uang Mas Har.

cerita mesum, cerita mesum terbaru, cerita mesum 2016, cerita sex mesum, cerita dewasa mesum, chat sex mesum, chat mesum, profil fb mesum, profil google+ mesum
Ilusi Foto Hot Terbaru 2016 Bikin Horny

Ah, aku
masih sangat menarik. Tentu saja, tanda-tanda ketuaan tak bisa
dihindari, namun tubuhku belum pernah melar karena hamil, apalagi
melahirkan. Aku masih ingin meniti karierku, aku ini wanita yang
menikmati kekuasaan. Dan menikah dengan Mas Har membuka lebar-lebar
kesempatan untuk meraih ambisi itu. Kualihkan pandangan pada sosok
lelaki tambun di ranjangku. Mas Har yang dulu tampil sangat jantan, bisa
sangat berubah dalam waktu 12 tahun. Rambut halus di dada dan perutnya
dulu yang selalu membuatku bergairah bila dipeluknya, kini tumbuh makin
lebat dan liar, sedangkan Mas Har tidak pernah mau mencukurnya. Perutnya
yang kokoh dulu kini ditutupi oleh selimut lemak yang sangat tebal.
Memang otot dada dan tangannya yang kekar masih bertahan. Namun kalau
aku bercinta dengan Mas har sekarang, rasanya aku sedang ditiduri oleh
seekor gorilla. Memuakkan.

Meski begitu, hasratku akhir-akhir
ini makin tak tertahankan. Seringkali, akulah yang meminta duluan ke Mas
Har untuk memuaskan nafsuku. Namun gara-gara stamina Mas Har yang loyo
di usianya yang setengah abad lebih, aku hampir pasti tidak terpuaskan
dan kebanyakan aku sendiri yang menyelesaikan “tugas” Mas Har. Sama
seperti yang terjadi sore ini, tinggal sebentar lagi aku merasakan
orgasme, tiba-tiba Mas Har keluar, dan dengan napas tersengal-sengal ia
membelai-belai tubuhku kemudian tertidur lelap di sampingku. Lagi-lagi
harus jari-jariku sendiri yang memuaskanku. Aku sudah tak tahan. Aku
tidak peduli lagi pada nilai dan norma yang berlaku bagiku sebagai
perempuan. Kubulatkan tekadku, kemudian aku pergi ke kamar mandi untuk
membersihkan diri dari bekas cumbuan suamiku yang memuakkan.

Selesai
sarapan Mas Har pamit padaku dan mengatakan betapa menyesalnya dia
harus meninggalkanku akhir pekan ini ke Singapura, demi kepentingan
lobby perusahaannya. Mas Har memang pernah menawarkan padaku untuk pergi
bersamanya, tapi aku menolak dengan alasan aku lelah dengan pekerjaan
kantorku dan sedang tidak ingin pergi begitu jauh hanya untuk
berbelanja. Dan kesempatan ini akan aku gunakan sebaik-baiknya. Sore ini
aku akan punya kegiatan yang lebih menarik dari sekedar berbelanja, di
Singapura sekalipun. Supir kami mengantar Mas Har pergi dan 30 menit
kemudian aku pergi menuju kantor membawa sedanku sendiri.

Setelah
makan siang aku kembali ke kantor dan menyelesaikan sebagian
pekerjaanku hari itu dan dua jam sebelum waktu pulang, aku menyerahkan
sisa pekerjaan itu ke bawahanku. Mereka tidak terlalu senang dengan
tugas mendadak itu, tapi nampaknya mereka sudah terbiasa dengan
perangaiku. Mereka paham bahwa aku tidak ingin menjadi lelah, karena
sepulang kerja nanti aku akan pergi bersama teman-temanku, eksekutif
wanita muda yang lain. Hanya saja mereka tidak tahu kalau hari itu, aku
sudah membatalkan acara jalan-jalan kami.

Kukemudikan sedanku
ke arah rumahku, namun kemudian berbelok menuju tempat lain. Sekitar 15
menit kemudian aku berhenti di samping sebuah lapangan basket di dalam
suatu perumahan. Di sana sejumlah remaja SMU sedang bermain. Aku turun
dari mobilku dan duduk di samping lapangan tempat tas-tas mereka
diletakkan, lalu menyaksikan permainan mereka. Salah satu dari mereka,
mengenakan kostum basket warna merah, yang kemudian melihatku, tersenyum
dan melambaikan tangannya. Aku membalas dengan cara serupa. Dia adalah
Angga, anak salah satu bawahanku yang sedang kutugaskan pergi ke luar
kota selama beberapa hari. Hubunganku dengan keluarga mereka cukup akrab
untuk mengetahui bahwa Angga mengikuti latihan basket dua kali seminggu
di sana.

Sepuluh menit kemudian permainan berakhir dan
sejumlah remaja itu menuju ke tas mereka, yaitu ke arahku. Aku berjalan
menuju Angga membawa sebotol minuman yang sudah kusiapkan pagi tadi.

“Ang, minum dulu nih. Ternyata tadi di mobil Tante masih ada sebotol”, tawarku.

“Oh iya, Tante, makasih!”, jawabnya tersengal.

Nampaknya
ia masih kelelahan. Angga mengambil botol dari tanganku dan segera
menghabiskan isinya. Kami berjalan menuju tasnya. Dan ia mengeluarkan
handuk untuk menyeka keringatnya. Aku mengintip sebentar ke dalam tasnya
dan bersyukur aku memberikan botol minumanku kepada Angga sebelum ia
sempat mengambil minuman bekalnya sendiri.

Sebagai pemain
basket, Angga cukup tinggi. Dari tinggi badanku yang 168 cm kuperkirakan
kalau tinggi Angga sekitar 180-an cm. Bisa kuperhatikan tangan Angga
cukup kekar untuk anak seusianya, sepertinya olahraga basket benar-benar
melatih fisiknya. Figur badannya menunjukkan potensinya sebagai atlet
basket. Aku beralih ke wajahnya yang masih nampak imut walau basah oleh
keringat. Dengan kulit yang kuning, wajahnya benar-benar manis. Aku
tersenyum.

Setelah menyeka wajahnya, Angga memperhatikanku sebentar dan berkata, “Tante Nia dari kantor? Kok pake ke sini?”

“Nggak,
males aja mau ke rumah, enggak ada temannya sih. Om Harry lagi ke
Singapura. Jadi tante jalan-jalan.. terus ternyata lewat deket-deket
sini, sekalian aja mampir..” ujarku setengah merajuk.

Ia beralih sebentar untuk ngobrol dan bercanda dengan temannya.

“Sama dong Tante, Angga lagi males nih di rumah, nggak ada orang sih!”

“Nggak ada orang? Ibu sama adik kamu ke mana?”

“Nginep di rumah nenek, besok sore pulang. Aku disuruh jaga rumah sendirian”. Angga menaruh handuknya dan duduk di sampingku.

“Oh, kebetulan banget ya..” kata-kata itu tiba-tiba terlepas dari mulutku.

Yang
dikatakan Angga benar-benar di luar dugaanku, tapi justru membuat
keadaan jadi lebih baik. Aku tidak perlu bersusah payah untuk mencari
tempat ber..

“Kenapa, Tante? Kebetulan gimana?”

“Iya, kebetulan aja kita sama-sama cari teman..” Angga tersenyum.

“Sebenarnya..
Ehh.. Tante ada perlu sih ke rumahmu. Ada file laporan penting yang
harus diambil segera, padahal papa kamu masih di luar kota. Kira-kira
bisa nggak ya, tante ke rumahmu ngambil file itu? Tante sudah bilang kok
sama Papa kamu, katanya tante disuruh ngambil aja di rumah..”

“Oh,
nggak apa-apa kok. Cuma mungkin agak lama ya, Tante. Soalnya aku musti
cari-cari kunci cadangannya lemari papa. Biasanya selalu dikunci sih,
kalau pergi-pergi. “

“Nggak masalah, Tante nggak buru-buru. Kita pergi sekarang?”.

Angga
mengangguk lalu kami berjalan menuju mobilku. Angga melambaikan tangan
pada teman-temannya dan meneriakkan kata-kata perpisahan. Kuperhatikan
teman-teman Angga saling berbisik dan tertawa-tawa kecil melihat kami
pergi.

“Di rumah benar-benar nggak ada orang yah, Ang?”

“Cuma aku doang, Tante. Untungnya sih Mama ngasih uang lumayan buat cari makan.”

“Aduh.. Kaciann..” kataku manja. “Tapi biasanya seumuran kamu pasti ada pacar yang nemenin kemana-mana kan..”

Angga menoleh dan tersenyum padaku. “Wah, Angga nggak punya Tante. Belum ada yang mau!”

“Ah,
masa? Cowok keren kaya kamu gini loh!” Kutepuk pelan lengannya, mencoba
merasakan sejenak kekokohannya. “Kalau Tante sih, sudah dari dulu Angga
tante sabet!”

Angga hanya tertawa ramah, ia sudah biasa
dengan gaya bercandaku yang agak genit itu. Padahal sebenarnya, sosok
Angga benar-benar sudah mempesonaku saat ia diperkenalkan padaku dan Mas
Har setahun yang lalu.

Perjalanan ke rumah Angga memakan
waktu sekitar 30 menit karena jalanan sudah penuh oleh mobil-mobil orang
lain yang menuju rumah masing-masing. Dalam perjalanan aku tetap
memperhatikan Angga. Aku ingin tahu apakah minuman yang tadi Angga minum
sudah menunjukkan reaksinya. Biasanya aku menggunakan obat itu untuk
memancing nafsu Mas Har dan mempertahankan staminanya. Aku mungkin sudah
gila.. Mencoba untuk tidur dengan bocah SMU anak pegawaiku sendiri..
Tapi biarlah.. Gelegak di diriku sudah tak mampu lagi aku bendung.

Tadi
pagi aku memberikan dosis ekstra pada minuman yang kuberikan pada
Angga, dan sekarang aku penasaran akan efeknya pada tubuh muda Angga.
Bisa kulihat sekarang napas Angga mulai naik-turun lagi setelah sempat
tenang duduk dalam mobil. Duduknya juga nampak sedikit gelisah. Aku
menepi. Kami sudah sampai.

Ia membuka pintu dan mempersilahkan
aku masuk. Aku duduk nyaman di sofa ruang tamu dan ia menuju dapur
untuk menyiapkan segelas minuman buatku. Rumah Angga tidak besar,
sekedar cukup untuk tinggal empat orang. Sekali lagi aku menanyakan pada
diriku sendiri, apakah aku ingin melakukan hal ini.. Dan sedetik
kemudian aku menjawab: aku memang benar-benar menginginkannya..

Kutanggalkan
jas dan blazerku, menyisakan sebuah tank-top putih untuk melekat di
bagian atas tubuhku. Tadi pagi aku sudah mematut diri di kaca dengan
tank-top ini. Sebenarnya ukurannya sedikit lebih kecil dari ukuranku,
hingga cukup ketat untuk memperlihatkan dengan jelas bentuk payudaraku,
bahkan puting susuku. Aku tersenyum geli ketika meihat diriku di cermin
pagi itu. Rok miniku kutarik sedikit lebih tinggi, dan kusilangkan
kakiku sedemikian rupa hingga Angga yang nanti kembali dari dapur akan
memperhatikan pahaku yang mulus.

Angga keluar beberapa menit
kemudian membawakan segelas sirup dengan batu es. Ia terdiam sejenak
sebelum melanjutkan langkahnya menuju meja di depanku.

“Panas banget, Ang. Makanya Tante copot blazernya”, kataku setengah mengeluh.

“Iya, memang di sini nggak ada AC seperti di rumah Tante”.

Suara
Angga sedikit terbata, nafasnya naik-turun, dan mencoba tersenyum.
Kulihat Angga juga berkeringat, tapi aku tahu hal itu bukan hanya karena
panas yang ada di ruang tamu ini. Aku mengambil gelas yang dingin itu
dan menggosokkannya pada bagian bawah leherku yang berkeringat. Segar
sekali..

“Ahh.. Seger baget Ang. “

Angga menelan ludahnya. Kuminum sedikit sirup itu.

“Uhh.. Top banget. Enak, Ang”, ujarku setengah mendesah.

“Hmm..
Tante.. Angga.. Angga cari kunci lemarinya papa dulu ya..” kata Angga.
Anak ini pemalu juga, kataku dalam hati. “Oh, iya deh, Tante tunggu. ”
Angga kemudian bergegas menuju satu lemari besar di samping sofa dan
mulai membuka laci-lacinya.

Aku bersabar sedikit lebih lama.
Aku tahu dari tingkah laku Angga yang makin gelisah, kalau obat itu
sebentar lagi akan benar-benar memberi efek. Setelah 10 menit mencari
dan belum menemukan kuci itu. Aku berjalan ke arah Angga yang masih
membungkuk, mencari kunci itu di salah satu laci.

“Ang.. Apa nggak lebih baik..”

Angga
lalu berdiri dan membalikkan badannya menghadapku. Aku tahu dia sempat
mencuri pandang ke arah dadaku sebelum melihat wajahku. Ia menelan
ludahnya. Aku mendekat padanya hingga jika aku melangkah sekali lagi
tubuhku akan langsung bersentuhan dengannya. Angga mencoba mundur, tapi
lemari besar itu menghalanginya.

“Kenapa..? Tante..?”, nafasnya terasa menyentuh dahiku.

Aku mendongak sedikit, menatap wajahnya.

“Lebih baik kamu..”

Tanganku meraba otot bisepnya, padat..

“Mandi dulu..”

Tanganku yang satu menyentuh tepi bawah kostum basketnya..

“Terus ganti baju..”

Kedua tanganku mulai mengangkat kausnya..

“Kan, kamu keringetan gini..”

Tanganku setengah meraba otot-otot perutnya yang keras sambil terus membawa kausnya ke atas..

“Nanti.. Kuncinya.. Dicari lagi..”

Dadanya
cukup kokoh, dan terasa sekali paru-parunya mengembang dan mengempis
semakin cepat, jantungnya berdegup kencang.. Wajahku terasa panas,
jantungku ikut berdetak cepat. Angga mengangkat lengannya dan berkata,
“Ya Tante..”

Tapi suara Angga lebih mirip desahan berat.
Kuangkat lagi kausnya ke atas dan Angga dengan cepat meneruskan
pekerjaanku dan kemudian melemparkan kausnya ke samping. Angga sekarang
bertelanjang dada, dengan celana selutut masih dikenakannya. Aku
merapatkan badanku padanya namun tiba-tiba aku berhenti setelah
merasakan sesuatu mengenai perutku. Aku mundur sedikit dan melihat ke
arah dari mana sentuhan di perutku berasal.

“Oh..!”, bisikku sedikit terkejut.

Dari
dalam celananya terlihat tonjolan yang cukup panjang dan besar. Penis
Angga.. Siluetnya terlihat jelas dari celana basketnya yang longgar. Aku
melihat wajah Angga. Ia juga melihat tonjolan di celananya itu, sedikit
terkejut, kemudian melihatku. Napasnya menderu.

“Eh, maaf tante.. aku.. Nggak pernah.. Pake..”

“Celana dalam? Nggak.. Pernah..?” potongku.

Ia hanya menggeleng dan kembali menatapku.

Aku tersenyum. “Nggak apa-apa.. Lebih baik gitu..”

Wajah
imutnya memperlihatkan keterkejutan. Tapi aku segera kembali merapatkan
tubuhku dan maju lebih berani. Kucengkram batang kemaluannya dari luar
celananya. Angga napak semakin terkejut dan badannya berguncang sedikit.
Kemudian semua berjalan menuruti nafsu kami yang bergelora.

Angga
memelukku, membawa bibirku rapat ke bibirnya dan melakukan ciuman
paling bernafsu yang pernah aku terima dalam satu dekade ini. Lidahnya
bergelut liar dengan lidahku, bibirku digigitnya pelan.. Kupegang
kepalanya dan kurapatkan terus dengan wajahku. Kuacak-acak rambutnya
seakan aku ingin seluruh tubuhnya masuk ke dalam ragaku.

Angga
mencoba menyudahi ciuman itu. Aku khawatir ia akan menolak untuk
bertindak lebih jauh, hingga aku tidak membiarkannya. Tapi aku sudah
sulit mengatur napasku, dan akhirnya kulepaskan wajahnya. Aku tersengal,
mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ternyata Angga sama sekali
tidak berhenti. Saat aku ditaklukkan nafsu saat berciuman tadi, Angga
sudah berhasil melepaskan tank-topku tanpa sedikitpun aku menyadarinya.
Tank-top itu kini berada di bawah kakiku. Dan kini Angga mulai menghisap
dan menjilati leherku dengan buas.

“Ohh.. Anngghh..” ini dia yang selama ini kudambakan, gairah dan energi yang begitu meluap..

Lidah
Angga bergerak lagi ke bawah.. Membasahi belahan dadaku.. Berputar
sebentar di sekitar puting kiriku, memberikan sensasi geli yang nikmat..
Kemudian Angga melahap payudaraku.

“Ouuhh.. Kamu.. Ahh.. Kurang ajar yahh.. Hmmpphh.. Terusin Anngg.. Ahh.. Mmmhh..”

Bocah
ini.. Benar-benar bernafsu.. Ia lalu melakukan hal sama pada payudaraku
yang sebelah kanan dan segera membawaku ke ambang orgasme.. Aku
merasakannya.. Sedikit lagi.. Tapi ia tiba-tiba berhenti, membuatku
melihat ke bawah, ingin tahu apa yang terjadi. Ia berlutut, dan mencoba
melepaskan rok miniku. Tanganku bergerak cepat membantu Angga dan dua
detik kemudian rok itu sudah jatuh ke lantai. Aku mencoba melepaskan
pula celana dalamku, namun Angga lebih cepat.. Ia merobeknya.. Sejurus
kemudian lidahnya beraksi lagi.. Dalam liang kewanitaanku..

“Anggahh.. Kamuhh.. Nggak sopann..”

Kumajukan
pinggulku, rasanya aku ingin membenamkan seluruh wajah Angga ke dalam
vaginaku.. Lidah Angga yang tak terlatih, membuatku harus membantunya
menyentuh daerah yang tepat dengan menggerakkan kepala bocah itu.

“Uuuhh.. Di sini Anngghh.. Ohh.. Yeeaahh..!!”

Angga terus bergerilya dalam gua-ku hingga aku merasakan gelombang kenikmatan yang hebat.

“Angghh.. Tante.. Mau.. Aaahh!!”

Tubuhku
menggeliat seiring dengan orgasme yang melandaku. Angga dengan liar
menjilati cairan-ku sampai tetes yang terakhir. Kakiku terasa lemas..
Pelan-pelan aku terduduk.. Dan kemudian berbaring di lantai.. Merasakan
sisa-sisa kenikmatan yang telah Angga berikan sambil terengah-engah..

Aku
melihat ke arah Angga. Ia juga sedang terengah-engah. Badannya berdiri
kokoh di hadapanku. Badan kekarnya yang berkeringat, berkilat oleh
pantulan matahari sore yang menerobos jendela kamar. Dan.. Tak ada lagi
celana basket yang melekat di badan itu. Pistolnya.. Mengacung tegak ke
arahku. Batangnya begitu besar.. Pasti lebih dari 20 cm, dan tebal.
Rambut tipis dari kemaluannya berlanjut ke atas menuju pusarnya. Oh..
Begitu muda dan gagah..

“Tante.. Aku..”

“Giliran Tante, Ang!”

Aku
berdiri, menghimpit tubuhnya dan menjilati badan remaja itu. Tangannya
yang kuat mengelus mendekapku sambil mengusap punggungku. Saat
kugigit-gigit putingnya, Angga mendesah perlahan dan rambutku diacaknya.
Tanganku dengan mudah mendapati penisnya, kemudian kukocok pelan.
Sementara itu lidahku mengembara di otot-otot perut Angga.

Kini
aku sampai pada pusarnya. Lidahku terus bergerak turun dan kulahap
pucuk batang kejantanan Angga. Angga menggeram. Kukulum batangnya dan
aku puas mendengar Angga terus mendesah.

“Ooohh.. Tante.. Ahh..”

Kucoba untuk menelan lebih dalam, tapi ukuran penis Angga terlalu besar. Sudah saatnya..

“Ayo Ang, biar tante ajarin caranya jadi lelaki..”

Kuajak
dia berbaring di lantai, lalu pelan-pelan aku duduk di perutnya sambil
memasukkan pistol Angga ke ‘sarung’-nya, memastikan agar aku mendapatkan
kenikmatan yang aku mau.

“Aaahh.. Angga.. Punya kamuhh.. Besaarr.. Uuhh..”

Aku membelai dadanya, dan mulai bergerak naik-turun. Angga melenguh dan memejamkan mata, meresapi setiap gerakan yang kubuat.

“Uuuhh.. Eegghh.. Aduhh.. Nggak pernah.. Angga.. Ngerasain.. Enak kaya ginihh..”

Setelah mulai terbiasa dengan ritmeku, Angga membuka matanya. Tangannya memegang kedua payudaraku yang naik turun.

“Tante Nia.. Oohh.. Seksi banget.. Ahh..”

Ia
memerasnya.. Dan terasa sangat nikmat.. Kini aku yang menghayati
permainan Angga. Tapi aku segera tersadar, kali ini AKU yang akan
memuaskan Angga.

Aku mempercepat gerakanku, sambil sesekali memutar-mutar pinggulku.

“Ohh.. Tante.. Terusiinn.. Enaakk.. Aahh.. Mmmhh..”

Bacaan sex top: Cerita Ngentot Sama Kak Linda yang Bahenol

Tangannya
beralih ke pantatku, mencoba ikut mengatur ritmeku. Kuberikan apa yang
Angga minta, kujepit batangnya dan aku semakin bergoyang menggila.

“Gini kan.. Mau kamu, Angghh.. Ehh..”

“Uhh.. Yaa.. Ohh.. Aaagghh.. Kenceng bangett.. Ayo tante..”

Aku bagai lupa daratan, kenikmatan yang kurasa benar-benar membius, dan sebentar lagi.. Tinggal sebentar..

“Tantee.. Oooaagghh!! Oh, yeaahh!!”

“Annggaa.. Aaagghh.. Ohh.. Ohh..”

Aku
merasakan kenikmatan paling dahsyat dalam hidupku, bersamaan dengan
ejakulasi Angga. Kami berpelukan, berguling sementara Angga masih
meneruskan tikaman penisnya dalam vaginaku, membawaku semakin jauh dari
dunia ini..

“Ohh.. Anggaa.. Ohh.. Kamu.. Udahh.. Bukan perjaka.. Lagi.. Ahh..”

Ia menciumiku, memanjakan payudaraku, membelai-belai rambutku..

Dengan napas yang tersengal-sengal Angga berbisik di telingaku,

“Duhh..
Nggak nyangkah.. Tante.. Nakal banget.. Ahh.. Tapi Angga.. Suka..
Dinakalin.. Tante.. Ehh.. Kontol Angga masih ngaceng nihh.. ehh.. Mau
Tante apain lagi..?” – Situs dewasa sex online terlengkap, novel sex terupdate, novel sex
dewasa, novel xxx terbaru, novel cerita hot, novel cerita bokep, novel
cerita porno, novel mesum, novel abg ml, novel tante selingkuh, novel
janda hypersex, novel sex terpanas, novel perawan suka bugil.

Cerita
Sex / Cerita Dewasa / Cerita Mesum / Cerita Panas / Cerita Porno /
Cerita Bokep / Cerita Sex Tante / Cerita Sex ABG / Cerita Sex Janda /
Cerita Sex Perawan / Cerita HOT / Kisah Sex / Sex Bergambar / Foto Seks

Video Bokep
Gravatar Image
NovelSeks.org Merupakan media hiburan bagi orang dewasa berumur 20 tahun keatas, bagi yang belum mencapai batas umur saya mohon kesadarannya untuk segera meninggalkan blog ini. Bagi yang cukup umur silahkan menikmati sajian cerita cerita panas igo nakal terbaru 2017 yang telah kami sudur dari berbagai sumber blog lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *