Cerita Dewasa Hot Terpanas Penghibur Hati yang Sepi

Posted on
Cerita Dewasa Hot Terpanas Penghibur Hati yang Sepi – Cerita ngentot terhot, Sebelumnya kisah sex yang pernah saya publish ialah Cerita Dewasa Baru Liarnya Hubungan Sex DenganmuCerita
sex terbaru, novel sex terlengkap, cerita dewasa terupdate, cerita
mesum terbaik, cerita ngentot terpopuler, cerita bokep terselubung,
cerita xxx terhot, cerita ml abg perawan, cerita porno janda binal
| Ditinggal mati oleh isteri di usia 39 tahun bukan hal yang menyenangkan.
Namaku Ardy, berasal dari kawasan Timur Indonesia, tinggal di Surabaya.
Isteriku Lia yang terpaut lima tahun dariku telah dipanggil menghadap
hadirat penciptanya. Tinggal aku seorang diri dengan dua orang anak yang
masih membutuhkan perhatian penuh.

Cerita Sex Hot Terpanas 2016 Penghibur Hati yang Sepi
cerita dewasa, cerita dewasa 2016, cerita dewasa terbaru, cerita dewasa igo, cerita dewasa igo terbaru, cerita dewasa igo bugil, cerita dewasa igo 2016
Ilustrasi Foto Wanita Setengah Baya Muda Cantik Seksi Hot Terbaru 2016

Novel Seks – Aku harus menjadi ayah sekaligus ibu
bagi mereka. Bukan hal yang mudah. Sejumlah teman menyarankan untuk
menikah lagi agar anak-anak memperoleh ibu baru. Anjuran yang bagus,
tetapi saya tidak ingin anak-anak mendapat seorang ibu tiri yang tidak
menyayangi mereka. Karena itu aku sangat hati-hati.

Kehadiran
anak-anak jelas merupakan hiburan yang tak tergantikan. Anita kini
berusia sepuluh tahun dan Marko adiknya berusia enam tahun. Anak-anak
yang lucu dan pintar ini sangat mengisi kekosonganku. Namun kalau
anak-anak lagi berkumpul bersama teman-temannya, kesepian itu senantiasa
menggoda. Ketika hari telah larut malam dan anak-anak sudah tidur,
kesepian itu semakin menyiksa.

Sejalan dengan itu, nafsu birahiku yang
tergolong besar itu meledak-ledak butuh penyaluran. Beberapa teman
mengajakku mencari wanita panggilan tetapi aku tidak berani. Resiko
terkena penyakit mengendurkan niatku. Terpaksa aku bermasturbasi. Sesaat
aku merasa lega, tetapi sesudah itu keinginan untuk menggeluti tubuh
seorang wanita selalu muncul di kepalaku.

Tidak terasa tiga bulan
telah berlalu. Perlahan-lahan aku mulai menaruh perhatian ke
wanita-wanita lain. Beberapa teman kerja di kantor yang masih lajang
kelihatannya membuka peluang. Namun aku lebih suka memiliki mereka
sebagai teman. Karena itu tidak ada niat untuk membina hubungan serius.
Di saat keinginan untuk menikmati tubuh seorang wanita semakin
meningkat, kesempatan itu datang dengan sendirinya.

Senja itu di
hari Jumat, aku pulang kerja. Sepeda motorku santai saja kularikan di
sepanjang Jalan Darmo. Maklum sudah mulai gelap dan aku tidak
terburu-buru. Di depan hotel Mirama kulihat seorang wanita kebingungan
di samping mobilnya, Suzuki Baleno. Rupanya mogok. Kendaraan-kendaraan
lain melaju lewat, tidak ada orang yang peduli. Ia menoleh ke kiri dan
ke kanan, tidak tahu apa yang hendak dilakukan. Rupanya mencari bantuan.
Aku mendekat.

“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanyaku sopan.

Ia terkejut dan menatapku agak curiga. Saya memahaminya. Akhir-akhir ini banyak kejahatan berkedok tawaran bantuan seperti itu.

“Tak usah takut, Mbak”, kataku.”Namaku Ardy. Boleh saya lihat mesinnya?”

Walaupun
agak segan ia mengucapkan terima kasih dan membuka kap mesinnya.
Ternyata hanya problema penyumbatan slang bensin. Aku membetulkannya dan
mesin dihidupkan lagi. Ia ingin membayar tetapi aku menolak. Kejadian
itu berlalu begitu saja. Tidak kuduga hari berikutnya aku bertemu lagi
dengannya di Tunjungan Plaza. Aku sedang menemani anak-anak
berjalan-jalan ketika ia menyapaku. Kuperkenalkan dia pada anak-anak. Ia
tersenyum manis kepada keduanya.

“Sekali lagi terima kasih untuk bantuan kemarin sore”, katanya,”Namaku Mei. Maaf, kemarin tidak sempat berkenalan lebih lanjut.”
“Aku Ardy”, sahutku sopan.

Harus
kuakui, mataku mulai mencuri-curi pandang ke seluruh tubuhnya. Wanita
itu jelas turunan Cina. Kontras dengan pakaian kantor kemarin, ia
sungguh menarik dalam pakaian santainya. Ia mengenakan celana jeans biru
agak ketat, dipadu dengan kaos putih berlengan pendek dan leher rendah.
Pakaiannya itu jelas menampilkan keseksian tubuhnya. Buah dadanya yang
ranum berukuran kira-kira 38 menonjol dengan jujurnya, dipadu oleh
pinggang yang ramping. Pinggulnya bundar indah digantungi oleh dua
bongkahan pantat yang besar.

“Kok bengong”, katanya tersenyum-senyum,”Ayo minum di sana”, ajaknya.

Seperti
kerbau dicocok hidungnya aku menurut saja. Ia menggandeng kedua anakku
mendahului. Keduanya tampak ceria dibelikan es krim, sesuatu yang tak
pernah kulakukan. Kami duduk di meja terdekat sambil memperhatikan
orang-orang yang lewat.

“Ibunya anak-anak nggak ikut?” tanyanya.

Aku tidak menjawab. Aku melirik ke kedua anakku, Anita dan Marko. Anita menunduk menghindari air mata.

“Ibu sudah di surga, Tante”, kata Marko polos. Ia memandangku.
“Isteriku sudah meninggal”, kataku. Hening sejenak.
“Maaf”, katanya,”Aku tidak bermaksud mencari tahu”, lanjutnya dengan rasa bersalah.

Pokok
pembicaraan beralih ke anak-anak, ke sekolah, ke pekerjaan dan
sebagainya. Akhirnya aku tahu kalau ia manajer cabang satu perusahaan
pemasaran tekstil yang mengelola beberapa toko pakaian. Aku juga
akhirnya tahu kalau ia berusia 32 tahun dan telah menjanda selama satu
setengah tahun tanpa anak. Selama pembicaraan itu sulit mataku terlepas
dari bongkahan dadanya yang menonjol padat. Menariknya, sering ia
menggerak-gerakkan badannya sehingga buah dadanya itu dapat lebih
menonjol dan kelihatan jelas bentuknya. Beberapa kali aku menelan air
liur membayangkan nikmatnya menggumuli tubuh bahenol nan seksi ini.

“Nggak berpikir menikah lagi?” tanyaku.
“Rasanya nggak ada yang mau sama aku”, sahutnya.
“Ah,
Masak!” sahutku,”Aku mau kok, kalau diberi kesempatan”, lanjutku
sedikit nakal dan memberanikan diri.”Kamu masih cantik dan menarik.
Seksi lagi.”
“Ah, Ardy bisa aja”, katanya tersipu-sipu sambil menepuk tanganku. Tapi nampak benar ia senang dengan ucapanku.

Tidak
terasa hampir dua jam kami duduk ngobrol. Akhirnya anak-anak mendesak
minta pulang. Mei, wanita Cina itu, memberikan alamat rumah, nomor
telepon dan HP-nya. Ketika akan beranjak meninggalkannya ia berbisik,

“Saya menunggu Ardy di rumah.”

Hatiku
bersorak-sorak. Lelaki mana yang mau menolak kesempatan berada bersama
wanita semanis dan seseksi Mei. Aku mengangguk sambil mengedipkan mata.
Ia membalasnya dengan kedipan mata juga. Ini kesempatan emas. Apalagi
sore itu Anita dan Marko akan dijemput kakek dan neneknya dan bermalam
di sana.

“OK. Malam nanti aku main ke rumah”, bisikku juga, “Jam tujuh aku sudah di sana.” Ia tersenyum-senyum manis.

Sore
itu sesudah anak-anak dijemput kakek dan neneknya, aku membersihkan
sepeda motorku lalu mandi. Sambil mandi imajinasi seksualku mulai
muncul. Bagaimana tampang Mei tanpa pakaian? Pasti indah sekali tubuhnya
yang bugil. Dan pasti sangatlah nikmat menggeluti dan menyetubuhi tubuh
semontok dan selembut itu. Apalagi aku sebetulnya sudah lama ingin
menikmati tubuh seorang wanita Cina. Tapi apakah ia mau menerimaku?
Apalagi aku bukan orang Cina. Dari kawasan Timur Indonesia lagi. Kulitku
agak gelap dengan rambut yang ikal. Tapi.. Peduli amat. Toh ia yang
mengundangku. Andaikata aku diberi kesempatan, tidak akan kusia-siakan.
Kalau toh ia hanya sekedar mengungkapkan terima kasih atas pertolongaku
kemarin, yah tak apalah. Aku tersenyum sendiri.

Jam tujuh lewat
lima menit aku berhasil menemukan rumahnya di kawasan Margorejo itu.
Rumah yang indah dan mewah untuk ukuranku, berlantai dua dengan lampu
depan yang buram. Kupencet bel dua kali. Selang satu menit seorang
wanita separuh baya membukakan pintu pagar. Rupanya pembantu rumah
tangga.

“Pak Ardy?” ia bertanya, “Silahkan, Pak. Bu Mei menunggu di dalam”, lanjutnya lagi.

Aku
mengikuti langkahnya dan dipersilahkan duduk di ruang tamu dan iapun
menghilang ke dalam. Selang semenit, Mei keluar. Ia mengenakan baju dan
celana santai di bawah lutut. Aku berdiri menyambutnya.

“Selamat datang ke rumahku”, katanya.

Ia
mengembangkan tangannya dan aku dirangkulnya. Sebuah ciuman mendarat di
pipiku. Ini ciuman pertama seorang wanita ke pipiku sejak kematian
isteriku. Aku berdebaran. Ia menggandengku ke ruang tengah dan duduk di
sofa yang empuk. Mulutku seakan terkunci. Beberapa saat bercakap-cakap,
si pembantu rumah tangga datang menghantar minuman.

“Silahkan diminum, Pak”, katanya sopan, “Aku juga sekalian pamit, Bu”, katanya kepada Mei.
“Makan sudah siap, Bu. Saya datang lagi besok jam sepuluh.”
“Biar masuk sore aja, Bu”, kata Mei, “Aku di rumah aja besok. Datang saja jam tiga-an.”

Pembantu itu mengangguk sopan dan berlalu.

“Ayo minum. Santai aja, aku mandi dulu”, katanya sambil menepuk pahaku.

Tersenyum-senyum
ia berlalu ke kamar mandi. Di saat itu kuperhatikan. Pakaian santai
yang dikenakannya cukup memberikan gambaran bentuk tubuhnya. Buah
dadanya yang montok itu menonjol ke depan laksana gunung. Pantatnya yang
besar dan bulat berayun-ayun lembut mengikuti gerak jalannya. Pahanya
padat dan mulus ditopang oleh betis yang indah.

“Santai saja, anggap di rumah sendiri”, lanjutnya sebelum menghilang ke balik pintu.

Dua
puluh menit menunggu itu rasanya seperti seabad. Ketika akhirnya ia
muncul, Mei membuatku terkesima. Rambutnya yang panjang sampai di
punggungnya dibiarkan tergerai. Wajahnya segar dan manis. Ia mengenakan
baju tidur longgar berwarna cream dipadu celana berenda berwarna serupa.

Tetapi
yang membuat mataku membelalak ialah bahan pakaian itu tipis, sehingga
pakaian dalamnya jelas kelihatan. BH merah kecil yang dikenakannya
menutupi hanya sepertiga buah dadanya memberikan pemandangan yang indah.
Celana dalam merah jelas memberikan bentuk pantatnya yang besar
bergelantungan. Pemandangan yang menggairahkan ini spontan mengungkit
nafsu birahiku. Kemaluanku mulai bergerak-gerak dan berdenyut-denyut.

“Aku
tahu, Ardy suka”, katanya sambil duduk di sampingku, “Siang tadi di TP
(Tunjungan Plaza) aku lihat mata Ardy tak pernah lepas dari buah dadaku.
Tak usah khawatir, malam ini sepenuhnya milik kita.”

Ia lalu
mencium pipiku. Nafasnya menderu-deru. Dalam hitungan detik mulut kami
sudah lekat berpagutan. Aku merengkuh tubuh montok itu ketat ke dalam
pelukanku. Tangaku mulai bergerilya di balik baju tidurnya mencari-cari
buah dadanya yang montok itu. Ia menggeliat-geliat agar tanganku lebih
leluasa bergerak sambil mulutnya terus menyambut permainan bibir dan
lidahku. Lidahku menerobos mulutnya dan bergulat dengan lidahnya.

Tangannya
pun aktif menyerobot T-shirt yang kukenakan dan meraba-raba perut dan
punggungku. Membalas gerakannya itu, tangan kananku mulai merayapi
pahanya yang mulus. Kunikmati kehalusan kulitnya itu. Semakin mendekati
pangkal pahanya, kurasa ia membuka kakinya lebih lebar, biar tanganku
lebih leluasa bergerak. Peralahan-lahan tanganku menyentuh gundukan
kemaluannya yang masih tertutup celana dalam tipis. Jariku menelikung ke
balik celana dalam itu dan menyentuh bibir kemaluannya. Ia mengaduh
pendek tetapi segera bungkam oleh permainan lidahku. Kurasakan badannya
mulai menggeletar menahan nafsu birahi yang semakin meningkat.

Tangannyapun
menerobos celana dalamku dan tangan lembut itu menggenggam batang
kemaluan yang kubanggakan itu. Kemaluanku tergolong besar dan panjang.
Ukuran tegang penuh kira-kira 15 cm dengan diameter sekitar 4 cm.
Senjata kebanggaanku inilah yang pernah menjadi kesukaan dan kebanggaan
isteriku. Aku yakin senjataku ini akan menjadi kesukaan Mei. Ia pasti
akan ketagihan.

“Au.. Besarnya”, kata Mei sambil mengelus lembut kemaluanku.

Elusan
lembut jari-jarinya itu membuat kemaluanku semakin mengembang dan
mengeras. Aku mengerang-ngerang nikmat. Ia mulai menjilati dagu dan
leherku dan sejalan dengan itu melepaskan bajuku. Segera setelah lepas
bajuku bibir mungilnya itu menyentuh puting susuku. Lidahnya bergerak
lincah menjilatinya. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tangannya
kembali menerobos celanaku dan menggenggam kemaluanku yang semakin
berdenyut-denyut. Aku pun bergerak melepaskan pakaian tidurnya. Rasanya
seperti bermimpi, seorang wanita Cina yang cantik dan seksi duduk di
pahaku hanya dengan celana dalam dan BH.

“Ayo ke kamar”, bisiknya, “Kita tuntaskan di sana.”

Aku
bangkit berdiri. Ia menjulurkan tangannya minta digendong. Tubuh
bahenol nan seksi itu kurengkuh ke dalam pelukanku. Kuangkat tubuh itu
dan ia bergayut di leherku. Lidahnya terus menerabas batang leherku
membuat nafasku terengah-engah nikmat. Buah dadanya yang sungguh montok
dan lembut menempel lekat di dadaku. Masuk ke kamar tidurnya, kurebahkan
tubuh itu ke ranjang yang lebar dan empuk. Aku menariknya berdiri dan
mulai melepaskan BH dan celana dalamnya.

Ia membiarkan aku
melakukan semua itu sambil mendesah-desah menahan nafsunya yang pasti
semakin menggila. Setelah tak ada selembar benangpun yang menempel di
tubuhnya, aku mundur dan memandangi tubuh telanjang bulat yang
mengagumkan itu. Kulitnya putih bersih, wajahnya bulat telur dengan mata
agak sipit seperti umumnya orang Cina. Rambutnya hitam tergerai sampai
di punggungnya. Buah dadanya sungguh besar namun padat dan menonjol ke
depan dengan puting yang kemerah-merahan. Perutnya rata dengan lekukan
pusar yang menawan. Pahanya mulus dengan pinggul yang bundar digantungi
oleh dua bongkah pantat yang besar bulat padat. Di sela paha itu kulihat
gundukan hitam lebat bulu kemaluannya. Sungguh pemandangan yang indah
dan menggairahkan birahi.

“Ngapain hanya lihat tok,” protesnya.
“Aku kagum akan keindahan tubuhmu”, sahutku.
“Semuanya ini milikmu”, katanya sambil merentangkan tangan dan mendekatiku.

Tubuh
bugil polos itu kini melekat erat ditubuhku. Didorongnya aku ke atas
ranjang empuk itu. Mulutnya segera menjelajahi seluruh dada dan perutku
terus menurun ke bawah mendekati pusar dan pangkal pahaku. Tangannya
lincah melepaskan celanaku. Celana dalamku segera dipelorotnya.
Kemaluanku yang sudah tegang itu mencuat keluar dan berdiri tegak.
Tiba-tiba mulutnya menangkap batang kemaluanku itu. Kurasakan sensai
yang luar biasa ketika lidahnya lincah memutar-mutar kemaluanku dalam
mulutnya. Aku mengerang-ngerang nikmat menahan semua sensasi gila itu.

Puas
mempermainkan kemaluanku dengan mulutnya ia melepaskan diri dan
merebahkan diri di sampingku. Aku menelentangkannya dan mulutku mulai
beraksi. Kuserga buah dada kanannya sembari tangan kananku meremas-remas
buah dada kirinya. Bibirku mengulum puting buah dadanya yang mengeras
itu. Buah dadanya juga mengeras diiringi deburan jantungnya. Puas buah
dada kanan mulutku beralih ke buah dada kiri. Lalu perlahan tetapi pasti
aku menuruni perutnya. Ia menggelinjang-linjang menahan desakan birahi
yang semakin menggila. Aku menjilati perutnya yang rata dan menjulurkan
lidahku ke pusarnya.

“Auu..” erangnya, “Oh.. Oh.. Oh..” jeritnya semakin keras.

Mulutku
semakin mendekati pangkal pahanya. Perlahan-lahan pahanya yang mulus
padat itu membuka, menampakkan lubang surgawinya yang telah merekah dan
basah. Rambut hitam lebat melingkupi lubang yang kemerah-merahan itu.
Kudekatkan mulutku ke lubang itu dan perlahan lidahku menyuruk ke dalam
lubang yang telah basah membanjir itu. Ia menjerit dan spontan duduk
sambil menekan kepalaku sehingga lidahku lebih dalam terbenam. Tubuhnya
menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Pantatnya menggeletar hebat
sedang pahanya semakin lebar membuka.

“Aaa.. Auu.. Ooo..”, jeritnya keras.

Aku
tahu tidak ada sesuatu pun yang bakalan menghalangiku menikmati dan
menyetubuhi si canting bahenon nan seksi ini. Tapi aku tak ingin
menikmatinya sebagai orang rakus. Sedikit demi sedikit tetapi sangat
nikmat. Aku terus mempermainkan klitorisnya dengan lidahku. Tiba-tiba ia
menghentakkan pantatnya ke atas dan memegang kepalaku erat-erat. Ia
melolong keras.

Pada saat itu kurasakan banjir cairan vaginanya.
Ia sudah mencapai orgasme yang pertama. Aku berhenti sejenak membiarkan
ia menikmatinya. Sesudah itu mulailah aku menjelajahi kembali bagian
tersensitif dari tubuhnya itu. Kembali erangan suaranya terdengar tanda
birahinya mulai menaik lagi. Tangannya terjulur mencari-cari batang
kejantananku. Kemaluanku telah tegak sekeras beton. Ia meremasnya. Aku
menjerit kecil, karena nafsuku pun sudah diubun-ubun butuh penyelesaian.

Kudorong
tubuh bahenon nan seksi itu rebah ke kasur empuk. Perlahan-lahan aku
bergerak ke atasnya. Ia membuka pahanya lebar-lebar siap menerima
penetrasi kemaluanku. Kepalanya bergerak-gerak di atas rambutnya yang
terserak. Mulutnya terus menggumam tidak jelas. Matanya terpejam.
Kuturunkan pantatku. Batang kemaluanku berkilat-kilat dan memerah
kepalanya siap menjalankan tugasnya. Kuusap-usapkan kemaluanku di bibir
kemaluannya. Ia semakin menggelinjang seperti kepinding.

“Cepat.. Cepat.. Aku sudah nggak tahan!” jeritnya.

Kuturunkan pantatku perlahan-lahan. Dan.. BLESS!

Kemaluanku
menerobos liang senggamanya diiringi jeritannya membelah malam.
Tetangga sebelah mungkin bisa mendengar lolongannya itu. Aku berhenti
sebentar membiarkan dia menikmatinya. Lalu kutekan lagi pantatku
sehingga kemaluanku yang panjang dan besar itu menerobos ke dalam dan
terbenam sepenuhnya dalam liang surgawi miliknya. Ia
menghentak-hentakkan pantatnya ke atas agar lebih dalam menerima diriku.
Sejenak aku diam menikmati sensasi yang luar biasa ini. Lalu
perlahan-lahan aku mulai menggerakkan kemaluanku. Balasannya juga luar
biasa.

Dinding-dinding lubang kemaluannya berusaha menggenggam
batang kemaluanku. Rasanya seberti digigit-gigit. Pantatnya yang bulat
besar itu diputar-putar untuk memperbesar rasa nikmat. Buah dadanya
tergoncang-goncang seirama dengan genjotanku di kemaluannya. Matanya
terpejam dan bibirnya terbuka, berdesis-desis mulutnya menahankan rasa
nikmat. Desisan itu berubah menjadi erangan kemudian jeritan panjang
terlontar membelah udara malam. Kubungkam jeritannya dengan mulutku.
Lidahku bertemu lidahnya. Sementara di bawah sana kemaluanku leluasa
bertarung dengan kemaluannya, di sini lidahku pun leluasa bertarung
dengan lidahnya.

“OH..”, erangnya, “Lebih keras sayang, lebih keras lagi.. Lebih keras.. Oooaah!”

Tangannya
melingkar merangkulku ketat. Kuku-kukunya membenam di punggungku.
Pahanya semakin lebar mengangkang. Terdengar bunyi kecipak lendir
kemaluannya seirama dengan gerakan pantatku. Di saat itulah kurasakan
gejala ledakan magma di batang kemaluanku. Sebentar lagu aku akan
orgasme.

“Aku mau keluar, Mei”, bisikku di sela-sela nafasku memburu.
“Aku juga”, sahutnya, “Di dalam sayang. Keluarkan di dalam. Aku ingin kamu di dalam.”

Kupercepat
gerakan pantatku. Keringatku mengalir dan menyatu dengan keringatnya.
Bibirku kutekan ke bibirnya. Kedua tanganku mencengkam kedua buah
dadanya. Diiringi geraman keras kuhentakkan pantatku dan kemaluanku
membenam sedalam-dalamnya. Spermaku memancar deras. Ia pun melolong
panjang dan menghentakkan pantatnya ke atas menerima diriku
sedalam-dalamnya. Kedua pahanya naik dan membelit pantatku. Ia pun
mencapai puncaknya. Kemaluanku berdenyut-denyut memuntahkan spermaku ke
dalam rahimnya. Inilah orgasmeku yang pertama di dalam kemaluan seorang
wanita sejak kematian isteriku. Dan ternyata wanita itu adalah Mei yang
cantik bahenol dan seksi.

Sekitar sepuluh menit kami diam membatu
mereguk semua detik kenikmatan itu. Lalu perlahan-lahan aku mengangkat
tubuhku. Aku memandangi wajahnya yang berbinar karena birahinya telah
terpuaskan. Ia tersenyum dan membelai wajahku.

“Ardy, kamu hebat sekali, sayang”, katanya, “Sudah lebih dari setahun aku tidak merasakan lagi kejantanan lelaki seperti ini.”
“Mei
juga luar biasa”, sahutku, “Aku sungguh puas dan bangga bisa menikmati
tubuhmu yang menawan ini. Mei tidak menyesal bersetubuh denganku?”
“Tidak”,
katanya, “Aku malah berbangga bisa menjadi wanita pertama sesudah
kematian isterimu. Mau kan kamu memuaskan aku lagi nanti?”
“Tentu saja mau”, kataku, “Bodoh kalau nolak rejeki ini.” Ia tertawa.
“Kalau kamu lagi pingin, telepon saja aku,” lanjutnya, “Tapi kalau aku yang pingin, boleh kan aku nelpon?”
“Tentu.. Tentu..”, balasku cepat.
“Mulai sekarang kamu bisa menyetubuhi aku kapan saja. Tinggal kabarkan”, katanya.

Hatiku
bersorak ria. Aku mencabut kemaluanku dan rebah di sampingnya. Kurang
lebih setengah jam kami berbaring berdampingan. Ia lalu mengajakku
mandi. Lapar katanya dan pingin makan.Bacaan sex top: Cerita Dewasa Hot Kenikmatan Wanita Setengah Baya

Malam itu hingga hari
Minggu siang sungguh tidak terlupakan. Kami terus berpacu dalam birahi
untuk memuaskan nafsu. Aku menyetubuhinya di sofa, di meja makan, di
dapur, di kamar mandi dalam berbagai posisi. Di atas, di bawah, dari
belakang. Pendek kata hari itu adalah hari penuh kenikmatan birahi

Dapat ditebak, pertemuan pertama itu berlanjut dengan aneka pertemuan
lain. Kadang-kadang kami mencari hotel tetapi terbanyak di rumahnya.
Sesekali ia mampir ke tempatku kalau anak-anak lagi mengunjungi kakek
dan neneknya. Pertemuan-pertemuan kami selalu diisi dengan permainan
birahi yang panas dan menggairahkan.

Satu malam di kamar tidurnya. Setelah beberapa kali orgasme iseng aku menggodanya.

“Mei”,
kataku, “Betapa beruntungnya aku yang berkulit gelap ini bisa menikmati
tubuhmu bahenol, seksi, putih dan mulus seorang wanita Cina.”
Ia malah tertawa. tahu apa jawabannya? “Tulisan yang paling indah di atas kertas putih justru harus dengan tinta hitam.” Ha.. ha.. ha.. haa.. – Situs dewasa sex online terlengkap, novel sex terupdate, novel sex
dewasa, novel xxx terbaru, novel cerita hot, novel cerita bokep, novel
cerita porno, novel mesum, novel abg ml, novel tante selingkuh, novel
janda hypersex, novel sex terpanas, novel perawan suka bugil.

Cerita
Sex / Cerita Dewasa / Cerita Mesum / Cerita Panas / Cerita Porno /
Cerita Bokep / Cerita Sex Tante / Cerita Sex ABG / Cerita Sex Janda /
Cerita Sex Perawan / Cerita HOT / Kisah Sex / Sex Bergambar / Foto Seks

cerita xxx igo
Gravatar Image
NovelSeks.org Merupakan media hiburan bagi orang dewasa berumur 20 tahun keatas, bagi yang belum mencapai batas umur saya mohon kesadarannya untuk segera meninggalkan blog ini. Bagi yang cukup umur silahkan menikmati sajian cerita cerita panas igo nakal terbaru 2017 yang telah kami sudur dari berbagai sumber blog lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *