Cerita Sex Terhot 2016 Istri Teman Akrabku

Posted on
Nonton Video Porno HD Full Movies
Blog Dewasa Terpanas Cerita Sex Terhot 2016 Istri Teman Akrabku – Cerita ngentot terhot, Sebelumnya kisah sex yang pernah saya publish Cerita Mesum 2016 Dosa Terindah Bersama AnggaCerita
sex terbaru, novel sex terlengkap, cerita dewasa terupdate, cerita
mesum terbaik, cerita ngentot terpopuler, cerita bokep terselubung,
cerita xxx, cerita ml abg perawan, cerita porno janda binal
| Kenalkan nama saya Anis, usia 40 tahun, berat badan 57 kg, rambut
hitam lurus dengan warna kulit antara kehitaman dan kemerahan. Sejak
kecil saa tergolong pendiam, kurang pergaulan dan pengalaman. Saya
berasal dari keluarga yang hidup sederhana di suatu desa agak terpencil
kurang lebih 3 km dari ibu kota kecamatanku. Saya dibesarkan oleh kedua
orangtuaku dengan 5 saudara perempuanku. Jujur saja saya adalah suku B,
yang ingin mengungkapkan pengalaman hidupku yang tergolong aneh seperti
halnya teman-teman lainnya melalui cerita porno di internet.

Singkat
cerita, setelah saya menikah dengan seorang perempuan pilihan
orangtuaku, saya mencoba hidup mandiri bersama istri sebagai bentuk rasa
tanggungjawab saya sebagai suami dan kepala rumah tangga, meskipun rasa
cintaku pada istriku tersebut belum mendalam, namun tetap saya coba
menerima kenyataan ini siapa tahu di kemudian hari saya kami bisa saling
mencintai secara penuh, lagi pula memang saya belum pernah sama sekali
jatuh cinta pada wanita manapun sebelumnya.

Cerita Sex Terhot 2016 Istri Teman Akrabku, cerita sex, cerita sex baru, cerita sex 2016, cerita sex terbaru, cerita sex terheboh, cerita sex terkini, cerita sex mesum, cerita sex dewasa, cerita sex terselubung, cerita sex tukar pasangan, cerita sex istri muda, cerita sex istri suka selingkuh, cerita sex sedarah, cerita sex perawan, cerita sex perselingkuhan, cerita sex onani, cerita sex masturbasi, cerita sex bondage, cerita sex bergambar, cerita sex bergairah, cerita sex terhangat, cerita sex terpanas, cerita sex bergambar bugil
Ilustrasi Foto Istri Muda Bugil

Kami coba mengadu
nasib di kota Kabupatenku dengan mengontrak rumah yang sangat sederhana.
Beberapa bidang usaha saya coba tekuni agar dapat menanggulangi
keperluan hidup kami sehari-hari, namun hingga kami mempunyai 3 orang
anak, nasib kami tetap belum banyak berubah. Kami masih hidup pas-pasan
dan bahkan harapanku semula untuk mempertebal kecintaanku terhadap
istriku malah justru semakin merosot saja. Untung saja, saya orangnya
pemalu dan sedikit mampu bersabar serta terbiasa dalam penderitaan,
sehingga perasaanku itu tidak pernah diketahui oleh siapapun termasuk
kedua orangtua dan saudara-saudaraku.

Entah pengaruh setan
dari mana, suatu waktu tepatnya Bulan Oktober 2003 aku sempatkan diri
berkunjung ke rumah teman lamaku sewaktu kami sama-sama di SMA dulu.
Sebut saja namanya Azis. Dia baru saja pulang dari Kalimantan bersama
dengan istrinya, yang belakangan saya ketahui kalau istrinya itu adalah
anak majikannya sewaktu dia bekerja di salah satu perusahaan swasta di
sana. Mereka juga melangsungkan perkawinan bukan atas dasar saling
mencintai, melainkan atas dasar jasa dan balas budi.

Cerita Sex – Sekitar
pukul 17.00 sore, saya sudah tiba di rumah Azis dengan naik ojek yang
jaraknya sekitar 1 km dari rumah kontrakan kami. Merekapun masih tinggal
di rumah kontrakan, namun agak besar dibanding rumah yang kami kontrak.
Maklum mereka sedikit membawa modal dengan harapan membuka usaha baru
di kota Kabupaten kami. Setelah mengamati tanda-tanda yang telah
diberitahukan Azis ketika kami ketemu di pasar sentral kota kami, saya
yakin tidak salah lagi, lalu saya masuk mendekati pintu rumah itu,
ternyata dalam keadaan tertutup.

“Dog.. Dog.. Dog.. Permisi
ada orang di rumah” kalimat penghormatan yang saya ucapkan selama 3 kali
berturut-turut sambil mengetuk-ngetuk pintunya, namun tetap tidak ada
jawaban dari dalam. Saya lalu mencoba mendorong dari luar, ternyata
pintunya terkunci dari dalam, sehingga saya yakin pasti ada orang di
dalam rumah itu. Hanya saja saya masih ragu apakah rumah yang saya ketuk
pintunya itu betul adalah rumah Azis atau bukan. Saya tetap berusaha
untuk memastikannya. Setelah duduk sejenak di atas kursi yang ada di
depan pintu, saya coba lagi ketuk-ketuk pintunya, namun tetap tidak ada
tanda-tanda jawaban dari dalam. Akhirnya saya putuskan untuk mencoba
mengintip dari samping rumah. Melalui sela-sela jendela di samping
rumahnya itu, saya sekilas melihat ada kilatan cahaya dalam ruangan
tamu, tapi saya belum mengetahui dari mana sumber kilatan cahaya itu.
Saya lalu bergeser ke jendela yang satunya dan ternyata saya sempat
menyaksikan sepotong tubuh tergeletak tanpa busana dari sebatas pinggul
sampai ujung kaki. Entah potongan tubuh laki-laki atau wanita, tapi
tampak putih mulus seperti kulit wanita.

Dalam keadaan biji
mataku tetap kujepitkan pada sela jendela itu untuk melihat lebih jelas
lagi keadaan dalam rumah itu, dibenak saya muncul tanda tanya apa itu
tubuh istrinya Azis atau Azis sendiri atau orang lain. Apa orang itu
tertidur pula sehingga tersingkap busananya atau memang sengaja
telanjang bulat. Apa ia sedang menyaksikan acara TV atau sedang memutar
VCD porno, sebab sedikit terdengar ada suara TV seolah film yang
diputar. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang selalu mengganggu pikiranku
sampai akhirnya aku kembali ke depan pintu semula dan mencoba
mengetuknya kembali. Namun baru saja sekali saya ketuk, pintunya
tiba-tiba terbuka lebar, sehingga aku sedikit kaget dan lebih kaget lagi
setelah menyaksikan bahwa yang berdiri di depan pintu adalah seorang
wanita muda dan cantik dengan pakaian sedikit terbuka karena tubuhnya
hanya ditutupi kain sarung. Itupun hanya bagian bawahnya saja.

“Selamat siang,” kembali saya ulangi kalimat penghormatan itu.

“Ya, siang,” jawabnya sambil menatap wajah saya seolah malu, takut dan kaget.

“Dari mana Pak dan cari siapa,” tanya wanita itu.

“Maaf dik, numpang tanya, apa betul ini rumah Azis,” tanya saya.

“Betul sekali pak, dari mana yah?” tanya wanita itu lemah lembut.

“Saya
tinggal tidak jauh dari sini dik, saya ingin ketemu Azis. Beliau adalah
teman lama saya sewaktu kami sama-sama duduk di SMA dulu,” lanjut saya
sambil menyodorkan tangan saya untuk menyalaminya. Wanita itu mebalasnya
dan tangannya terasa lembut sekali namun sedikit hangat.

“Oh,
yah, syukur kalau begitu. Ternyata ia punya teman lama di sini dan ia
tak pernah ceritakan padaku,” ucapannya sambil mempersilahkanku masuk.
Sayapun langsung duduk di atas kursi plastik yang ada di ruang tamunya
sambil memperhatikan keadaan dalam rumah itu, termasuk letak tempat
tidur dan TVnya guna mencocokkan dugaanku sewaktu mengintip tadi

Setelah
saya duduk, saya berniat menanyakan hubungannya dengan Azis, tapi ia
nampak buru-buru masuk ke dalam, entah ia mau berpakaian atau mengambil
suatu hidangan. Hanya berselang beberapa saat, wanita itu sudah keluar
kembali dalam keadaan berpakaian setelah tadinya tidak memakai baju,
bahkan ia membawa secangkir kopi dan kue lalu diletakkan di atas meja
lalu mempersilahkanku mencicipinya sambil tersenyum.

“Maaf
dik, kalau boleh saya tanya, apa adik ini saudara dengan Azis?” tanyaku
penuh kekhawatiran kalau-kalau ia tersinggung, meskipun saya sejak tadi
menduga kalau wanita itu adalah istri Azis.

“Saya kebetulan
istrinya pak. Sejak 3 tahun lalu saya melangsungkan pernikahan di
Kalimantan, namun Tuhan belum mengaruniai seorang anak,” jawabnya dengan
jujur, bahkan sempat ia cerita panjang lebar mengenai latar belakang
perkawinannya, asal usulnya dan tujuannya ke Kota ini.

Setelah
saya menyimak ulasannya mengenai dirinya dan kehidupannya bersama Azis,
saya dapat mengambil kesimpulan bahwa wanita itu adalah suku di
Kalimantan yang asal usul keturunannya juga berasal dari suku di
Sulawesi. Ia kawin dengan Azis atas dasar jasa-jasa dan budi baik mereka
tanpa didasari rasa cinta dan kasih sayang yang mendalam, seperti
halnya yang menimpa keluarga saya. Ia tetap berusaha dan berjuang untuk
menggali nilai-nilai cinta yang ada pada mereka berdua siapa tahu kelak
bisa dibangun. Anehnya, meskipun kami baru ketemu, namun ia seolah ingin
membeberkan segala keadaan hidup yang dialaminya bersama suami selama
ini, bahkan terkesan kami akrab sekali, saling menukar pengalaman
rahasia rumah tangga tanpa ada yang kami tutup-tupi. Lebih heran lagi,
selaku orang pendiam dan kurang pergaulan, saya justru seolah menemukan
diriku yang sebenarnya di rumah itu. Karena senang, bahagia dan asyiknya
perbincangan kami berdua, sampai-sampai saya hampir lupa menanyakan ke
mana suaminya saat ini. Setelah kami saling memahami kepribadian, maka
akhirnya sayapun menanyakan Azis (suaminya itu).

“Oh yah,
hampir lupa, ke mana Azis sekarang ini, kok dari tadi tidak kelihatan?”
tanyaku sambil menyelidiki semua sudut rumah itu.

“Kebetulan
ia pulang kampung untuk mengambil beras dari hasil panen orangtuanya
tadi pagi, tapi katanya ia tidak bermalam kok, mungkin sebentar lagi ia
datang. Tunggu saja sebentar,” jawabnya seolah tidak menghendaki saya
pulang dengan cepat hanya karena Azis tidak di rumah.

“Kalau ke kampung biasanya jam berapa tiba di sini,” tanyaku lebih lanjut.

“Sekitar
jam 8.00 atau 9.00 malam,” jawabnya sambil menoleh ke jam dinding yang
tergantung dalam ruangan itu. Padahal saat ini tanpa terasa jarum jam
sudah menunjukkan pukul 7.00 malam.

Tak lama setelah itu, ia
nampaknya buru-buru masuk ke ruang dapur, mungkin ia mau menyiapkan
makan malam, tapi saya teriak dari luar kalau saya baru saja makan di
rumah dan melarangnya ia repot-repot menyiapkan makan malam. Tapi ia
tetap menyalakan kompornya lalu memasak seolah tak menginginkan aku
kembali dengan cepat. Tak lama sesudah itu, iapun kembali duduk di depan
saya melanjutkan perbincangannya. Sayapun tak kehabisan bahan untuk
menemaninya. Mulai dari soal-soal pengalaman kami di kampung sewaktu
kecil hingga soal rumah tangga kami masing-masing.

Karena
nampaknya kami saling terbuka, maka sayapun berani menanyakan tentang
apa yang dikerjakannya tadi, sampai lama sekali baru dibukakan pintu
tanpa saya beritahu kalau saya mengintipnya tadi dari selah jendela.
Kadang ia menatapku lalu tersenyum seolah ada sesuatu berita gembira
yang ingin disampaikan padaku.

“Jadi bapak ini lama mengetuk pintu dan menunggu di luar tadi?” tanyanya sambil tertawa.

“Sekitar
30 menit barangkali, bahkan hampir saya pulang, tapi untung saya coba
kembali mengetuk pintunya dengan keras,” jawabku terus terang.

“Ha.. Ha.. Ha.. Saya ketiduran sewaktu nonton acara TV tadi,” katanya dengan jujur sambil tertawa terbahak-bahak.

“Tapi
bapak tidak sampai mengintip di samping rumah kan? Maklum kalau saya
tertidur biasanya terbuka pakaianku tanpa terasa,” tanyanya seolah
mencurigaiku tadi. Dalam hati saya jangan-jangan ia sempat melihat dan
merasa diintip tadi, tapi saya tidak boleh bertingkah yang mencurigakan.

“Ti..
Ti.. Dak mungkin saya lakukan itu dik, tapi emangnya kalau saya ngintip
kenapa?” kataku terbata-bata, maklum saya tidak biasa bohong.

“Tidak
masalah, cuma itu tadi, saya kalau tidur jarang pakai busana, terasa
panas. Tapi perasaan saya mengatakan kalau ada orang tadi yang
mengintipku lewat jendela sewaktu aku tidur. Makanya saya terbangun
bersamaan dengan ketukan pintu bapak tadi,” ulasnya curiga namun tetap
ia ketawa-ketawa sambil memandangiku.

“M.. Mmaaf dik,
sejujurnya saya sempat mengintip lewat sela jendela tadi berhubung saya
terlalu lama mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban. Jadi saya mengintip
hanya untuk memastikan apa ada atau tidak ada orang di dalam tadi. Saya
tidak punya maksud apa-apa,” kataku dengan jujur, siapa tahu ia betul
melihatku tadi, aku bisa dikatakan pembohong.

“Jadi apa yang
bapak lihat tadi sewaktu mengintip ke dalam? Apa bapak sempat melihatku
di atas tempat tidur dengan telanjang bulat?” tanyanya penuh selidik,
meskipun ia masih tetap senyum-senyum.

“Saya tidak sempat
melihat apa-apa di dalam kecuali hanya kilatan cahaya TV dan sepotong
kaki,” tegasku sekali lagi dengan terus terang.

“Tidak
apa-apa, saya percaya ucapan bapak saja. Lagi pula sekiranya bapak
melihatku dalam keadaan tanpa busana, bapak pasti tidak heran, dan bukan
soal baru bagi bapak, karena apa yang ada dalam tubuh saya tentu sama
dengan milik istri bapak, yah khan?” ulasnya penuh canda. Lalu ia
berlari kecil masuk ke ruang dapur untuk memastikan apa nasi yang
dimasaknya sudah matang atau belum.

Waktu di jam dinding menunjukkan sudah pukul 8.00, namun Azis belum
juga datang. Dalam hati kecilku, Jangan-jangan Azis mau bermalam di
kampungnya, aku tidak mungkin bermalam berdua dengan istrinya di rumah
ini. Saya lalu teriak minta pamit saja dengan alasan nanti besok saja
ketemunya, tapi istri Azis berteriak melarangku dan katanya,

“Tunggu
dulu pak, nasi yang saya masak buat bapak sudah matang. Kita makan
bersama saja dulu, siapa tahu setelah makan Azis datang, khan belum juga
larut malam, apalagi kita baru saja ketemu,” katanya penuh harap agar
aku tetap menunggu dan mau makan malam bersama di rumahnya.

Tak
lama kemudian, iapun keluar memanggilku masuk ke ruang dapur untuk
menikmati hidangan malamnya. Sambil makan, kamipun terlibat pembicaraan
yang santai dan penuh canda, sehingga tanpa terasa saya sempat
menghabiskan dua piring nasi tanpa saya ingat lagi kalau tadi saya
bilang sudah kenyang dan baru saja makan di rumah. Malu sendiri rasanya.

“Bapak
ini nampaknya masih muda. Mungkin tidak tepat jika aku panggil bapak
khan? Sebaiknya aku panggil kak, abang atau Mas saja,” ucapnya secara
tiba-tiba ketika aku meneguk air minum, sehingga aku tidak sempat
menghabiskan satu gelas karena terasa kenyang sekali. Apalagi saya mulai
terayu atau tersanjung oleh seorang wanita muda yang baru saja kulihat
sepotong tubuhnya yang mulus dan putih? Tidak, saya tidak boleh berpikir
ke sana, apalagi wanita ini adalah istri teman lamaku, bahkan rasanya
aku belum pernah berpikir macam-macam terhadap wanita lain sebelum ini.
Aku kendalikan cepat pikiranku yang mulai miring. Siapa tahu ada setan
yang memanfaatkannya.

“Bolehlah, apa saja panggilannya
terhadapku saya terima semua, asalkan tidak mengejekku. Hitung-hitung
sebagai panggilan adik sendiri,” jawabku memberikan kebebasan.

“Terima kasih Kak atau Mas atas kesediaan dan keterbukaannya” balasnya.

Setelah
selesai makan, aku lalu berjalan keluar sambil memandangi sudut-sudut
ruangannya dan aku sempat mengalihkan perhatianku ke dalam kamar
tidurnya di mana aku melihat tubuh terbaring tanpa busana tadi. Ternyata
betul, wanita itulah tadi yang berbaring di atas tempat tidur itu, yang
di depannya ada sebuah TV color kira-kira 21 inc. Jantungku tiba-tiba
berdebar ketika aku melihat sebuah celana color tergeletak di sudut
tempat tidur itu, sehingga aku sejenak membayangkan kalau wanita yang
baru saja saya temani bicara dan makan bersama itu kemungkinan besar
tidak pakai celana, apalagi yang saya lihat tadi mulai dari pinggul
hingga ujung kaki tanpa busana. Namun pikiran itu saya coba buang
jauh-jauh biar tidak mengganggu konsentrasiku.

Setelah aku
duduk kembali di kursi tamu semula, tiba-tiba aku mendengar suara TV
dari dalam, apalagi acaranya kedengaran sekali kalau itu yang main
adalah film Angling Dharma yaitu film kegemaranku. Aku tidak berani
masuk nonton di kamar itu tanpa dipanggil, meskipun aku ingin sekali
nonton film itu. Bersamaan dengan puncak keinginanku, tiba-tiba,

“Kak, suka nggak nonton filmnya Angling Dharma?” teriaknya dari dalam kamar tidurnya.

“Wah, itu film kesukaanku, tapi sayangnya TV-nya dalam kamar,” jawabku dengan cepat dan suara agak lantang.

“Masuk
saja di sini kak, tidak apa-apa kok, lagi pula kita ini khan sudah
seperti saudara dan sudah saling terbuka” katanya penuh harap.

Lalu
saya bangkit dan masuk ke dalam kamar. Iapun persilahkan aku duduk di
pinggir tempat tidur berdampingan dengannya. Aku agak malu dan takut
rasanya, tapi juga mau sekali nonton film itu.

Awalnya kami
biasa-biasa saja, hening dan serius nontonnya, tapi baru sekitar
setengah jam acara itu berjalan, tiba-tiba ia menawarkan untuk nonton
film dari VCD yang katanya lebih bagus dan lebih seru dari pada filmnya
Angling Dharma, sehingga aku tidak menolaknya dan ingin juga
menyaksikannya. Aku cemas dan khawatir kalau-kalau VCD yang ditawarkan
itu bukan kesukaanku atau bukan yang kuharapkan.

Setelah ia
masukkan kasetnya, iapun mundur dan kembali duduk tidak jauh dari tempat
dudukku bahkan terkesan sedikit lebih rapat daripada sebelumnya.
Gambarpun muncul dan terjadi perbincangan yang serius antara seorang
pria dan seorang wanita Barat, sehingga aku tidak tahu maksud
pembicaraan dalam film itu. Baru saja aku bermaksud meminta mengganti
filmnya dengan film Angling Dharma tadi, tiba-tiba kedua insan dalam
layar itu berpelukan dan berciuman, saling mengisap lidah, bercumbu
rayu, menjilat mulai dari atas ke bawah, bahkan secara perlahan-lahan
saling menelanjangi dan meraba, sampai akhirnya saya menatapnya dengan
tajam sekali secara bergantian menjilati kemaluannya, yang membuat
jantungku berdebar, tongkatku mulai tegang dan membesar, sekujur tubuhku
gemetar dan berkeringat, lalu sedikit demi sedikit aku menoleh ke arah
wanita disampingku yakni istri teman lamaku. Secara bersamaan iapun
sempat menoleh ke arahku sambil tersenyum lalu mengalihkan pandangannya
ke layar. Tentu aku tidak mampu lagi membendung birahiku sebagai pria
normal, namun aku tetap takut dan malu mengutarakan isi hatiku.

“Mas,
pak, suka nggak filmnya? Kalau nggak suka, biar kumatikan saja,”
tanyanya seolah memancingku ketika aku asyik menikmatinya.

“Iiyah, bolehlah, suka juga, kalau adik, memang sering nonton film gituan yah?” jawabku sedikit malu tapi mau dan suka sekali.

“Saya
dari dulu sejak awal perkawinan kami, memang selalu putar film seperti
itu, karena kami sama-sama menyukainya, lagi pula bisa menambah gairah
sex kami dikala sulit memunculkannya, bahkan dapat menambah pengalaman
berhubungan, syukur-syukur jika sebagian bisa dipraktekkan.

“Sungguh
kami ketinggalan. Saya kurang pengalaman dalam hal itu, bahkan baru
kali ini saya betul-betul bisa menyaksikan dengan tenang dan jelas film
seperti itu. Apalagi istriku tidak suka nonton dan praktekkan
macam-macam seperti di film itu,” keteranganku terus terang.

“Tapi kakak suka nonton dan permainan seperti itu khan?” tanyanya lagi.

“Suka sekali dan kelihatannya nikmat sekali yach,” kataku secara tegas.

“Jika
istri kakak tidak suka dan tidak mau melakukan permainan seperti itu,
bagaimana kalau aku tawarkan kerjasama untuk memperaktekkan hal seperti
itu?” tanya istri teman lamaku secara tegas dan berani padaku sambil ia
mendempetkan tubuhnya di tubuhku sehingga bisikannya terasa hangat
nafasnya dipipiku.

Tanpa sempat lagi aku berfikir panjang,
lalu aku mencoba merangkulnya sambil menganggukkan kepala pertanda
setuju. Wanita itupun membalas pelukanku. Bahkan ia duluan mencium pipi
dan bibirku, lalu ia masukkan lidahnya ke dalam mulutku sambil
digerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan, akupun membalasnya dengan lahap
sekali. Aku memulai memasukkan tangan ke dalam bajunya mencari kedua
payudaranya karena aku sama sekali sudah tidak mampu lagi menahan
birahiku, lagi pula kedua benda kenyal itu saya sudah hafal tempatnya
dan sudah sering memegangnya. Tapi kali ini, rasanya lain daripada yang
lain, sedikit lebih mulus dan lebih keras dibanding milik istriku. Entah
siapa yang membuka baju yang dikenakannya, tiba-tiba terbuka dengan
lebar sehingga nampak kedua benda kenyal itu tergantung dengan
menantang. Akupun memperaktekkan apa yang barusan kulihat dalam layar
tadi yakni menjilat dan mengisap putingnya berkali-kali seolah aku mau
mengeluarkan air dari dalamnya. Kadang kugigit sedikit dan kukunyah,
namun wanita itu sedikit mendorong kepalaku sebagai tanda adanya rasa
sakit.

Selama hidupku, baru kali ini aku melihat pemandangan
yang indah sekali di antara kedua paha wanita itu. Karena tanpa
kesulitan aku membuka sarung yang dikenakannya, langsung saja jatuh
sendiri dan sesuai dugaanku semula ternyata memang tidak ada pelapis
kemaluannya sama sekali sehingga aku sempat menatap sejenak kebersihan
vagina wanita itu. Putih, mulus dan tanpa selembar bulupun tumbuh di
atas gundukan itu membuat aku terpesona melihat dan merabanya, apalagi
setelah aku memberanikan diri membuka kedua bibirnya dengan kedua
tanganku, nampak benda kecil menonjol di antara kedua bibirnya dengan
warna agak kemerahan. Ingin rasanya aku telan dan makan sekalian, untung
bukan makanan, tapi sempat saya lahap dengan lidahku hingga
sedalam-dalamnya sehingga wanita itu sedikit menjerit dan terengah-engah
menahan rasa nikmatnya lidah saya, apalagi setelah aku menekannya
dalam-dalam.

“Kak, aku buka saja semua pakaiannya yah, biar
aku lebih leluasa menikmati seluruh tubuhmu,” pintanya sambil membuka
satu persatu pakaian yang kukenakan hingga aku telanjang bulat. Bahkan
ia nampaknya lebih tidak tahan lagi berlama-lama memandangnya. Ia
langsung serobot saja dan menjilati sekujur tubuhku, namun jilatannya
lebih lama pada biji pelerku, sehingga pinggulku bergerak-gerak
dibuatnya sebagai tanda kegelian. Lalu disusul dengan memasukkan penisku
ke mulutnya dan menggocoknya dengan cepat dan berulang-ulang,
sampai-sampai terasa spermaku mau muncrat. Untung saya tarik keluar
cepat, lalu membaringkan ke atas tempat tidurnya dengan kaki tetap
menjulang ke lantai biar aku lebih mudah melihat, dan menjamahnya.
Setelah ia terkulai lemas di atas tempat tidur, akupun mengangkanginya
sambil berdiri di depan gundukkan itu dan perlahan aku masukkan ujung
penisku ke dalam vaginanya lalu menggerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan
maju dan mundur, akhirnya dapat masuk tanpa terlalu kesulitan.

“Dik, model yang bagaimana kita terapkan sekarang? Apa kita ikuti semua posisi yang ada di layar TV tadi,” tanyaku berbisik.

“Terserah
kak, aku serahkan sepenuhnya tubuhku ini pada kakak, mana yang kakak
anggap lebih nikmat dan lebih berkesan sepanjang hayat serta lebih
memuaskan kakak,” katanya pasrah. Akupun meneruskan posisi tidur
telentang tadi sambil aku berdiri menggocok terus, sehingga menimbulkan
bunyi yang agak menambah gairah sexku.

“Ahh.. Uhh.. Ssstt..
Hmm.. Teeruus kak, enak sekali, gocok terus kakak, aku sangat
menikmatinya,” demikian pintanya sambil terengah dan berdesis seperti
bunyi jangkrik di dalam kamarnya itu.

“Dik, gimana kalau saya berbaring dan adik mengangkangiku, biar adik lebih leluasa goyangannya,” pintaku padanya.

“Aku
ini sudah hampir memuncak dan sudah mulai lemas, tapi kalau itu
permintaan kakak, bolehlah, aku masih bisa bertahan beberapa menit
lagi,” jawabnya seolah ingin memuaskanku malam itu.

Bacaan sex top: Cerita Hot Saya, Rere dan Adiknya yang Haus Sex

Tanpa kami
rasakan dan pikirkan lagi suaminya kembali malam itu, apalagi setelah
jam menunjukkan pukul 9.30 malam itu, aku terus berusaha menumpahkan
segalanya dan betul-betul ingin menikmati pengalaman bersejarah ini
bersama dengan istri teman lamaku itu. Namun sayangnya, karena keasyikan
dan keseriusan kami dalam bersetubuh malam itu, sehingga baru sekitar 3
menit berjalan dengan posisi saya di bawah dan dia di atas memompa
serta menggoyang kiri kanan pinggulnya, akhirnya spermakupun tumpah
dalam rahimnya dan diapun kurasakan bergetar seluruh tubuhnya pertanda
juga memuncak gairah sexnya. Setelah sama-sama puas, kami saling
berciuman, berangkulan, berjilatan tubuh dan tidur terlentang hingga
pagi.

Setelah kami terbangun hampir bersamaan di pagi hari,
saya langsung lompat dari tempat tidur, tiba-tiba muncul rasa takut yang
mengecam dan pikiranku sangat kalut tidak tahu apa yang harus saya
perbuat. Saya menyesal tapi ada keinginan untuk mengulanginya bersama
dengan wanita itu. Untung malam itu suaminya tidak kembali dan kamipun
berusaha masuk kamar mandi membersihkan diri. Walaupun terasa ada gairah
baru lagi ingin mengulangi di dalam kamar mandi, namun rasa takutku
lebih mengalahkan gairahku sehingga aku mengurungkan niatku itu dan
langsung pamit dan sama-sama berjanji akan mengulanginya jika ada
kesempatan. Saya keluar dari rumah tanpa ada orang lain yang melihatku
sehingga saya yakin tidak ada yang mencurigaiku. Soal istriku di rumah,
saya bisa buat alasan kalau saya ketemu dan bermalam bersama dengan
sahabat lamaku. – Situs dewasa sex online terlengkap, novel sex terupdate, novel sex
dewasa, novel xxx terbaru, novel cerita hot, novel cerita bokep, novel
cerita porno, novel mesum, novel abg ml, novel tante selingkuh, novel
janda hypersex, novel sex terpanas, novel perawan suka bugil.

Cerita
Sex / Cerita Dewasa / Cerita Mesum / Cerita Panas / Cerita Porno /
Cerita Bokep / Cerita Sex Tante / Cerita Sex ABG / Cerita Sex Janda /
Cerita Sex Perawan / Cerita HOT / Kisah Sex / Sex Bergambar / Foto Seks

Video Bokep
Gravatar Image
NovelSeks.org Merupakan media hiburan bagi orang dewasa berumur 20 tahun keatas, bagi yang belum mencapai batas umur saya mohon kesadarannya untuk segera meninggalkan blog ini. Bagi yang cukup umur silahkan menikmati sajian cerita cerita panas igo nakal terbaru 2017 yang telah kami sudur dari berbagai sumber blog lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *