Cerita Dewasa Hanya Sebuah Akal Kamu Saja

Posted on
Nonton Video Porno HD Full Movies
Cerita Dewasa Hanya Sebuah Akal Kamu Saja – Cerita ngentot terhot, Sebelumnya kisah sex yang pernah saya publish ialah Cerita Dewasa Iri Hati yang Berakibat SexCerita
sex terbaru, novel sex terlengkap, cerita dewasa terupdate, cerita
mesum terbaik, cerita ngentot terpopuler, cerita bokep terselubung,
cerita xxx terhot, cerita ml abg perawan, cerita porno janda binal
| Saya seorang pemain bola di kesebelasan tempat tinggal saya. Karena
terjadi tabrakan dengan teman, kaki saya mengalami patah tulang ringan.
Dan saya harus dirawat di rumah sakit. Saya berada di kamar kelas VIP.
Jadi saya bebas untuk melakukan apa saja. Saya sebetulnya sudah sehat,
tetapi masih belum boleh meninggalkan rumah sakit. Makanya saya bosan
tinggal disitu.

cerita dewasa, cerita dewasa 2016, cerita dewasa terbaru, cerita dewasa igo, cerita dewasa igo terbaru, cerita dewasa igo bugil, cerita dewasa igo 2016
Foto Syur IGO Cantik Masih IMUT

Pada pagi hari ketika saya sedang tidur, saya
terkejut pada saat dibangunkan oleh seorang suster. Gila..! Suster yang
satu ini cantik sekali.
“Mas Sony udah bangun ya..? Gimana tadi malam, mimpi indah..?” katanya.
“Ya
Sus, indah sekali. Saya lagi bercinta dengan cewek cantik berbaju putih
Sus..? Dan mukanya mirip Suster lho..!” kata saya menggodanya.
“Ah.. Mas Sony ini bisa aja.., habis ini Mas mandi ya..?” katanya lembut.
Lalu
dia membawa handuk kecil, sabun, wash lap, dan ember kecil. Suster itu
mulai menyingkap selimut yang saya pakai, serta melipatnya di dekat kaki
saya. Terbuka sudah seluruh tubuh telanjang saya. Saya dengan sengaja
tadi melepaskan semua baju dan celana saya. Ketika dia melihat daerah di
sekitar kemalua saya, terkejut dia, karena ukuran kelamin saya serta
kepalanya yang di luar normal. Sangat besar, mirip helm tentara NAZI
dulu.

Lalu dia mengambil wash lap dan sabun.
“Sus.. jangan pake wash lap.., geli.. saya nggak biasa. Pakai tangan suster yang indah itu saja..” kata saya memancingnya.
Suster
itu mulai dengan tanganku. Dibasuh dan disabuninya seluruh tangan saya.
Usapannya lembut sekali. Sambil dimandikan, saya pandangi wajahnya,
dadanya, cukup besar juga kalau saya lihat. Orangnya putih mulus,
tangannya lembut. Selesai dengan yang kiri, sekarang ganti tangan kanan.
Dan seterusnya ke leher dan dada. Terus diusapnya tubuh saya, sapuan
telapak tangannya lembut sekali saya rasakan, dan tidak terasa saya
memejamkan mata untuk lebih menikmati sentuhannya.

Sampai juga
akhirnya pada batang kejantanan saya, dipegangnya dengan lembut ditambah
sabun. Digosok batangnya, biji kembarnya, kembali ke batangnya. Saya
merasa tidak kuat untuk menahan supaya tetap lemas. Akhirnya batang
kemaluan saya berdiri juga. Pertama setengah tiang, lama-lama akhirnya
penuh juga dia berdiri keras.
Dia bersihkan juga sekitar kepala
meriam saya sambil berkata lirih, “Ini kepalanya besar sekali mas.. baru
kali ini saya lihat kaya gini besarnya. Dikasih makan apa sih koq bisa
gini mas..?” katanya manja.

“Sus.. enak dimandiin gini..” kata saya memancing.
Dia
diam saja, tetapi yang jelas dia mulai mengocok dan memainkan batang
kemaluan saya. Sepertinya dia suka dengan ukurannya yang menakjubkan.
“Enak Mas Sony.. kalo diginikan..?” tanyanya dengan lirikan nakal.
“Ssshh.. iya terusin ahh.. sus.. sampai keluar..” kata saya sambil menahan rasa nikmat yang tidak terkira.
Tangan
kirinya mengambil air dan membilas batang kejantanan saya yang sudah
menegang itu, kemudian disekanya dengan tangan kanannya. Kenapa kok
diseka pikir saya. Tetapi saya diam saja, mengikuti apa yang mau dia
lakukan, pokoknya jangan berhenti sampai disini saja. Bisa-bisa saya
pusing nantinya menahan nafsu yang tidak tersalurkan.

Lalu dia
dekatkan kepalanya, dan dijulurkan lidahnya. Kepala batang kejantanan
saya dijilatinya perlahan. Lidahnya mengitari kepala senjata meriam
saya. Semilyard dollar.. rasanya.. wow.. enak sekali. Lalu dikulumnya
batang kejantanan saya. Saya melihat mulutnya sampai penuh rasanya,
tetapi belum seluruhnya tenggelam di dalam mulutnya yang mungil.
Bibirnya yang tipis terayun keluar masuk saat menghisap maju mundur.

Lama juga saya dikulumi suster jaga ini, sampai akhirnya saya sudah tidak tahan lagi, dan, “Croott.. croott..” nikmat sekali.
Sperma
saya tumpah di dalam rongga mulutnya dan ditelannya habis. Sisa pada
ujung batang kemaluan pun dijilat serta dihisapnya habis.
“Sudah ya
Mas, sekarang dilanjutkan mandinya ya..?” kata suster itu, dan dia
melanjutkan memandikan kaki kiri saya setelah sebelumnya mencuci bersih
batang kejantanan saya.
Badan saya dibalikkannya dan dimandikan pula sisi belakang badan terutama punggung saya.

Selesai acara mandi.
“Nanti malam saya ke sini lagi, boleh khan Mas..?” katanya sambil membereskan barang-barangnya.
Saya
tidak bisa menjawab dan hanya tersenyum kepadanya. Saya serasa melayang
dan tidak percaya hal ini bisa terjadi. Terakhir sebelum keluar kamar
dia sempat mencium bibir saya. Hangat sekali.
“Nanti malam saya kasih yang lebih hebat.” begitu katanya seraya meninggalkan kamar saya.

Saya
pun berusaha untuk tidur. Nikmat sekali apa yang telah saya alami sore
ini. Sambil memikirkan apa yang akan saya dapatkan nanti malam, saya pun
tertidur lelap sekali. Tiba-tiba saya dibangunkan oleh suster yang tadi
lagi. Tetapi saya belum sempat menanyakan namanya. Baru setelah dia mau
keluar kamar selesai meletakkan makanan dan membangunkan saya, dia
memberitahukan namanya, rupanya Vina. Cara dia membangunkan saya cukup
aneh. Rasanya suster dimanapun tidak akan melakukan dengan cara ini. Dia
sempat meremas-remas batang kemaluan saya sambil digosoknya dengan
lembut, dan hal itu membuat saya terbangun dari tidur. Langsung saya
selesaikan makan saya dengan susah payah. Akhirnya selesai juga. Lalu
saya tekan bel.

Tidak lama kemudian datang suster yang lain, saya
meminta dia untuk menyalakan TV di atas dan mengangkat makanan saya.
Saya nonton acara-acara TV yang membosankan dan juga semua berita yang
ditayangkan tanpa konsentrasi sedikit pun.

Sekitar jam 9 malam,
suster Vita datang untuk mengobati luka saya, dan dia harus membuka
selimut saya lagi. Pada saat dia melihat alat kelamin saya, dia takjub.
“Ngga salah apa yang diomongkan temen-temen di ruang jaga..!” demikian komentarnya.
“Kenapa emangnya Sus..?” tanya saya keheranan.
“Oo.. itu tadi teman-teman bilang kalau punya Mas besar sekali kepalanya.” jawabnya.
Setelah
selesai dengan mengobati luka saya, dan dia akan meninggalkan ruangan.
Tetapi dia sempat membetulkan selimut saya, dia sempatkan mengelus
kepala batang kejantanan saya.

“Hmm.. gimana ya rasanya..?” manjanya.
Dan
saya hanya bisa tersenyum saja. Wah suster di sini gila semua ya
pikirku. Jam 22:00, kira-kira saya baru mulai tertidur. Saya mimpi indah
sekali di dalam tidur saya karena sebelum tidur tadi otak saya sempat
berpikir hal-hal yang jorok. Saya merasakan hangat sekali pada bagian
selangkangan, tepatnya pada bagian batang kemaluan saya, sampai saya
jadi terbangun. Ternyata suster Vina sedang menghisap senjata saya.
Dengan bermalas-malasan, saya menikmati terus hisapannya. Saya mulai
ikut aktif dengan meraba dadanya. Suatu lokasi yang saya anggap paling
dekat dengan jangkauan tangan saya.

Saya buka kancing atasnya,
lalu meraba dadanya di balik BH hitamnya. Terus saya mendapati segumpal
daging hangat yang kenyal. Saya menelusuri sambil meremas-remas kecil.
Sampai juga pada putingnya. Saya memilin putingnya dengan lembut dan
Suster Vina pun mendesah.
Entah berapa lama saya dihisap dan saya merabai Suster Vina, sampai dia akhirnya bilang, “Mas.. boleh ya..?” katanya memelas.
“Mangga Sus, dilanjut..?” tanya saya bingung.
Dan
tanpa menjawab dia pun meloloskan CD-nya, dilemparkan di sisi ranjang,
lalu dia naik ke ranjang dan mulai mengangkangkan kakinya di atas batang
kejantanan saya.

Dan, “Bless..” dia memasukkan kemaluan saya pada lubangnya yang hangat dan sudah basah sekali.
“Aduh.. Mas.., kontolnya hangat dan enak lho.. ohh..”
Lalu
dia pun mulai menggoyang perlahan. Pertama dengan gerakan naik turun,
lalu disusul dengan gerakan memutar. Wah.., suster ini rupanya sudah
profesional sekali. Lubang senggamanya saya rasakan masih sangat sempit,
makanya dia juga hanya berani gerak perlahan. Mungkin juga karena saya
masih sakit. Lama sekali permainan itu dan memang dia tidak mengganti
posisi, karena posisi yang memungkinkan hanya satu posisi. Saya tidur di
bawah dan dia di atas tubuh saya.

Sampai saat itu belum ada
tanda-tanda saya akan keluar, tetapi kalau tidak salah, dia sempat
mengejang sekali. Tadi di pertengahan dan lemas sebentar, lalu mulai
menggoyang lagi. Sampai tiba-tiba pintu kamarku dibuka dari luar, dan
seorang suster masuk dengan tiba-tiba. Kaget sekali kami berdua, karena
tidak ada alasan lain, jelas sekali kami sedang main. Apalagi posisinya
baju dinas Suster Vina terbuka sampai perutnya, dan BH-nya juga sudah
terlepas dan tergeletak di lantai.
Ternyata yang masuk suster Vita,
dia langsung menghampiri dan bilang, “Teruskan saja Vin.. gue cuman mau
ikutan.. memek gue udah gatel nich..!” katanya dengan santai.

Suster
Vita pun mengelus dada saya yang agak bidang, dia ciumi seluruh wajah
saya dengan lembut. Saya membalasnya dengan meremas dadanya. Dia diam
saja, lalu saya buka kancingnya, terus langsung saya loloskan pakaian
dinasnya. Saya buka sekalian BH-nya yang berenda tipis dan merangsang.
Dadanya terlihat masih sangat kencang. Tinggal CD minim yang
digunakannya yang belum saya lepaskan.

Suster Vina masih saja
dengan aksinya naik turun dan kadang berputar. Saya lihat dadanya yang
terguncang akibat gerakannya yang mulai liar. Lidah Suster Vita mulai
memasuki rongga mulut saya dan langsung saya hisap ujung lidahnya yang
menjulur itu. Tangan kiri saya mulai meraba di sekitar selangkangan
Suster Vita dari luar. Basah sudah CD-nya, dengan perlahan saya tarik ke
samping dan saya mendapatkan permukaan bulu halus menyelimuti liang
kewanitaannya. Saya elus perlahan, baru kemudian sedikit menekan. Ketemu
sudah klit-nya. Agak ke belakang saya rasakan semakin menghangat.
Tersentuh olehku kemudian liang nikmat tersebut. Saya raba sampai tiga
kali sebelum akhirnya memasukkan jari saya ke dalamnya. Saya mencoba
memasukkan sedalam mungkin jari telunjuk saya. Kemudian disusul oleh
jari tengah. Saya putar jari-jari saya di dalamnya. Baru kemudian saya
kocok keluar masuk sambil memainkan jempol saya di klit-nya.

Dia
mendesah ringan, sementara Suster Vina rebahan karena lelah di dadaku
dengan pinggulnya tiada hentinya menggoyang kanan dan kiri. Suster Vita
menyibak rambut panjang Suster Vina dan mulai menciumi punggung terbuka
itu. Suster Vina semakin mengerang, mengerang, dan mengerang, sampai
pada erangan panjang yang menandakan dia akan orgasme, dan semakin keras
goyangan pinggulnya. Sementara saya sendiri mencoba mengimbangi dengan
gerakan yang lebih keras dari sebelumnya, karena dari tadi saya tidak
dapat terlalu bergoyang, takut luka saya menjadi sakit.

Suster
Vina mengerang panjang sekali seperti orang sedang kesakitan, tetapi
juga mirip orang kepedasan. Mendesis di antara erangannya. Dia sudah
sampai rupanya, dan dia tahan dulu sementara, baru dicabutnya perlahan.
Sekarang giliran Suster Vita, dilapnya dulu batang kemaluan saya yang
basah oleh cairan kenikmatan, dikeringkan, baru dia mulai menaiki tubuh
saya.

Ketika Suster Vita telah menempati posisinya, saya melihat Suster Vina
mengelap liang kemaluannya dengan tissue yang diambilnya dari meja kecil
di sampingku. Suster Vita seakan menunggang kuda, dia menggoyang maju
mundur, perlahan tapi penuh kepastian. Makin lama makin cepat iramanya.
Sementara kedua tangan saya asyik meremas-remas dadanya yang mengembung
indah. Kenyal sekali rasanya, cukup besar ukurannya dan lebih besar dari
miliknya Suster Vina. Yang ini tidak kurang dari 36C.

Sesekali
saya mainkan putingnya yang mulai mengeras. Dia mendesis, hanya itu
jawaban yang keluar dari mulutnya. Desisan itu sungguh manja kurasakan,
sementara Suster Vina telah selesai dengan membersihkan liang hangatnya.
Kemudian dia mulai lagi mengelus-elus badan telanjang Suster Vita dan
juga memainkan rambutku, mengusapnya. Kemudian karena sudah cukup
pemanasannya, dia mulai menaiki ranjang lagi. Dikangkangkannya kakinya
yang jenjang di atas kepala saya. Setengah berjongkok gayanya saat itu
dengan menghadap tembok di atas kepala saya. Kedua tangannya berpegangan
pada bagian kepala ranjang.

Mulai disorongkannya liang
kenikmatannya yang telah kering ke mulut saya. Dengan cepat saya
julurkan lidah, lalu saya colek sekali dan menarik nafas, “Hhhmm..” bau
khas kewanitaannya. Saya jilat liangnya dengan lidah saya yang memang
terkenal panjang. Saya mainkan lidah saya, mereka berdua mengerang
bersamaan, kadang bersahutan. Saya lihat lubang pantatnya yang merah
agak terbuka, lalu saya masukkan jari jempol ke dalam lubang pantatnya.
Suster Vina merintih kecil, “Auuwww.. Mas nakal deh..!”
Lalu saya jilati lubang pantatnya yang sudah mulai basah itu, tapi kemudian, “Tuutt..!”
Saya kaget, “Suster kentut ya..?” tanya saya.
Suster Vina tertawa kecil lalu minta maaf. Lalu kembali saya teruskan jilatan saya.

Lama
sekali permainannya, sampai tiba-tiba Suster Vita mengerang besar dan
panjang serta mengejang. Setelah Suster Vita selesai, dia mencabut
batang kejantanan saya, sedang lidah saya tetap menghajar liang
kenikmatan Suster Vina. Sesekali saya menjilati klit-nya. Dia
menggelinjang setiap kali lidah saya menyentuh klit-nya. Mendengar
desisan Suster Vina sudah lemas dan beranjak turun dari posisinya, saya
menyudahi permainan ini. Saya lunglai rasanya menghabisi dua suster
sekaligus.

“Kasihan Mas Sony, nanti sembuhnya jadi lama.. soalnya ngga sempet istirahat..!” kata Suster Vina.
“Iya dan kayanya kita akan setiap malam rajin minta giliran kaya malem ini.” sahut suster Vita.
“Kalo itu dibuat system arisan saja.” kata Suster Vina sadis sekali kedengarannya.
“Emangnya gue piala bergilir apa..?” kata saya dalam hati.

Malam
itu saya tidur lelap sekali dan saya sempat minta Suster Vina
menemaniku tidur, saya berjanji tiap malam, mereka dapat giliran
menemani saya tidur, tetapi setelah mendapat jatah batin tentunya. Malam
itu kami tidur berdekapan mesra sekali seperti pengantin baru dan
sama-sama polos. Sampai jam 4 pagi, dia minta jatah tambahan dan kami
pun bermain one on one (satu lawan satu, tidak keroyokan seperti
semalam). Hot sekali dia pagi itu, karena kami lebih bebas tetapi yang
kacau adalah setelah selesai. Saya merasa sakit karena luka kaki saya
menjadi berdarah lagi. Jadi terpaksa ketahuan dech sama Suster Vita
kalau ada sesi tambahan, dan mereka berdua pun ramai-ramai mengobati
luka saya, sambil masih ingin melihat kejantanan dasyat yang meluluh
lantakkan tubuh mereka semalaman.

Setelah itu, sekitar jam 5:00,
saya kembali tidur sampai pagi jam 7:20. Saya dibangunkan untuk mandi
pagi. Mandi pagi dibantu oleh Suster Vita dan sempat dihisap sampai
keluar dalam mulutnya.

Pada pagi harinya, Dokter Vivi melihat keadaan saya.
“Gimana Mas Sony, masih sakit kakinya..?” katanya.
“Sudah lumayan Dok..!” kata saya.
Lalu, “Sekarang coba kamu tarik nafas lalu hembuskan, begitu berulang-ulang ya..!”
Dengan
stetoskopnya, Dokter Vivi memeriksa tubuh saya. Saat stetoskopnya yang
dingin itu menyentuh dada saya, seketika itu juga suatu aliran aneh
menjalar di tubuh saya. Tanpa saya sadari, saya rasakan batang
kejantanan saya mulai menegang. Saya menjadi gugup, takut kalau Dokter
Vivi tahu. Tapi untung dia tidak memperhatikan gerakan di balik selimut
saya. Namun setiap sentuhan stetoskopnya, apalagi setelah tangannya
menekan-nekan ulu hati, semakin membuat batang kejantanan saya bertambah
tegak lagi, sehingga cukup menonjol di balik selimut.

“Wah, kenapa kamu ini..? Kok itu kamu berdiri..? Terangsang saya ya..?” katanya.
Mati deh! Ternyata Dokter Vivi mengetahui apa yang terjadi diselangkangan saya. Aduh!
Lalu dia dengan tiba-tiba membuka selimut sambil berkata, “Sekarang saya mau periksa kaki mas..” katanya.
Dan, “Opss.. i did it again..!” terpampanglah kemaluan saya yang besar dihadapannya.
Gila! Dokter Vivi tertawa melihat batang kejantanan saya yang besar dan mengeras itu.
“Uh, kontol Mas besar ya..?” kata Dokter Vivi serasa mengelus kemaluan saya dengan tangannya yang halus.
Wajah
saya menjadi bersemu merah dibuatnya, sementara tanpa dapat dicegah
lagi, senjata saya semakin bertambah tegak tersentuh tangan Dokter Vivi.
Dokter Vivi masih mengelus-elus dan mengusap-usap batang kejantanan
saya itu dari pangkal hingga ujung, juga meremas-remas biji kembar saya.

“Mmm.. Mas pernah bermain..?” katanya manja.
Saya menggeleng. Saya pura-pura agar ya..ya..ya..
“Aahh..” saya mendesah ketika mulut Dokter Vivi mulai mengulum kemaluan saya.
Lalu
dengan lidahnya yang kelihatannya sudah mahir, digelitiknya ujung
kemaluan saya itu, membuat saya menggerinjal-gerinjal. Seluruh kemaluan
saya sudah hampir masuk ke dalam mulut Dokter Vivi yang cantik itu.
Dengan bertubi-tubi disedot-sedotnya kemaluan saya. Terasa geli dan
nikmat sekali.

Dokter Vivi segera melanjutkan permainannya. Ia
memasukkan dan mengeluarkan kejantanan saya dari dalam mulutnya
berulang-ulang, naik-turun. Gesekan-gesekan antara kemaluan saya dengan
dinding mulutnya yang basah membangkitkan kenikmatan tersendiri bagi
saya.
“Auuh.. aahh..” akhirnya saya sudah tidak tahan lagi.
Batang
kemaluan saya menyemprotkan sperma kental berwarna putih ke dalam mulut
Dokter Vivi. Bagai kehausan, Dokter Vivi meneguk semua cairan kental
tersebut sampai habis.
“Duh, masa baru begitu saja Mas udah keluar.” Dokter Vivi meledek saya yang baru bermain oral saja sudah mencapai klimaks.

“Dok..,
saya.. baru pertama kali.. melakukan ini..” jawab saya terengah-engah
(kena dia, tetapi memang saya akui hisapannya lebih hebat dari kedua
suster tadi malam). Dokter Vivi tidak menjawab. Ia mencopot jas
dokternya dan menyampirkannya di gantungan baju di dekat pintu. Kemudian
ia menanggalkan kaos oblong yang dikenakannya, juga celana jeans-nya.
Mata saya melotot memandangi payudara montoknya yang tampaknya seperti
sudah tidak sabar ingin meloncat keluar dari balik BH-nya yang halus.
Mata saya serasa mau meloncat keluar sewaktu Dokter Vivi mencopot BH-nya
dan memelorotkan CD-nya. Astaga! Sungguh besar namun terpelihara dan
kencang. Tidak ada tanda-tanda kendor atau lipatan-lipatan lemak di
tubuhnya. Demikian pula pantatnya. Masih menggumpal bulat yang montok
dan kenyal. Benar-benar tubuh paling sempurna yang pernah saya lihat
selama hidup ini. Saya merasakan batang kejantanan saya mulai bangkit
lebih tinggi menyaksikan pemandangan yang teramat indah ini.

Dokter
Vivi kembali menghampiri saya. Ia menyodorkan payudaranya yang
menggantung kenyal ke wajah saya. Tanpa mau membuang waktu, saya
langsung menerima pemberiannya. Mulut saya langsung menyergap payudara
nan indah ini. Sambil menyedot-nyedot puting susunya yang amat tinggi
itu, mengingatkan saya ketika menyusu pada kedua suster tadi malam.
“Uuuhh..
Aaah..” Dokter Vivi mendesah-desah tatkala lidah saya menjilat-jilati
ujung puting susunya yang begitu tinggi menantang.
Saya permainkan
puting susu yang memang amat menggiurkan ini dengan bebasnya.
Sekali-sekali saya gigit puting susunya itu. Tidak cukup keras memang,
namun cukup membuat Dokter Vivi menggelinjang sambil meringis-ringis.

Tidak
lama kemudian, saya menarik tangan Dokter Vivi agar ikut naik ke atas
tempat tidur. Dokter Vivi memahami apa maksud saya. Ia langsung naik ke
atas tubuh saya yang terbaring telentang di tempat tidur. Perlahan-lahan
dengan tubuh sedikit menunduk, ia mengarahkan kemaluan saya ke lubang
kewanitaannya yang di sekelilingnya ditumbuhi bulu-bulu lebat kehitaman.
Lalu dengan cukup keras, setelah batang kejantanan saya sudah masuk 2
cm ke dalam liang senggamanya, ia menurunkan pantatnya, membuat senjata
saya hampir tertelan seluruhnya di dalam lubang surganya. Saya melenguh
keras dan menggerinjal-gerinjal cukup kencang waktu ujung kepala
kemaluan saya menyentuh pangkal rahim Dokter Vivi. Menyadari bahwa saya
mulai terangsang, Dokter Vivi menambah kualitas permainannya. Ia
menggerak-gerakkan pantatnya, berputar-putar ke kiri ke kanan dan naik
turun ke atas ke bawah. Begitu seterusnya berulang-ulang dengan tempo
yang semakin lama semakin tinggi. Membuat tubuh saya menjadi meregang
merasakan nikmat yang bukan main.

Bacaan sex top: Cerita Dewasa Bercinta Sama Ibu Guru Sampai Hamil

Saya merasa sudah hampir tidak
tahan lagi. Batang keperkasaan saya sudah nyaris menyemprotkan cairan
kenikmatan lagi. Namun saya mencoba menahannya sekuat tenaga dan mencoba
mengimbangi permainan Dokter Vivi yang liar itu.
Akhirnya, “Aaahh..” jerit saya.
“Ouuhh..!” desah Dokter Vivi.
Dokter
Vivi dan saya menjerit keras. Kami berdua mencapai klimaks hampir
bersamaan. Saya menyemprotkan air mani saya di dalam liang rahim Dokter
Vivi yang masih berdenyut-denyut menjepit keperkasaan saya yang masih
kelihatan tegang itu.

Lalu, wajah, mata, dahi, hidung saya habis diciumi oleh Dokter Vivi sambil berkata, “Terima kasih Mas Sony, ohh.. endangg..!”
Kami
tidak lama kemudian tertidur dalam posisi yang sama, yaitu kakinya
melingkar di pinggang saya sambil memeluk tubuh saya dengan hangat. Nah
itulah cerita saya.  – Situs dewasa sex online terlengkap, novel sex terupdate, novel sex
dewasa, novel xxx terbaru, novel cerita hot, novel cerita bokep, novel
cerita porno, novel mesum, novel abg ml, novel tante selingkuh, novel
janda hypersex, novel sex terpanas, novel perawan suka bugil.

Cerita
Sex / Cerita Dewasa / Cerita Mesum / Cerita Panas / Cerita Porno /
Cerita Bokep / Cerita Sex Tante / Cerita Sex ABG / Cerita Sex Janda /
Cerita Sex Perawan / Cerita HOT / Kisah Sex / Sex Bergambar / Foto Seks

Video Bokep
Gravatar Image
NovelSeks.org Merupakan media hiburan bagi orang dewasa berumur 20 tahun keatas, bagi yang belum mencapai batas umur saya mohon kesadarannya untuk segera meninggalkan blog ini. Bagi yang cukup umur silahkan menikmati sajian cerita cerita panas igo nakal terbaru 2017 yang telah kami sudur dari berbagai sumber blog lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *