Cerita Dewasa Pemerkosaan Terganas 2016

Posted on
Cerita Dewasa Pemerkosaan Terganas 2016 – Cerita ngentot terhot, Sebelumnya kisah sex yang pernah saya publish ialah Cerita Dewasa Anakku Jadi Sarana PelampiasankuCerita
sex terbaru, novel sex terlengkap, cerita dewasa terupdate, cerita
mesum terbaik, cerita ngentot terpopuler, cerita bokep terselubung,
cerita xxx, cerita ml abg perawan, cerita porno janda binal
| “Bung, sekarang giliran kamu. Hayoh! Jangan sungkan-sungkan!”

Saat
aku menatap tubuh telanjang di atas tempat tidur itu, terus terang rasa
tidak tegaku muncul. Gadis itu masih terlalu kecil, kataku dalam hati.
Payudaranya saja belum tumbuh benar. Tapi lendir-lendir basah keputihan
yang mengalir dari liang kemaluannya itu berkata lain.

cerita dewasa, cerita dewasa 2016, cerita dewasa terbaru, cerita dewasa igo, cerita dewasa igo terbaru, cerita dewasa igo bugil, cerita dewasa igo 2016
Ilustrasi Foto Pemerkosaan Gadis ABG Binal Tercantik

“Tunggu apa lagi? Hayoh! Kalau tidak mau ya, jangan di sini!”

Gadis
kecil itu membuka sedikit kelopak matanya. Aku terenyuh saat
menyaksikan matanya seolah memohon agar penderitaannya segera diakhiri.
Ia harus pulang, kata matanya, ia harus menyetor lembar puluhan ribu itu
pada ibunya. Ia harus membayar untuk keperluan sekolahnya. Tapi ia
masih terlalu kecil, lagi kata hatiku berseru. Kamu punya otak? Punya
hati nurani? Otak mungkin sudah terbang, saat aku mendekati gadis kecil
itu. Tapi nurani masih ada Bung, karena itu aku menutup mata.

“Hkk..” gadis kecil itu mengerang saat batang kemaluanku menusuk masuk.

Licin, gumamku dalam hati. Beberapa orang tertawa di belakangku.

“Begitu baru bagus. Hayoh..! Sikat dia! Tancap terus sampai mampus!”

Aku
menggerakkan pinggulku tanpa perasaan. Tidak sekali pun kubuka mata
ini. Sebab kalau kubuka dan aku melihat wajahnya yang meringis itu, aku
pasti akan segera melarikan diri.

“Hayoh..! Hahaha..! Hayoh..!”

Laki-laki
yang suka berseru “Hayoh!” itu bernama Jomblang. Jelas-jelas itu nama
panggilan. Nama aslinya aku tidak tahu, karena aku baru mengenalnya
malam itu, saat aku dan teman-temanku bersenda gurau di sebuah warung
kopi. Sayang, saat Erwin menyapanya, aku tidak melihat gadis kecil itu
berdiri di belakangnya. Lihatlah sekarang, apa yang sedang kulakukan.
Aku sedang bersetubuh dengan seorang bocah ingusan yang kukira usianya
terpaut dua puluh tahun denganku.

“AKK..! AKK..!” begitu aku mendengarnya memekik-mekik.

Suara tawa sahabat-sahabatku, beserta teriakan-teriakan penambah semangat mereka masih juga dapat kudengar.

“Hayoh..! Sikat, Bleh..!” juga suara si Jomblang yang parau itu.

Aku
heran, kenapa juga tadi aku mau diajak ke rumah ini. Kenapa juga tadi
aku mau disuruh masuk ke dalam kamar untuk menyaksikan semuanya. Dan
kenapa aku mau pula saat disuruh ‘melakukan’?

“Ampun, Oom..! Ampun..!” tiba-tiba aku mendengar si gadis kecil merengek.

Tidak
tahan, kubuka mataku. Benar juga. Hatiku pilu seketika. Ternyata gadis
kecil itu sedang menangis sesunggukan. Beban lima lelaki pasti terlalu
berat untuknya.

“Lihat! Dia minta ampun! Hahaha..!” suara si Jomblang terdengar lagi, tawanya semakin keras.

Aku
berhenti menggerakkan pantatku. Ya. Aku berhenti. Kupandangi gadis itu
yang sudah diam dalam-dalam. Kelopak matanya yang tadi terpejam juga
membuka. Dan ia menatapku di balik genangan air matanya.

“Oom..”

“Hayoh..! Kenapa berhenti?”

“Sudah, Blang, sudah. Kasihan itu anak kecil.”

Saat aku menoleh, kulihat salah seorang temanku memegangi pundak si Jomblang. Tetapi orang berwajah liar itu langsung menepis.

“Edan! Masa cuma segitu? Hayoh! Terus lagi..!”

Aku kembali berpaling ke arah si gadis kecil. Hatiku merasa iba. Gadis kecil itu memejamkan matanya. Ia begitu pasrah.

Sorakan si Jomblang kembali terdengar saat aku bergerak lagi, “Hayoh..! Hayoh..! Hayoh..!”

Hayoh
kepalamu, pikirku berang. Tapi aku bergerak juga. Akhirnya, aku tidak
tahan lagi. Kutarik batang kemaluanku dan ejakulasi di atas bulu
kemaluannya yang jarang-jarang itu. Sorakan-sorakan menghilang, juga
hayoh-hayoh. Semua seolah meresapi kejadian itu. Bangsat..! Batinku
dalam hati. Bukan pada si hayoh-hayoh itu. Tapi pada diriku sendiri.

“Bagus, Bung. Anda luar biasa..!” si Jomblang menepuk pundakku dari belakang.

Saat
kubalikkan tubuh, teman-temanku berkerenyit dengan menggeleng. Erwin
tampak menyiratkan rasa penyesalan itu di bibirnya yang tergigit.
Selebihnya, hanya si hayoh-hayoh yang terkekeh-kekeh. Mengapa
orang-orang ini begitu takut pada si liar itu, tanyaku dalam hati.
Hatiku terasa kecut saat menyadari bahwa aku juga takut.

“Blang, kami pulang dulu.” akhirnya Erwin membuat semua orang selain si hayoh, bernafas lega.

Tanpa memperhatikan, Jomblang mengayunkan lengan.

“Hahaha. Oke, oke. Terima kasih dan hati-hati di jalan.”

Aku
berharap dia mati ditabrak bus nyasar saat ia keluar wisma nanti.
Bodoh, itu tidak akan terjadi. Sementara di depan mataku, yang terjadi
saat itu si Jomblang sudah menindih tubuh gadis kecil itu dan
menciuminya dari jidat ke payudara. Monyet, umpatku sekali lagi sebelum
meninggalkan tempat itu.

Selama perjalanan pulang, tidak ada
seorang pun dari kami berempat yang mengeluarkan suara. Semuanya sibuk
dengan ingatan akan dosa masing-masing. Oke, kami tadi baru saja
menggauli beramai-ramai seorang gadis di bawah umur. Menggelikan
mengingat perut-perut buncit kami yang seharusnya kenyang berisi
pengalaman tentang getir hidup. Seorang bocah dan lima lelaki? Sinting!
Tapi itulah yang teradi belasan menit yang lalu.

“Hati-hati, Ton.”

“Iya, kalian juga,” balasku dengan memaksa diri untuk tersenyum.

Panther kelabu itu segera melaju dari hadapanku. Saat kubalikkan tubuh, yang kutatap pertama kali adalah rasa menyesal.

Rumah
benar-benar sepi saat aku masuk. Lampu ruang tamu dan ruang tengah juga
sudah dimatikan. Jam di atas TV menunjukkan pukul setengah dua pagi.
Berusaha tidak menimbulkan kegaduhan, aku melepas sepatu kerja yang
kukenakan, lalu menuju ke kamar tidur.

“Pa..?” wanita itu, isteriku, membalikkan tubuh saat aku menutup pintu.

“Belum tidur, Ma..?” tanyaku sambil tersenyum. Ia menggelengkan kepala.

“Dari mana..?”

Dari memperkosa seorang bocah, kata hatiku.

“Dari jalan-jalan. Dengan yang lainnya,” jawabku seraya melepas kemeja dan celana.

“Minum..?” kudengar wanita itu bertanya lagi.

“Tidak, hanya kopi.” kataku.

Kuraih sebuah kaos dan celana pendek.

“Sini..!” bisiknya setelah aku berpakaian.

Saat aku tiba di pinggir tempat tidur, ia merentangkan kedua tangannya.

“Aku mau memelukmu. Pelukan selamat datang.” bisiknya seraya tersenyum.

Kubalas senyumannya, lalu menjatuhkan tubuhku di atas tempat tidur, ke dalam pelukannya.

“Capek?” ia bertanya.

Tangannya memijat dada dan pangkal lengan kiriku. Aku mengangguk. Capeknya bukan di otot, Ma. Tapi di hati.

“Mau aku.. mm..?”

Kupegang tangannya saat ia mulai mengelus bagian bawah pusarku.

“Aku mau keluar sebentar.” ucapku, mencoba untuk tersenyum.

Wanita itu mengangguk.

Aku
bangkit dari tempat tidur, lalu melangkah keluar kamar. Bingung. Apa
yang harus kulakukan? Kulangkahkan kakiku menuju dapur, membuka kulkas,
dan mengeluarkan botol jus melon yang isinya masih tersisa sepertiga.
Jus melon itu membuat tenggorokanku yang kering menjadi lebih segar.
Begitu pula otakku. Mungkin kalau ada jus melon penghilang rasa
bersalah, akan sangat berguna saat itu. Tanpa sadar, kesegaran itu
membawa kakiku melangkah melintasi lorong rumah. Saat kubuka pintu kamar
berwarna merah jambu itu, aku tersenyum. Kamar itu terasa hangat
sekali.

Aku tidak berani menyalakan lampu. Takut kalau
bidadari kecil itu terbangun nantinya. Jadi kubiasakan pandanganku dalam
gelap, sebelum melangkah lebih dekat, sampai ke pinggir tempat tidur.
Angin dari AC ini dingin sekali, pikirku dalam hati. Aku membalikkan
tubuhku dan menuju AC yang mendengung di belakangku. Aku sedikit heran
saat melihat tombol sudah menunjuk ke LOW. Belum ada kontrol temperatur
seperti AC di kamarku sendiri. AC tua ini masih bagus, selalu begitu
kataku pada isteriku.

Masih merasa dingin dan bingung, aku
mengangkat bahu dan melangkah mendekati tempat tidur. Senyumku
mengembang saat melihatnya. Bidadari kecilku, bisikku dalam hati. Masih
tersenyum, kuangkat selimut yang menutup sampai ke pundaknya. Dan
bidadari kecilku menggeliat, menyadari kehadiran bapaknya.

Aku
meloncat mundur dan memegangi tembok. Wajah gadis itu..! Gadis itu..!
Gadis itu menyeringai ke arahku. Matanya membeliak mengerikan. Bola mata
seolah hendak melompat dari situ. Ia menyeringai menampakkan deretan
giginya yang kuning. Lalu matanya memutih dan seringainya hilang,
berganti dengan mulut yang setengah membuka.

“AKK..! AKK..!” desahan itu menggema di kepalaku.

“Tidak..!” aku berbisik dan menutup telingaku. Kupejamkan mata.

Saat
aku membuka mata, hanya dengung AC dan keremangan yang menyambutku.
Keringat dingin mengucur di dahiku. Bulu tengkuk yang sedetik lalu
berdiri sudah kembali lemas. Tapi jantungku masih berdegup kencang.
Kuberanikan diri untuk kembali mendekat. Kuhembuskan napas lega saat
melihat bidadari kecilku di sana. Masih tetap cantik dan molek, mirip
ibunya. Tersenyum lega, kubetulkan tepian selimut yang menutupi
tubuhnya. Saat itu mendadak hawa dingin kurasakan lagi. Kali ini lebih
dingin. Berkerenyit ngeri, aku membalikkan tubuh menuju pintu keluar.
Mirip kucing kena air, aku menutup pintu dan cepat-cepat kembali ke
kamarku sendiri.

Isteriku menyambutku dengan wajah heran.

“Dari mana saja, Pa? Tadi aku mendengar suara. Papa baik-baik saja?”

Aku
tidak tahu harus mengatakan apa. Aku hanya memandang ke arahnya dengan
pandangan kosong. Saat aku berhasil menguasai ketakutanku. Sedih muncul.
Rasa bersalah muncul.

“Aku akan menjadi Papa yang baik,” begitu aku berkata padanya saat bidadari itu lahir ke dunia.

Aku masih mengingatnya dengan baik sekali. Dan waktu itu ia berkata, “Aku percaya padamu, Pa.”

Semuanya terasa menjadi sebuah kebohongan besar sekarang. Jadi bohong setelah bertahun-tahun tampak nyata.

Aku
tidak sadar bagaimana ia mendadak ada di hadapanku. Isteriku mengangkat
tangan dan menempelkan punggung telapaknya di keningku.

“Kamu berkeringat. Kamu sakit?” ucapnya dengan nada khawatir.

Kugelengkan kepala. “Tidak, aku tidak apa-apa.”

Lagi-lagi sebuah dusta. Entah berapa banyak lagi yang akan mengalir dari mulutku. Aku tidak tahu.

Isteriku
lalu mencium bibirku. Aku merinding saat kusadari apa yang ia mau
dariku saat itu. Tapi tubuhku tidak kuasa menahan gejolak yang
ditimbulkannya. Dari gesekan-gesekan buah dadanya. Dari caranya memeluk
dan mempermainkan cuping telingaku.

Tidak berapa lama
kemudian, kami sudah bergulat tanpa busana di ranjang. Menggeluti satu
dengan lainnya seperti ular, dengan tangan dan kaki. Bibir saling
berpagutan. Tangannya bergerak aktif membelai bagian-bagian tubuhku. Aku
pun tidak kalah sengit. Semakin bernafsu memainkan jemariku di dalam
liang kewanitaannya. Masih berpagutan, ia tersenyum. Matanya yang semula
mengatup menatapku mesra.

Sedetik setelah aku tersenyum,
isteriku mendorong pundakku lalu mengangkangi tubuhku. Tidak tahan
dengan sensasi yang muncul kala batang kemaluanku didudukinya, aku
mengerang dan membusurkan punggungku. Isteriku bergerak-gerak maju
mundur di atasku.

“Ahh.. ahh..!” erangannya dan eranganku menyatu.

“Ahh.. ah.. AKK..! AKK..!”

Aku membuka mata, membelalak ngeri.

GADIS
ITU..! GADIS ITU..! IA DI ATASKU SEKARANG..! Ia menyeringai.
Menyeringai jahat. Matanya membeliak, bolanya hendak melompat keluar.
Kemudian matanya memutih, dan bibirnya setengah membuka. Hawa terasa
dingin sekali seketika.

“AKK..! AKK..!”

“Aaarrgghh..!” aku berteriak sekuat tenaga.

Aku mendorong lenganku dan melontarkan tubuh itu dari atasku. Kuayunkan lenganku ke depan.

“Pergi..! Pergi..!” teriakku seraya menutup mata.

Suara benda jatuh dan erang kesakitan membuatku tersadar. Saat kubuka mataku, kulihat isteriku mengaduh di lantai.

“Ma..?” panggilku terkejut.

Isteriku masih mengelus-elus pinggulnya saat ia menatapku dengan pandangan bertanya-tanya.

“Pa..? Kenapa sih..? Ada apa..?”

Aku
menutup wajahku dan tidak tahu harus berkata apa. Kurasakan tempat
tidur bergerak saat isteriku naik. Tangannya menyisiri rambutku.

“Ada apa, Pa..? Ada masalah apa..?”

Aku
tidak dapat menceritakannya. Aku tidak mau menghancurkan segalanya. Aku
takut. Aku seorang bapak rumah tangga yang baik. Seperti yang pernah
kuucapkan dulu.

“Aku hanya lelah. Itu saja.” aku berkata, seraya menurunkan tangan dan tersenyum.

Isteriku membalas senyumanku. Ia menarik kepalaku dan menyandarkannya di dadanya.

“Maaf, Pa. Aku tak tahu. Tidur saja ya?”

Aku mengangguk. Aku memang lelah sekali. Lelah di fisik dan otakku. Kemudian aku tertidur sepuluh menit kemudian.

Bacaan sex top: Cerita Dewasa Terhot Sepupuku yang Ganjen

Di
kantor, keesokan harinya, semua tampak kusut. Semua tampak memikirkan
kejadian kemarin. Semua merasakan hal yang sama. Rasa bersalah di dalam
hati. Terutama Erwin, yang menjadi pemicu awal. Semuanya merasakan yang
sama. Dihantui. Bukan hanya aku ternyata, semuanya menatap ke arah meja.
Semuanya membaca lagi huruf demi huruf itu. Semuanya memandang ke arah
gambar yang sama. Gadis itu, siapa lagi.

SEORANG GADIS DI BAWAH UMUR MENJADI KORBAN PERKOSAAN DAN PEMBUNUHAN.

Saat
itu semuanya sadar. Rasa bersalah itu akan tetap ada. Rasa bersalah dan
kengerian. Rasa menyesal saat kami sadar bahwa kami semua punya waktu
untuk menghentikan segalanya. Waktu yang lenyap karena kebutaan, karena
takut yang menopengi birahi setan dan iblis. Gadis itu pasti menyalahkan
kami. Arwahnya pasti. Karena kami ikut menidurinya. Ikut meniduri calon
bangkai itu. Bocah yang itu. Gadis yang itu.

Dalam hatiku bertanya-tanya. Pertanyaan serupa yang kukira mereka ajukan pula di benak mereka.

“Aku tidur dengan siapa malam nanti.. apakah ia akan muncul lagi.. apakah aku bisa tenang malam ini.. lalu.. lalu.. dan lalu..?” – Situs dewasa sex online terlengkap, novel sex terupdate, novel sex
dewasa, novel xxx terbaru, novel cerita hot, novel cerita bokep, novel
cerita porno, novel mesum, novel abg ml, novel tante selingkuh, novel
janda hypersex, novel sex terpanas, novel perawan suka bugil.

Cerita
Sex / Cerita Dewasa / Cerita Mesum / Cerita Panas / Cerita Porno /
Cerita Bokep / Cerita Sex Tante / Cerita Sex ABG / Cerita Sex Janda /
Cerita Sex Perawan / Cerita HOT / Kisah Sex / Sex Bergambar / Foto Seks

cerita xxx igo
Gravatar Image
NovelSeks.org Merupakan media hiburan bagi orang dewasa berumur 20 tahun keatas, bagi yang belum mencapai batas umur saya mohon kesadarannya untuk segera meninggalkan blog ini. Bagi yang cukup umur silahkan menikmati sajian cerita cerita panas igo nakal terbaru 2017 yang telah kami sudur dari berbagai sumber blog lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *