Cerita Sex Mengesankan Sama Teman Suamiku

Posted on
Blog Dewasa Online Terbaru 2016 Cerita Sex Mengesankan Sama Teman Suamiku – Cerita hot terpanas, Sebelumnya kisah sex yang pernah saya publish adalah Cerita Ngentot Dewasa Daun Muda Terhot. Cerita sex terbaru, novel sex terlengkap, cerita dewasa terupdate, cerita
mesum terbaik, cerita ngentot terpopuler, cerita bokep terpopuler,
cerita xxx, cerita ml, cerita porno
| Perkenalkan para pembaca situs novelseks.com Namaku Ratih, asalku dari Surabaya. Umurku 26 tahun dan sudah lulus dari
sebuah universitas terkenal di Yogyakarta. Selama kuliah aku punya
teman kuliah yang bernama Iva. Iva adalah teman dekatku, dia berasal
dari Medan. Kami seumur, tinggi kami hampir sama, bahkan potongan rambut
kami sama, hanya Iva pakai kacamata sedangkan aku tidak. Kadang-kadang
teman-teman menyebut kami sebagai saudara kembar. Kami juga lulus pada
saat yang bersamaan. Satu-satunya yang berbeda dari kami ialah selama
setahun kuliah terakhir, Iva sudah bertunangan dengan Ari, seorang kakak
kelasku sedangkan aku masih berpacaran dengan Andy, juga kakak kelasku.

Cerita Sex Mengesankan Sama Teman Suamiku

Salah
satu persamaan lainnya ialah bahwa saat lulus itu kami sama-sama sudah
tidak perawan lagi. Kami saling terbuka dalam hal ini, artinya kami
saling bercerita mulai dari hal-hal yang mendalam misalnya tentang
perasaan, kegelisahan dan hal-hal lain tentang kami dan pacar-pacar
kami. Atau terkadang tentang hal-hal yang nakal misalnya bagian-bagian
erotis atau ukuran vital dari pacar-pacar kami, sehingga darinya aku
tahu bahwa milik Ari lebih panjang 3 cm dibandingkan milik Andy
. Dengan
lugas kadang-kadang Iva bercerita bahwa dia tidak pernah merasakan
seluruh panjang batang milik Ari, diceritakannya pula bahwa Ari tidak
pernah bisa lebih lama dari 3 menit setiap kali berhubungan badan
dengannya. Meski begitu dia selalu merasa puas.

Kadang-kadang aku
merasa iri juga dengan anugrah yang didapat Iva. Meskipun sebenarnya 15
cm milik Andy pun sudah cukup panjang, tapi membayangkan 18 cm milik
Ari terkadang cukup membuatku gundah. Belum lagi aku mengingat-ingat tak
pernah Andy sanggup bertahan lebih lama dari hitungan menit, mungkin
karena aku dan Andy selalu melakukan pemanasannya lama dan menggebu-gebu
(kadang-kadang malah aku atau Andy sudah lebih dulu orgasme pada tahap
ini), jadi ketika saat penetrasi sudah tinggal keluarnya saja. Meskipun
kadang-kadang cukup memuaskan tetapi rasanya masih saja ada yang kurang.
Belum lagi secara fisik, Ari lebih baik dari Andy dari penilaian
obyektifku. Semua perasaan itu tersimpan di diriku sekian lama selama
aku masih sering berhubungan dengan Iva, yang artinya juga sering
bertemu dengan Ari.

Tepat sebulan setelah lulus, Iva menikah
dengan Ari. Lalu mereka berdua pindah ke Medan, sedangkan aku sendiri
bekerja di sebuah perusahaan multinasional di Yogyakarta. Beberapa lama
kami sering berkirim kabar baik lewat email maupun telepon. Iva sering
menuliskan apa saja yang sudah dilakukannya dalam kehidupan suami
istrinya. Diceritakannya betapa sering mereka berdua berhubungan intim,
sebulan pertama jika dirata-rata bisa lebih dari 1 kali sehari. Dengan
nada cekikikan sering juga diceritakannya bahwa memang milik Ari terlalu
panjang untuk kedalamannya, bahwa semakin lama Ari semakin tahan lama
dalam melakukannya yang oleh karenanya mereka sering terlambat bangun
pagi karena semalaman melakukannya sampai dini hari. Juga dengan nada
menggoda, diceritakannya betapa hangat semprotan sperma di dalam liang
kemaluan.

Cerita yang terakhir ini sungguh merangsangku, karena
meskipun telah melakukannya, aku belum pernah merasakan hal itu. Selalu
Andy mengeluarkan spermanya di luar atau dia memakai kondom. Di perut
atau paha memang sering kurasakan hangatnya cairan itu, tetapi di dalam
liang kemaluan memang belum. Singkat kata semakin banyak yang
diceritakannya semakin membuatku ingin segera menikah. Masalahnya Andy
masih ingin menyelesaikan studi S2-nya yang mungkin kurang dari setahun
lagi selesai.

Kumpulan Cerita Sex Bertukar Pasangan Pasutri Terbaru

Beberapa bulan kemudian Iva mengabarkan bahwa dia
sudah hamil sekian bulan. Semakin bertambah umur kandungannya semakin
sedikit cerita-cerita erotisnya. Ketika kandungan sudah beranjak lebih
dari 7 bulan, dia bercerita bahwa mereka sudah tidak pernah berhubungan
seks lagi. Kadang-kadang dia bercerita bahwa sesekali dia
me-masturbasi-kan Ari, karena meskipun secara klinis mereka masih boleh
berhubungan seks tapi mereka khawatir. Jadi Ari terpaksa berpuasa.
Sekian bulan kemudian lahirlah putra pertamanya, Iva mengabarkan
kepadaku berita gembira itu. Kebetulan sekali perusahaanku mempunyai
kebijaksanaan adanya liburan akhir tahun selama dua minggu lebih.
Sehingga aku memutuskan untuk pergi ke Medan untuk menjenguknya. Andy
terpaksa tidak bisa ikut karena dia sedang hangat-hangatnya
menyelesaikan tesisnya.

Jadilah aku pergi sendirian ke Medan dan
segera naik taksi menuju rumahnya. Rumah Iva adalah sebuah rumah yang
besar untuk ukuran sebuah keluarga kecil. Rumah itu adalah hadiah dari
orang tua Iva yang memang kaya raya. Letaknya agak keluar kota dan
berada di dekat area persawahan dengan masih beberapa rumah saja yang
ada di sekitarnya. Ketika aku datang, di rumahnya penuh dengan
keluarga-keluarganya yang berdatangan menjenguknya. Ari sedang menyalami
semua orang ketika aku datang.
“Ratih, apa kabar? Sudah ditunggu-tunggu tuh!” dia memelukku dengan hangat.
Kemudian
dia mengenalkanku kepada keluarga-keluarga yang datang. Aku pun
menyalami mereka satu persatu. Mereka ramah-ramah sekali. Ari bercerita
bahwa aku adalah saudara kembarnya Iva selama kuliah. Keluarganya saling
tersenyum dan berkomentar sana sini.

Sekian saat berbasa basi,
Ari segera mengantarku masuk rumah dan langsung menuju kamar Iva. Tampak
Iva lebih gemuk dan di sampingnya tampak bayi lucu itu.
“Iva sayang, apa kabar?” aku mencium keningnya dan memeluknya hangat.
“Sudah siap-siap begituan lagi ya?” aku berbisik di telinganya yang dijawabnya dengan cubitan kecil di lenganku.
“Sstt.. harus disempitin dulu nih!” dia menjawab dengan berbisik pula sambil menggerakkan bola matanya ke bawah, aku tertawa.

Singkat
kata, hari itu kami isi dengan berbasa-basi dengan keluarganya. Aku
akhirnya menginap di rumahnya itu karena semua keluarga menyarankan
begitu. Iva dan Ari pun tak keberatan. Aku diberi kamar yang besar di
ujung ruangan tengahnya. Rumahnya mempunyai 6 kamar besar dengan kamar
mandi sendiri dan baru satu saja yang telah diisi olehnya dan Ari. Hari
itu sampai malam kami isi dengan mengobrol di kamarnya menemani sang
bayi yang baru saja tidur. Sementara Ari menyelesaikan tugas-tugasnya
sebagai dosen di ruang kerjanya.

Akhirnya aku menyarankannya istirahat.
“Sudah kamu istirahat dulu deh Va!”
“He eh deh, lelah sekali hari ini aku! Kamu masih suka melek sampai malam?”
“Iya nih!”
“Itu ada banyak film di rak! Masih baru lho!”
“Oke deh! Sekali lagi selamat ya!” kucium keningnya.

Aku keluar kamar dan menutupnya perlahan. Ari bercelana pendek dan berkaos oblong baru saja keluar dari ruang kerjanya.
“Mau tidur?”
“Sebenarnya aku sudah lelah, tapi mataku tidak bisa terpejam sebelum jam 2 malam nih! Katanya punya banyak film?”
“Itu di rak, buka aja!”
“Oke deh!”

Ari masuk kamar Iva. Kupilih satu film, judulnya aku lupa, lalu kuputar. Beberapa saat kemudian Ari keluar kamar dan tersenyum.
“Masih dengan kebiasaan lama? Melek sampai malam!”
“He eh nih!”
“Gimana kabarnya Andy?”
“Dua bulan lagi selesai tesisnya! Terus kami mau menikah, kalian datang ya!”
“Oh pasti! Mau minum, aku buatin apa?”
“Apa aja deh!”

Sebentar kemudian Ari keluar dengan dua botol soft drink di tangannya.
“Pembantu pada kelelahan nih! Jadi ini saja ya!”
“Makasih!” aku ambil satu dan meminumnya langsung, rasanya segar sekali.
“Kalo
ada perlu aku lagi ngerjain proyek nih di ruang kerja”, ketika Ari
beranjak sekilas aku melihat tatapan yang belum pernah kulihat darinya,
sekilas saja.
“Oke, makasih!”
Tak berapa lama aku melihat film
itu, mataku ternyata tidak seperti biasa, tiba-tiba terasa berat sekali.
Aku segera matikan player itu, berjalan ke depan ke ruang kerja Ari.
“Ari, aku tidur dulu deh! sudah kumatiin semua!”
“Oke deh, istirahat dulu ya!”

Aku
segera masuk kamar, menutup pintu, segera ganti baju dengan kaos tanpa
bra dan celana pendek saja dan langsung ambruk di atas ranjang. Aku
masih sempat mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur yang
remang-remang. Aku langsung terlelap, saat itu mungkin sekitar pukul
satu dinihari.

Tak terasa berapa lama aku tidur, ketika aku
merasakan sesuatu menindihku. Aku terbangun dan masih belum sadar ada
apa, ketika seseorang menindihku dengan kuat. Nafasnya terasa hangat
memburu di wajahku. Ketika sepenuhnya sadar aku tahu bahwa Ari sedang di
atas tubuhku dan sedang menggeranyangiku dengan ganas, mengelus-elus
pahaku dan mencoba mencium bibirku. Beberapa lama aku tidak tahu harus
bagaimana. Jika aku berteriak, aku kasihan pada Iva, jika sampai dia
tahu. Selain itu sosok Ari telah kukenal dekat sehingga aku tak perlu
menjerit untuk membuatnya tidak melakukan itu.

“Ar, kamu apa-apaan?” kataku sambil mencoba mendorongnya dari tubuhku.
“Bantulah aku Rat! Telah lama sekali!” sambil berkata begitu dia terus menggeranyangi tubuhku.
Tangannya
mendarat dengan mantap di atas payudaraku dan meremas-remasnya. Jika
saja aku tadi masih memakai BH-ku mungkin rasanya akan lain. Tapi kali
itu hanya kain kaos yang tipis saja yang memisahkannya dengan tangannya.
Selain itu samar-samar kurasakan sesuatu yang mengeras menimpa pahaku.
Aku tidak asing lagi dengan benda itu. batang kemaluannya telah tegang
penuh.”Ari..!” dia mencoba menciumku. Entah antara ingin mengatakan
sesuatu atau ingin menghindar, aku malah menempatkan bibirku tepat di
bibirnya. Yang terjadi kemudian aku malah membalas lumatannya yang ganas
sekali. Beberapa lama itu dilakukannya, cukup untuk membuat puting
susuku mengeras, yang kuyakin dirasakannya di dadanya.

“Kalo Iva tahu gimana dong?”
“Ayolah sebentar saja tak akan membuatnya tahu!” bisik Ari.
Entah
untuk mencari pembenaran atas keinginan terpendamku atau mencoba untuk
terlihat tidak terlalu permisif akhirnya yang keluar dari mulutku
adalah, “Ar.. aku akan melakukannya untuk Iva!”
Seperti bendungan
jebol, Ari langsung kembali melumatku dengan ganas. Aku pun tampaknya
memang telah terhanyut oleh perbuatannya, sehingga langsung membalas
lumatan bibirnya. Tampaknya dalam hal beginian Andy lebih jagoan, dia
bisa membuatku basah kuyup hanya dengan ciumannya. Sedangkan Ari tampak
tersengat ketika aku langsung membalas lumatan bibirnya dengan ganas.

Beberapa
lama kami melakukan lumatan-lumatan itu, kemudian Ari bangkit dari atas
tubuhku dan berlutut di antara pahaku. Dia kemudian menarik kaosku ke
atas tanpa melepasnya dari tubuhku sehingga payudaraku terbuka, terasa
dingin oleh AC. Beberapa saat kemudian aku merasakan jemarinya kembali
meremas-remasnya perlahan, bukan itu saja kemudian aku merasakan
bibirnya mendarat dengan mulus memilin-milin puting susuku yang
kurasakan semakin mengeras. Tapi sebenarnya sebagian kecil tubuhku masih
menolak perbuatannya itu, mengingat kedekatanku dengan Iva. Meski
begitu sebagian besar lainnya tak bisa menolak rangsangan-rangsangan
itu.

Beberapa saat Ari bermain-main dengan puting dan gundukan payudaraku.
Kemudian dia bangkit dan menarik lepas celana pendek dan celana dalamku.
Dengan segera aku merasakan tangannya membuka kedua pahaku dan sebentar
kemudian kurasakan jemarinya menyapu permukaan liang kemaluanku.
Ujung-ujung jemarinya mengelus-elus klitorisku dengan cepat, cukup cepat
untuk membuat rangsangan bagiku. Walau begitu tetap saja gelitikannya
semakin merangsangku.

Tak berapa lama dia kembali berhenti.
Sekali lagi dalam hal pemanasan ini Andy masih lebih baik dibandingkan
Ari. Dalam keremangan, aku melihatnya berdiri dan menarik celana pendek
dan kaos oblongnya sehingga Ari akhirnya telanjang bulat. Justru di
sinilah nafsuku langsung naik dengan sangat cepat demi menyaksikan
tubuhnya di dalam keremangan lampu tidur di kamar itu. Sesuatu di tengah
tubuhnya langsung membakarku, batang kemaluan yang sedang tegang dan
tampak sedikit melengkung ke atas. Bentuknya yang gemuk, panjang dan
berkepala bonggol itu langsung menggelitikkan rasa terangsang yang amat
sangat mengalir dari mata dengan cepat langsung menggetarkan
selangkanganku.

Aku segera saja merasa gelisah dan tak sabar.
“Ar.. Ke sini deh!”
Dengan
bertelanjang bulat, Ari berjalan mendekat kepadaku dan naik ranjang,
langsung berlutut di samping tubuhku, batang kemaluannya yang tegak itu
tampak jauh lebih besar jika dilihat dari baliknya.
“Ada apa Rat?”
“Kadang-kadang aku punya impian yang bahkan Iva pun tak tahu apa itu?”
“Apa coba?”
“Jangan
diketawain ya. Iva sering bercerita tentang ini! Dan kadang-kadang
timbul keinginan untuk sekedar memandangnya”, sambil berkata begitu
kuraih batang kemaluannya itu dan kugenggam erat batang dan sebagian
kepalanya sehingga seperti kalau sedang memegang persneling mobil. Ari
tampak sedikit gugup ketika genggamanku mendarat mulus di batang
kemaluannya tanpa diduga-duga olehnya. Tubuhnya seperti terdorong ke
belakang sedikit sehingga semakin mengangkat posisi batang kemaluannya
dari posisi berlututnya. Beberapa saat aku merasakan kerasnya batang
kemaluannya itu.

Pantas sekali kalau Iva begitu membangga-banggakannya. Dan emang selisih tiga centi terasa sekali secara visual.
“Nih sudah, kamu boleh apain aja deh! Oh ya Iva sudah cerita apa saja ke kamu?”
“Banyak pokoknya!”
“Kalo sama punya Andy?”
“No comment deh!” nada bicaraku agak mendesah.
Ari
tersenyum dan bangkit dari sampingku terus membuka pahaku dan mulai
mengambil posisi. Ketika bangkit aku melihat pinggulnya seperti
bertangkai oleh cuatan batang kemaluannya itu. Dia memandangku sebentar,
kubalas dengan pandangan yang sama.
“Pelan-pelan ya Ar!”
“Lho, sudah pernah khan?”
“Iya, tapi..”
“Tidak segini ya?” Dia kembali tersenyum.

Aku
cuma tersenyum kecut demi ketahuan kalau punya Andy tidak sebesar
punyanya. Perlahan-lahan Ari mengangkat kedua pahaku dan menyusupkan
lututnya yang tertekuk di bawahnya sehingga ketika dia meletakkan pahaku
kembali keduanya menumpang di atas paha atasnya yang penuh rambut.
Dengan posisi seperti itu selangkangannya langsung berhadapan dengan
selangkanganku yang agak mendongak ke atas karena posisi pahaku. Aku
hanya bisa menunggu seperti apakah rasanya. Aku merasakan perlahan-lahan
Ari membuka sekumpulan rambut kemaluanku yang rimbun di bawah sana dan
beberapa saat kemudian sesuatu yang tumpul menggesek-gesek daging di
antara sekumpulan itu dengan gerakan ke atas dan ke bawah menyapu
seluruh permukaannya, dari klitoris sampai ke lubang kemaluanku. Rasa
terangsangku segera memuncak kembali merasakan sensasi baru itu.

“Ayolah Ar, keburu bangun!”
“Ini baru jam 3.15”
“Iya siapa tahu?”
Perlahan-lahan
aku merasakan gesekan kepala batang kemaluannya tadi berhenti di area
dekat lubangku tepat pada posisi membuka bibir-bibir labiaku sehingga
langsung berhadapan dengan lubang di bawahnya itu. Sesaat kemudian
sesuatu yang besar dan tumpul serta hangat menyodoknya perlahan-lahan.
Tanpa hambatan yang terlalu kuat, kepalanya langsung masuk diikuti
batangnya perlahan-lahan. Aku segera merasakan nikmat akibat gesekan
urat-uratnya itu di dinding lubang kemaluanku. Sampai tahap ini
sebenarnya rasanya tidak beda jauh dari punya Andy, walaupun tidak
sepanjang punya Ari ini tapi cukup gemuk. Tapi semakin lama tubuhku
segera bereaksi lain ketika batang itu mulai masuk semakin dalam. Dan
ketika semuanya masuk ke dalam, aku segera merasakan rasa nikmat yang
amat sangat ketika ujung kepala batangnya itu mentok di dinding bagian
dalam liang kemaluanku. Aku segera mencari lengannya dan mencengkeramnya
erat.

Ari berhenti sesaat dan menarik nafas panjang sekali.
“Rat..
Ini yang kucari!” Ari berbisik perlahan sekali tapi cukup terdengar
olehku. Kutahu apa yang dimaksudnya. Sesuatu yang sanggup menelan semua
panjang batangnya itu. Ari tidak segera bergerak tapi seperti menggeliat
dalam tancapan penuh batang kemaluannya ke dalam liang kemaluanku itu.
Tampaknya reaksi dari bagian yang belum pernah tertelan itu sangat
mempengaruhi dirinya. Dia bahkan belum bergerak sampai sekian puluh
detik ke depan, wajahnya tertunduk, kedua tangannya mencengkeram
pinggulku, meraih-raih pantatku dan meremas-remasnya dengan ganas
cenderung kasar. Dengan sedikit nakal, aku mencoba mengejan,
mengkontraksikan otot-otot di sekeliling selangkanganku.

Walaupun
terasa penuh oleh masuknya batang kemaluannya itu aku mulai bisa
melakukan kontraksi itu dengan teratur. Tak terlihat tapi efeknya luar
biasa. Aku merasakan kedua tangannya dengan liar memutar-mutar, meremas
dan mencengkeram bongkahan pantatku, pastinya karena reaksi dari apa
yang kulakukan pada batangnya itu. Dia segera ambruk di atas tubuhku dan
segera mengambil posisi menggenjot, kedua tangannya diletakkan di
antara dadaku, salah satunya menyangkutkan paha kananku sehingga
mengangkat selangkanganku ke atas sedangkan paha kiriku otomatis
terangkat sendiri. Paha kanannya masih tertekuk sedangkan kaki kirinya
diluruskannya ke bawah sehingga mempertegas sudut tusukan batang
kemaluannya di liang kemaluanku.

Dia mulai mencabut batang
kemaluannya yang beberapa lama tadi masih tertancap penuh di dalam
tubuhku dan belum sampai tiga perempat panjang batangnya keluar, dia
langsung menghujamkannya dengan kuat ke bawah sehingga menekan kuat area
ujung rahimku. Kemudian ditariknya lagi dan ditusukkannya kembali.
Mulailah terasa beda pengaruh panjangnya terhadap kenikmatan yang
kurasakan. Hal ini mungkin dikarenakan bidang gesekan satu arahnya yang
panjang dan lebih lama sehingga mengalirkan kenikmatan yang lebih kuat
pula.

“Arr..! Jangan kuat-kuat..!” tapi sebenarnya aku sangat
menikmatinya. Ari tampaknya tak peduli, dia terus saja bergerak-gerak
dengan kuat dan semakin cepat. “Oh.. Rat.. Ratih!” dia terus menggenjot
dan tak terasa begitu cepat 5 menit yang pertama terlewati dan dia masih
tangguh saja memompa liang kemaluanku. Benar kata Iva. Pagi itu tak ada
seorang pun yang bangun dan terjaga, tapi kami berdua malah sedang
mencoba mendaki dengan alasan yang berbeda. Kalau Ari karena tak tahan
menunggu Iva berfungsi kembali sedangkan aku karena ingin saja. Sekitar
sekian saat setelah 5 menitnya yang ketiga, aku jebol. Gesekan urat-urat
batang kemaluannya itu meledakkan tubuhku dengan kuat sehingga
membuatku menjepitkan pahaku ke tubuhnya
. Bukan itu saja senam yang
teratur yang aku ikuti ternyata berguna pada saat itu.

Tepat pada
puncaknya kutahan kontraksi di liang kemaluanku dan sekuat tenaga
kupertahankan agar tidak segera meledak. Sesaat aku merasakan aliran
arus balik di tubuhku tapi tidak lama jebol juga sehingga dibawah
genjotan cepatnya aku merasakan tiba-tiba seperti melayang di angkasa
luas tanpa batas. Tubuhku kaku, kejang, nafasku memburu dan keluar
tertahan-tahan bersamaan dengan keluarnya bunyi-bunyian yang tidak jelas
nadanya dari bibirku.

“Ohh.. eehh.. hmm.. Ar.. yang kuat!”
Mungkin gabungan antara suara dari bibirku dan mungkin
cengkeraman-cengkeraman kuat dari dinding-dinding liang kemaluanku,
segera membuatnya bergerak cepat dan kuat sekali. Aku tidak pernah
merasakan kekuatan sekuat dan setahan itu dari Andy. Tubuhku kejang
sampai dia menyelesaikan 5 menitnya yang keempat dan masih terus
bergerak mantap. Sampai orgasmeku mereda aku merasakan gerakannya
semakin cepat dan kuat dan belum sampai pertengahan 5 menitnya yang
kelima, Ari pun jebol juga.

Posisi kami selama itu masih belum
berubah, tapi ketika dia mau menyelesaikan genjotan-genjotan terakhirnya
dia menggerakkan tubuhku ke kiri sehingga menggerakkan seluruh tubuhku
miring ke kiri dan paha kananku tepat menumpang di atas dadanya
sedangkan paha kiriku berada di antara kedua pahanya. Ketika posisinya
pas, dia langsung bergerak cepat. Dalam posisi itu ternyata rasanya lain
karena yang menggesek dinding lubang kemaluanku pun dinding yang lain
dari batang kemaluannya. Tapi orgasmeku yang pertama rasanya terlalu
kuat untuk diulangi dalam waktu sedekat itu, sehingga meskipun rasanya
memuncak lagi tapi ketika aku merasakan semprotan-semprotan panas
seperti yang diceritakan Iva kepadaku itu aku belum bisa meraih
orgasmeku yang kedua.

“Hoohh.. Hooh.. Hoo.. Rat..Ratih!” Ari
bergerak-gerak tak teratur dan hentakan-hentakannya ketika orgasme itu
tampak liar dan ganas tapi terasa nikmat sekali bagiku. Aku memegang
kedua lengannya yang berkeringat sampai dia menyelesaikan orgasme itu.
Sesekali aku mengusap wajahnya dengan lembut. Beberapa lama tubuhku kaku
karena posisi kaki-kakiku itu, sampai akhirnya dia ambruk di samping
kiriku. Batang kemaluannya tercabut dengan cepat dan semuanya itu
membuat posisi kembaliku agak terasa linu, terutama di paha bagian
dalamku.

Kami terdiam dalam pikiran masing-masing. Aku telentang
sedangkan Ari tengkurap di sampingku basah kuyup oleh keringat.
Tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu perlahan-lahan dari balik pintu kamar.
Tiba-tiba Ari panik dan segera mengenakan celana pendek dan kaosnya.
Batang kemaluannya meskipun sudah lemas tapi masih belum seluruhnya
lemas sehingga tampak menggunduk di celana pendeknya. Aku melirik jam,
sudah hampir jam 4 pagi. Ari dengan sedikit tertatih-tatih berjalan
perlahan tanpa suara ke arah pintu kamarku, membukanya perlahan dan
sebelum keluar sempat melihatku sejenak dan tersenyum.

Tinggallah
aku sendiri di kamarku dan aku mencari-cari celana pendekku dan segera
mengenakannya. Aku terus menarik kaosku ke bawah sehingga menutupi
payudaraku yang pasti penuh pagutan-pagutan merah. Dan dengan sisa-sisa
tenaga mencoba merapikan sprei yang terasa lembab di tanganku. Mungkin
karena lelahnya aku kembali terlelap dan terbangun hampir jam 10.00
pagi. Singkat kata hari itu kuselesaikan segala urusan di Medan. Rasanya
tak ada hambatan dengan segala hal yang terjadi. Iva biasa-biasa saja
tidak terlihat seperti curiga, bahkan wajah cerianya tampak sedih ketika
pada hari ketiga aku terpaksa harus pamit untuk pulang. Ari mengantarku
ke bandara dan sebelum aku naik ke pesawat sempat Ari mengucapkan
terima kasih. Aku membalasnya dengan terima kasih juga sambil tak lupa
tersenyum manis penuh arti.

Bacaan sex top: Cerita Sex 2016 Kisah Seorang Pelacur Cantik

Sampai tiga bulan setelah aku
meninggalkan Medan, tiba-tiba Iva mengirimiku email yang menyentakku,
isinya begini, “Rat, sebenarnya aku tidak ingin menyinggung-nyinggung
soal ini tapi akhirnya agar kamu tahu terpaksa deh aku ungkapin. Tidak
tahu aku harus mengucapkan terima kasih atau malah mencaci kamu. Kamu
tega deh, di saat puncak kebahagianku kamu malah melakukannya dengan
Ari. Aku tahu bukan kamu yang memulai, dan aku tahu sekali kamu tidak
akan mau melakukannya jika tanpa sesuatu sebab. Sebenarnya aku kasihan
juga sama Ari, bayangkan hampir dua bulan terakhir sebelum aku
melahirkan, dia tidak pernah melakukannya, meskipun hanya sekedar
masturbasi. Belum lagi ditambah dua bulan setelah aku melahirkan aku
masih belum bisa melayaninya. Dan aku tidak menyalahkannya jika akhirnya
dia memintamu melakukannya. Dan jika akhirnya kamu terpaksa
melayaninya, kuucapkan terima kasih telah menggantikanku. Mungkin itu
saja deh Rat, yang perlu untuk kamu ketahui. Aku tidak tahu harus
bagaimana tapi sudah deh segalanya sudah terjadi, mohon jangan
mengulanginya lagi ya! Please! Aku sudah omong-omong tentang ini sama
Ari dan dia menangis habis-habisan menyesalinya. Oke, udahan dulu ya.
Bales ya secepatnya!” Iva.

“NB: sedikit nakal, kok sekarang Ari jadi
ganas gitu sih? Kalo ini karena kamu makasih ya! Terakhir, bagaimana dia
melakukannya? Hi.. hi.. hi Jangan khawatir aku tetap sahabatmu.”

Berhari-hari
setelah itu aku kebingungan mempertimbangkan apa yang harus kulakukan
terhadap ini, sampai akhirnya aku harus menjawab juga.

“Iva
sayang, hanya maaf yang bisa aku mohonkan ke kamu. Aku tidak ingin
membela diri, aku salah dan aku janjikan itu tidak akan terulang lagi.
Jika ada yang bisa aku lakukan untuk menebusnya? Katakan saja kepadaku!
Aku tidak punya lagi kata-kata apapun, jadi sekali lagi maaf ya!” Ratih
“NB:
tentang yang ganas-ganas itu aku tidak tahu tanya aja sama dia, tapi
kalo tentang pertanyaan yang kedua, jawabannya secara jujur ya iya.
Mohon maaf sekali lagi!”

Email balasanku pagi itu terkirim,
sorenya langsung dibalas dan isinya, “Ratih, Oke deh. Meskipun agak
sakit, kita kubur jauh-jauh peristiwa itu. Kapan kamu menikah? Kabarin
lho! Aku punya ide (agak liar), supaya setimpal, gimana kalo nanti pas
kamu mengalami saat-saat yang sama kayak aku, boleh dong aku mbantuin
Andy? He.. He.. He.. (gambar tengkorak lagi tertawa!)” Iva
Nah loh! Akhirnya memang begitu yang terjadi setahun kemudian, jadi kedudukanku dengan Iva menjadi 1-1. – Situs dewasa sex online terlengkap, novel sex terupdate, novel sex
dewasa, novel
xxx terbaru, novel cerita hot, novel cerita bokep, novel cerita porno,
novel mesum, novel abg ml, novel tante selingkuh, novel janda hypersex,
novel sex terpanas, novel perawan suka bugil
.

Tamat

cerita xxx igo
Gravatar Image
NovelSeks.org Merupakan media hiburan bagi orang dewasa berumur 20 tahun keatas, bagi yang belum mencapai batas umur saya mohon kesadarannya untuk segera meninggalkan blog ini. Bagi yang cukup umur silahkan menikmati sajian cerita cerita panas igo nakal terbaru 2017 yang telah kami sudur dari berbagai sumber blog lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *