Cerita Dewasa Termewah Ngeseks Penuh Nikmat Sama Adit

Posted on

Cerita Dewasa Termewah Ngeseks Penuh Nikmat Sama Adit – Cerita ngentot terhot, Sebelumnya kisah sex yang pernah saya publish ialah Cerita Sex IGO Pipit Calon TKW Pemikat Birahi. Cerita sex terbaru, novel sex terlengkap, cerita dewasa terupdate, cerita mesum terbaik, cerita ngentot terpopuler, cerita bokep terselubung, cerita xxx terhot, cerita ml abg perawan, cerita porno janda binal | Namaku Rina, umurku 20 tahun dan kuliah di salah satu PTN ternama di Malang. Kehidupan kuliahku ini tentu jauh dari pengawasan orang tua sehingga duniaku terasa bebas, tak lagi dikekang peraturan2 ketat orang tua seperti ketika SD, SMP dan SMA.

Kumpulan Cerita Dewasa IGO Terpanas 2017 Ngeseks Penuh Nikmat Sama Adit

Cerita Dewasa Termewah Ngeseks Penuh Nikmat Sama Adit
Cerita Dewasa Termewah Ngeseks Penuh Nikmat Sama Adit

Novel Seks Aku dikenal sebagai wanita cantik di kampusku, tidak seperti masa2 sekolah sebelumnya karena aku selalu memakai jilbab sehingga kecantikanku tidak begitu nampak. Selain itu, di kampus juga aku dikenal sebagai wanita yang paling sexy, mungkin pengaruh aku tidak lagi mengenakan jilbab. Belakangan aku baru menyadari bahwa tubuhku memang sexy, payudaraku berukuran 34C dan bentuknya bundar, terbentuk secara alami tanpa kusadari. Tinggiku 165 cm dan rambutku bergelombang tegas yg selalu aku kuncir samping dengan panjang hampir mencapai pangkal atas pantatku.

Terlebih lagi aku suka mengenakan pakaian tipis dan sexy saat ke kampus yang membuat mata para lelaki seperti mata anak kucing yang sedang membujuk majikannya meminta makanan. Aku tau banyak laki-laki yang suka padaku dan berusaha mendekatiku walau cuma mengharap dapat bersentuhan tangan, namun aku cuek untuk menanggapinya dengan serius. Lagipula aku sangat sibuk, selepas jadwal kuliah aku juga punya kelas balet yang sedang kutekuni dengan serius.

Sore itu kelas dansaku sedang mempersiapkan kostum untuk sebuah pentas yang akan diadakan 2 pekan mendatang. Kebetulan kostumnya sudah jadi dan diujicobakan sore ini, maka jadilah kami semua disuruh menari dengan mengenakan kostum balet itu. Sial atau untung bagiku, dari rumah aku tidak tahu bakalan harus mengenakan gaun ini, sehingga tadi aku memutuskan berangkat dengan mengenakan rok mekar yang panjangnya sampai ujung atas lutut, di baliknya CD mini warna putih dan bra berenda di bagian puting, sehingga ketika mengenakan gaun balet itu, aku terpaksa harus melepas rok dan braku, karena ukuran rokku akan mengganggu ketatnya ukuran gaun balet yg menempel di pinggangku, sementara bra harus kulepas lantaran rendanya membuat bagian dada di gaun kelihatan longgar. Terlebih lagi bentuk gaun yang minim kain, rok pendeknya hanya seukuran dari pangkal pinggang dan memekar ke bawah hanya lebih 3 senti melewati vaginaku. Selain itu bagian dadanya berukuran pas2an sementara aku punya sepasang dada ukuran 34C, sehingga jika gaunnya kupakai, payudaraku tampak menyembul menantang, apalagi aku tidak mengenakan bra di baliknya dan yang menahan payudaraku agar tidak memperlihatkan dirinya keluar seutuhnya hanyalah sepasang tali bra ditambah ketatnya gaun menempel di pinggangku.
“Ah, masa bodo.” pikirku. Lagipula di kelas balet tak ada cowok 1 pun, guru baletku merupakan seorang wanita paruh baya yg kelihatan awet muda, selebihnya hanya rekan2 cewek yang tampaknya juga bersensasi mengenakan gaun dengan gaya yg sama denganku.

Usai latihan, hujan sangat deras dan aku baru ingat ada tugas juga yang memaksaku harus meminta bantuan Adit. Adit adalah sahabatku yang paling baik. Kami sudah saling kenal sejak kami SMP, beranjak SMA kami memutuskan ke sekolah yang sama, sedangkan kuliah dia sengaja mengikutiku ke Malang, sehingga jadilah kami teman dekat. Padahal, sosok yang dikenal dengan nama Adit, adalah sesosok geek dengan badan tinggi dan perut gembrot, kulit gelap, bibir tebal, oh ya ampuuun… teman cewekku bahkan ada yg pernah mengejek di belakang Adit dan menyebutnya algojo buruk rupa.
Yang membuatku nyaman bergaul bersama Adit adalah, dia orangnya baik dan pintar, sehingga jika ada tugas susah dari sekolah, aku tak perlu khawatir karena Adit selalu bersedia memberiku contekan dan dia selalu ada buatku, tak pernah marah walau aku berbuat salah dan ia tak pernah membuatku marah.
“Kebetulan.” teriakku dalam batin. Aku pun segera menelpon Adit untuk menjemputku ketika aku sedang ngerumpi ga jelas bersama rekan2ku, sekalian mampir ke rumah kontrakannya buat nyalin tugas. Namun cepat sekali dia datang, rasanya belum sampai 15 menit aku duduk2 santai bersama rekan2 dan dia seolah2 punya jurus ninja gitu, “poof” tiba2 sedang menungguku di luar. Aku pun terpaksa beranjak dari tempat latihan tanpa sempat mengganti pakaianku, karena si Adit katanya sedang buru2 untuk memastikan ia tidak melewatkan acara tv kesukaannya. Aku pun nurut, karena aku baru ingat telah melewatkan hari ulang tahunnya Adit 5 hari yang lalu sementara 2 tahun terakhir ia sudah memberiku kado mahal dan spesial serta kejutan di hari ulang tahunku sedangkan 2 tahun lalu pun aku lupa hari ulang tahunnya. Untungnya dari rumah tadi aku membawa jaket berbahan jeans, meski panjangnya hanya mencapai pusarku, setidaknya di bagian dada bisa tertutup jaket. Lagipula Adit takkan berani macam2 padaku.

15 menit berada di mobilnya Adit, Adit masih tampak normal2 saja, sehingga sesampainya di rumah kontrakannya, aku jadi tidak begitu khawatir mengenai Adit yang sempat kucurigai bakal menakaliku. Aku pun langsung menanyakan soal tugas begitu ia baru saja duduk di sofa menghadap tvnya. Ia tak menjawab, hanya meberi isyarat cepat untuk menengok ke arah meja di depannya dan jelas saja di sana terlihat olehku laptopnya yg sudah siap memberiku contekan.

Beberapa menit aku menggeser2 mouse laptopnya sambil sesekali mengambil gambar contekan dengan kamera smartphoneku, tanpa sadar aku bergerak membuka jaketku karena lembab lantaran tadi sempat berlari pelan menerobos hujan dari pintu depan tempat latihan menuju mobil Adit yang terparkir di pinggir jalan. Baru sadar Adit melirikku ketika 1 kancing jaket paling atas baru kubuka, sempat berpikir untuk membatalkan niat membukanya, namun perasaan tanggung membuatku memutuskan untuk membukanya walau malu, takut, was-was menyerang batinku bersama lirikan Adit. Lagi-lagi spontan, mungkin karena menghidndari perasaan risih atas tatapan Adit yg membelalak ke arah dadaku, khawatir mungkin saja putingku tak sengaja kelihatan atau gimana, aku pun berkata dengan spontan,

 
“makasih ya, Dit. Lagi-lagi kamu baik bangat udah mau ngasih contekan tugas seruwet ini.” Adit memalingkan wajahnya ke arah televisi, wajahnya yg tadi tampak terkagum-kagum pada keindahan tonjolan dadaku kini berganti ekspresi vokus yang biasa kulihat di wajahnya selama ini.
“iya, santai aja.” jawabnya tenang tanpa mengganti objek pandangnya. Aku pun jadi tenang, ternyata Adit adalah laki2 yg baik, dia takkan memacam-macamiku meski telah melihat tubuhku yg sedang dalam keadaan siap disantap. Dan aku merasa bersalah karena sudah mencurigainya berniat jahat.
“Ah, sial… padahal aku udah kejam sama kamu. Bisa2nya aku lupa lagi hari ultahmu sedangkan kamu masih aja baik padaku seperti biasa.” gumamku. Adit hanya tersenyum sempit lagi-lagi tanpa mengganti objek pandangannya. Dari situ muncul rasa kagum padanya. Bagaimanalah mungkin dia sanggup bersikap normal2 aja di depanku yang berpenampilan seperti ini? Otakku mulai nakal dan berniat mengujinya lebih jauh. Dan aku tidak tahu arah perbuatanku ini akan mengarah ke mana. Kuputuskan untuk tidak mempedulikannya dulu, tidak mau tau dulu.
“Dit, serius nih… kamu gak marah? Mau aku kasih hadiah apa?” tanyaku berani, wajahku mendongak menatap wajahnya yang masih serius menghadap televisi.
“Kamu ingat tahun lalu kamu juga bilang begitu? Aku minta ciuman dan kamu malah tidak bicara denganku hampir sebulan.” nadanya tidak peduli dan lagi-lagi tanpa mengganti sudut pandangnya. CUKUP, aku muak, aku merasa seperti diremehkan, aku merasa seperti tidak menarik bagi algojo buruk rupa macam dia.
Aku pun duduk di meja yang letaknya di antara tv dengan tempat ia duduk, aku duduk mengahadapnya langsung, lalu berkata,
“jadi, 1 ciuman sudah cukup sebagai kado ulang tahunmu yang ke 21?”
“sekarang aku ga butuh ciuman, itu sudah lewat. Sekarang aku butuh lebih. Aku… uhm, aku mau payudara.” katanya gelagapan setelah cukup lama diam menatapku dengan alis yang berkerut. Ia lalu menatap sekitar dadaku dengan mata layu. Persis sama dengan mata laki2 yg kulihat sedang menatapku. Spontan saja kedua tanganku kugunakan untuk sebisa mungkin menutup bagian dadaku dan sesegera mungkin menghindar dari meja.
“kalo gitu aku nyerah. Gak nyangka otakmu malah semakin mesum.” komat-kamitku.
“kamunya aneh. Tiba-tiba aja kamu tidak terima kalo kamu lupa hari ultahku, lalu seenaknya tanya apa mauku. Tidak meminta salah, minta malah lebih salah. Tahun lalu kamu datang dan langsung nawarin buat minta sesuatu padamu, tumben kamu saat itu pake lipstik merah, aku jadi kepikiran mau cium cewek. Sekarang lagi2 dengan lelucon yg sama pake kostum gitu juga, aku kan jadi mau.” cibirnya, aku jadi merasa kepayahan, tak tahu harus jawab gimana karena pada dasarnya aku yang salah.
“Padahal kamu tidak memberiku apa2 pun aku tidak keberatan. Kamu selalu ada di sisiku, bermanja2 padaku sudah cukup buatku. Selebihnya aku tidak mengharapkan apa-apa, tapi jika kamu nanya apa mauku, dari dulu aku maunya kamu. Itu aja.” tambahnya dengan mata mengarah kosong ke tv. Ada sedikit rasa terharu yang muncul gara2 dia bilang begitu, sehingga diikuti perasaan kasihan. Adit laki2 normal, sudah pasti punya keinginan yang mengarah ke seks, dan dia tdk memiliki teman wanita selain aku.

Dari situ muncul sedikit ide gila, mungkin sudah saatnya aku membiarkan seorang laki2 menyentuh payudaraku, lagipula laki2 itu tak lain adalah Adit, seorang laki2 yang paling baik dan paling lembut padaku, mengesampingkan buruk rupa yang menjadi kelemahan satu2nya.
Aku pun kembali melangkah ragu2 ke arah meja dan duduk bergaya elegan dan sexy dengan dada kubusungkan ke arahnya seakan siap dia apain.
“hanya dada, kan?” tanyaku. Akunya juga bodoh, aku tidak tahu kalo sentuhan pria di kulitku bisa mempengaruhi darahku.
“I, iyyah Rin. Hanya dada.” katanya dengan nafas yang memburu dan mata melotot seakan tak percaya.
“Yaudah.” kataku sambil mengalihkan wajah namun posisi badan masih tetap sama. Lalu dalam hitungan paruh detik kedua tangan Adit menyerbu payudaraku yang masih dilindungi kain balet tanpa sempat kusadari jantungku yang deg2an. Kedua tangan itu menari mengikuti lekuk-lekuk dadaku dengan perlahan, pelan, lembut dan hangat, sesekali ia meremas pelan dan memutar2 tangannya sehingga dadaku juga ikut berputar searah tangannya. Bagian atas gaun yang melindungi dadaku kadang tersingkap ke bawah, tertarik ke atas, ke samping, ke tempat semula sehingga talinya bergerak dan turun lalu terkadang puting susuku juga ikut kebagian tersentuh telapak tangannya yang kasar.
Nafasku tiba2 memburu melihat ukuran dadaku yang sangat cocok berada di telapak tangan Adit yang sebesar itu, sehingga kelihatan seolah dadaku nyaman berada di tangannya, dan seakan lingkar dada yg selama ini kubanggakan tercipta tak lain hanya untuk buaian tangannya.

 
Dari balik nafas yang memburu itu muncul perasaan yang susah sekali dijelaskan, singkatnya itu geli namun dadaku begitu menikmatinya sampai2 terasa seperti membesar dan diikuti badan yang otomatis menyodorkan dada lebih maju lagi. Entah kenapa rasanya nikmat sekali sehingga lupa bahwa hujan di luar sana semakin deras dan sesekali petir menggelegar, juga saking nikmatnya aku sampai tidak sadar bahwa wajahku sudah tidak normal lagi, aku seperti menahan geli dengan mata merem namun sama sekali tidak punya niatan untuk menyudahinya. Hanya kegengsian yang mampu bertahan, membuatku merasa diri harus menormalkan ekspresi wajahku, lalu berkata,
“udah belum, Dit?”
Adit tak mempedulikan. Wajah, mata dan tangannya terlalu vokus ke payudaraku seperti seorang anak yang mendapat mainan baru.
“Indah sekali, Rin.” pekiknya. “Dibuka aja bagian atasnya yah! Mengganggu tuh.” tambahnya. Saat itu aku mulai takut. Namun yang kulihat kondisinya seperti sudah sama saja, mau adit meremas tanpa kain ataupun dihalangi kain rasanya tak akan ada bedanya, lagipula keberadaan kain yang tanggung di dadaku itu emang cukup mengganggu jalannya rabaan tangan Adit, jadi kupikir emang harus dibuka namun gengsi itu masih ada.
“oke, deh… tapi janji yah, hanya dada saja!” kataku, sembari meraih simpul pita di gaun bagian belakang dan melepas ikatannya sehingga longgar dan meloloskan kedua tangan dari tali gaun sehingga “tuing”, dadaku yang sedang bergairah terpampang jelas menantang Adit. dengan segera tangan Adit kembali menari dan Ohhh.. sial! Nikmat sekali rasanya. Aku jadi tidak yakin mampu bertahan melewati ini dengan terus mempertahankan gengsi seakan tidak ingin disentuh padahal sesungguhnya aku sangat mau.
“Aaangh, Diiit!” erangku tertahan, namun aku seolah berpura2 kesakitan, padahal sebenarnya aku mengerang keenakan, memuji belaiannya yang begitu nikmat. Saking nikmatnya rasanya aku kepingin nangis jika Adit tak lagi menempelkan tangannya di situ. Aku ingin tangan itu terus berada di sana, menempel di dadaku menggantikan bra.
“Rina, boleh aku mengemutnya? Boleh yah, please!” pintanya sambil menatapku dengan wajah memelas. Entah kenapa melihat wajahnya yang jelek itu membuatku ingin segera memuaskannya, mungkin karena aku tau dengan wajahnya yang jelek itu tidak mungkin baginya untuk mendapatkan susu lain dan mengkhianati susuku.

 
“Dih, dikasih satu, mintanya lebih lagi. Yaudah, sekalian biar kamu puas lalu kita udahan.” kataku pura2 tidak menginginkannya. Lalu dalam sekejap wajahnya ia benamkan di dadaku, kepalanya digerak2kan sehingga secara langsung yang tadi memainkan susuku adalah tangannya sekarang berganti wajah serta lidahnya. Oah, itu nikmat sekali! Sempat terpikir untuk memohon pada Adit agar Adit mengisap susuku lebih keras, namun itu takkan mungkin terjadi mengingat gengsiku yang takkan bisa ditaklukan.

Tapi setidaknya gerakan itu membuatku sudah mulai melupakan segalanya. Ternyata inilah alasan kenapa banyak yg menyukai seks, perasaan ini terlalu indah. Wajahku bergerak ke sana ke mari dengan mata yang terpejam, kadang menghadap ke kanan, lalu ke kiri lagi, kadang mendongak, kadang menunduk dan memeriksa keadaan dadaku yang tengah dimainin Adit.
“Ahhhhm… Adit, sudah Dit, kamu terlalu jahat. Aww.” desahku meminta menyudahinya namun susuku malah sengaja kusodorkan lebih maju ke mulutnya, seketika itu Adit menyedot puting susuku yang membuatku seperti tersengat listrik dan berteriak lebih kencang dengan suara dalam.
“Ohh, ternyata susumu enak sekali, Rin.” katanya terpotong2 karena mulutnya sibuk mengulum, menjilat dan mengenyot susuku. Tubuhku yang tadinya bergerak pelan mengimbangi gerakan belaian yang diberikan Adit, kini mulai bergerak lebih cepat dan lebih berinisiatif. Kedua tanganku kulingkari di kepalanya dan kutarik Adit sehingga ia tidak lagi duduk di kursinya, melainkan setengah nungging di meja .Kini aku terlihat seperti aku memangkunya, maka jadilah aku tampak kayak seorang ibu yang sedang menyusui anaknya.
Adit menyedot susu bagian kiriku seolah kehausan, tangan kanannya melingkar di pinggangku, sedangkan tangan kirinya sedang menempel di susu kanan dan memijit-mijitnya seperti sedang meremas2 adonan roti. Kadang sedotan panjangnya di dada kiriku itu berujung dengan bunyi “cchup” yang benar2 membuatku melayang karena rasa geli bercampur enak.

 
“Ohh, Adiiit… nakal kamu.” teriakku. Adit sejenak melepaskan puting susuku dari mulutnya dan menatap wajahku sambil berkata,
“Aku belum pernah bermimpi bakal bisa menikmati payudara seindah ini, Rin. Apalagi ini adalah payudaramu.”
Mendengar itu aku terhanyut dan tambah bernafsu, kutarik sedikit kepala adit sekaligus menyodorkan puting susu kananku persis di mulutnya.
“jangn banyak bicara, ayo puasin dulu supaya bisa udahan. Nguuahhh…!!!” kataku masih sok jual mahal, menjerit ketika sedotan mulutnya itu kembali berusaha menarik isi di balik bongkahan susuku, padahal di waktu bersamaan aku memikirkan cara supaya dada ini bisa terus dikemutnya.

Aku tidak tahu kenapa aku bisa kesetanan seperti ini, mungkin karena kronologi takdir yang terjadi hari ini, aku ke tempat latihan dengan penampilan yang manis, tapi tahu2nya aku harus menari dengan gaun ber-rok dan dada terbuka tanpa mengenakan bra, lalu dengan konyolnya merasa tertantang oleh sikap dinginnya Adit yang seolah tidak menghargai kecantikanku. Ah, sialnya. Akhirnya aku menikmati masa2 seindah ini bersama seseorang yang bukan tipeku bangat.
Tiba2 smartphoneku berdering, kami terkaget sehingga mau tidak mau kami harus menghentikan dulu aksi penuh birahi kami. Dengan nafas yang tersengal-sengal kami saling diam kebingungan, dalam hati aku lega ternyata kenikmatan bersama si Adit tidak berlangsung lama, syukur bangat, karena aku berharap aku bisa melakukannya dengan seorang laki2 yang benar2 membuatku kagum seutuhnya. Sambil memperbaiki busanaku seadanya, aku mencoba menjawab panggilan mama. Mama langsung menyahut dengan curiga,
“ngos2an begitu, lagi ngapain? Ngaku!”
Mendengar itu aku secara ajaib langsung kehilangan akal, seakan tak ada lagi alasan bohong yang terpikirkan, lalu kulihat Adit yang memberi isyarat dengan bibirnya, sehingga aku dapat 1 alasan untuk mama,
“lagi, di kelas dansa ma. Habis pemanasan.”
“loh, bukannya ini sudah waktunya pulang?” skak mama lagi. Aduh, bener juga, koq bisa aku jadi sebodoh ini?
“Iya, sebentar lagi pulang.”
“hah? katamu tadi sedang pemanasan?” DUARRRR…!!! aku tahu bahwa kebohonganku telah berhasil dicium oleh mama, oleh sebab itu kuputuskan saja untuk mengakhiri pembicaraan.

 
“udah dulu yah ma. Sibuk, telponnya nanti aja deh!” klik. aku pun menutup dan membanting smartphoneku ke sofa lalu duduk menyandarkan kepala di atas kepalan tangan kiri yang bertumpu pada siku. Tak sengaja mengingat kembali mama dan papa pernah melakukan sex di ruang tamu waktu aku SMA dan mereka tidak mempedulikanku yang baru saja pulang sekolah saat itu, mereka tetap asyik saling memompa dan berdesah ria malah makin menggila ketika menyadari kedatanganku. Malamnya mama dan papa menyinggungnya lagi, mencibirku bahwa aku masih terlalu bocah untuk tahu mengenai apa yg mereka lakukan siang itu. Mama berpesan malam itu,
“tunggu 3, 4 atau 5 tahun kau boleh tau dan melakukannya sewajar mungkin dan harus pake pengaman.

” namun tanpa mengijinkanku bertanya lebih jauh. Sedangkan papa hanya tertawa nyengir melihat aku gondok. Huh, aku kesal… mungkin inilah saatnya untuk membalas perlakuan mereka. Tapi keburu kepikiran lagi apakah aku sungguh berniat melakukannya dengan Adit? Adit algojo jelek yang ada di sampingku ini? Yang benar aja!!! Kalo mama tahu pasti mama bakal muntah.
Ah, sudahlah… biarkan hari ini memberiku kejutan sebaik dan seburuk apapun, aku rela menerimanya. Sejenak aku dan Adit saling memandang, ia tersenyum cengengesan,
“jangan2 kamu masih mau lagi?” tanyaku curiga, namun dalam hati gairah seks itu muncul menggebu2 lagi, seakan jantung berdetak menyeru seluruh darah untuk menyerbu organ2ku, sehingga aku tidak mampu menahan keinginan itu.

“hehehe…” Adit masih dengan cengengesannya.
“masih belum puas juga yah kamu, Dit?” balasku berpura2 menggerutu.
“aku bahkan tidak kepikiran membuang sedetikpun berlalu tanpa susu manismu ini, Rina.” katanya sambil menarik setengah menggendongku ke pangkuannya, lanjut kembali menyibak kain balet yang menghalangi payudaraku yang tadi kuperbaiki sekenanya saja, lalu menyedot, mengemut serta meremas sepasang susuku.
“Ahw, Adiit, nakalnya kamu. Kamu suka sekali susu perempuan yah?” aku berkata setengah mendesah keenakan.
“jangan salah, Rina sayang! Ngerasain susumu kayak gini, aku udah gak punya nafsu lagi sama susu cewek2 lain yang pernah kuliat baik di kenyataan ataupun di dunia maya. Hanya susumu satu2nya, sayang!” katanya, sambil kembali mengemasi susuku untuk dimasukkan sepenuhnya ke dalam mulutnya serta genggaman tangannya seolah2 susuku ini seutuhnya punya dia.

Dalam hati aku memprotes,
“seenaknya saja, kamu pikir itu punyamu, yah?” namun kedua susuku seolah sangat mencintai Adit dan bersedia terlepas dariku demi isapan, belaian dan buaian dari gumpalan daging raksasa hitam itu.
“kamu tau gak, kamu itu kayak bayi raksasa yang kehausan susu.” aku melontarkan kata2, maksudku menghinanya, namun aku malah makin bernafsu sendiri, lalu mulai menggoyang2kan badanku. Mendengar itu Adit menatapku dengan mulutnya masih mengemut susuku dengan ganas, dan berkata,
“mamaaah…” dengan nada pekik yang sengaja dimiripkan seperti suara bayi.
“Ahhaaww… sayaang, sedotlah sesukamu, sayang! Cepat kita akhiri ini, supaya bisa pulang.” kataku setengah mendesah sangat keras. Kupikir bagus juga, hujan lebat akan membenamkan suara teriakanku sehingga tidak sampai kebagian ke tetangga. Mendengar aku menyinggung pulang, wajah Adit berubah sedih, dengan cepat aku mengelus pipinya sambil berkata,
“tenang saja bayiku, kan bisa tahun depan lagi!” padahal hati meberontak ingin setiap bulan, setiap minggu, setiap hari dikemut oleh Adit.

Dan entah sejak kapan dimulainya, entah apakah itu Adit, ataukah sofa yang bergerak naik turun dengan irama yang lagi2 menambah gairah setan nafsuku. Dan baru sadar aku tengah duduk di pangkuan Adit dengan pantat persis di atas tonjolan selangkangannya, terlebih lagi rok balet ini pendek dan mekar, sehingga daging belahan pantatku yang dilapisi CD mini menempel di paha serta selangkangan Adit. Dan aku terkaget ketika menyadari bahwa Adit sudah melepas celana serta CDnya, kutaksir mungkin itu dilakukannya saat aku merasa sofa bergerak2 ga jelas barusan.

Aku pun mencoba mencaritahunya dengan memvokuskan indra peraba pada bongkahan pantatku dan menggesek2annya pelan, namun aku malah merasakan satu sensasi baru yang lebih indah lagi, karena pantatku yang dilapisi kain CD yang tipis dapat merasakan kehangatan selangkangan Adit. Adit melenguh panjang, dan benar saja, aku tidak merasakan adanya kehadiran kain di sana, yang ada cuma kulit berkeringat yang rasanya hangat, panas, sangat panas… aku melepaskan susuku dari kenyotan Adit, dan menatap ke bawah, OMG… tampak sesosok penis hitam sebesar pergelangan tanganku yang berdiri tegak menantang persis di antara 2 pahaku dan menyodok2 rokku sehingga sesekali kepalanya muncul melewati rokku. Aku jadi takut melihatnya, namun di saat yg bersamaan pula rasanya ada sebagian diriku yang mengatakan untuk tetap maju.

 
“ADIIITTT…!” protesku sok kecewa.
“tidak akan kugunakan, sumpah. Hanya dengan cara ini aku bisa puas, aku takkan menggunakannya untuk melukaimu, sungguh.” katanya seakan takut aku menyudahi permainan ini begitu saja. Padahal dalam hati aku tidak mau endingnya cuma seperti ini.
“Aku takut, Adiiit. Aku belum pernah melakukannya.”
“aku juga, sayang. Tapi mengertilah, cuma inilah satu2nya cara supaya aku puas! Aku takkan memasukkan iniku begitu saja ke itumu. Aku tak ingin mengecewakanmu! Maaf gak ngasih tau dulu, jadinya kamu kaget kan?” jelasnya. Aku pun seperti tergerak sendiri mencium bibirnya.

Ya Tuhaan, kenapa aku menciumnya?
Adit membalas melumat bibirku sekenanya, terasa seperti ciuman yang tidak tahu cara berciuman yang sesungguhnya, aku juga sama, hingga akhirnya kami hanya saling membuka mulut dan menempelkan lidah serta bibir dan menggesek2annya dengan dibimbing nafsu. Entah benar atau salah caranya, yang jelas nikmat sekali rasanya. Lalu kedua tangan Adit melingkar di pingganggku, memelukku erat, namun tidak sampai membuatku merasa sesak walaupun tubuhku rasanya sudah ditenggelamkan oleh tubuhnya yang besar dan menyebarkan suhu panas hingga kebagian pada tubuhku. Aku sadar kami telah jauh melakukannya, dan otak kananku bekerja mengingatkan Adit,
“Dit, sekarang kita sudah mulai cium2an dan peluk2an… gimana niiih?” rengekku, mengesampingkan sementara nafsu yang menggebu2 melakukan aksi demo untuk mengambil alih kendali tubuhku. Adit tau maksudku.
“Aku tahu kamu tidak ingin melakukannya denganku. Aku janji kamu tetap aman hari ini, tidak akan pernah aku menggunakan penisku untuk merusak keperawananmu, aku juga ingin yang terbaik buatmu.

Aku janji. Trust me! Aku memelukmu karena aku merasa dengan begini aku bisa sampai ke titik kepuasanku dan kita bisa menyudahi ini walaupun aku tidak ingin menghentikannya.” bujuknya sambil merapikan anak rambut yang menjulur ke wajahku yang berkeringat. Spontan lagi aku melumat bibirnya dan dalam sekejap kami kembali terjatuh ke dalam lubang hawa nafsu dan saling bergerak2 dengan nada bersamaan mirip gerakan dansa namun dengan gaya duduk.
“menarilah seperti itu terus, Rina sayang… aku merasakannya… sebentar lagi… entah kenapaa… ooh, Rinaa… Rina chaaan…” desah Adit sambil meram melek. Aku pun seakan tidak ingin mengcewakannya dan terus menggoyang2kan badanku mengikuti perintah nafsu yg dikombinasikan dengan gerakan Adit.
Arah bibir Adit berubah2, semula dari bibirku, lalu hidung, merambat lagi ke kelopak mataku yang tertutup, lalu pipi, ke telinga, dagu, leher, dada dan puting susuku. Nafsuku pun memberontak,
“Aaahh, Adiiitt, bibirmu nakal sekali, sayaaangg.. ooohh.” cecarauku.

Kedua kakiku mulai merasa tidak puas dan berusaha mengganti posisinya seolah dengan sendirinya, kubiarkan saja diriku terbawa oleh tuntutan nafsu hingga kutemukan diriku yang mengangkang dengan kedua kaki melingkar di pinggulnya Adit seperti borgol, sedang kedua lenganku melingkar di lehernya. Lalu aku mencoba menemukan irama goyanganku kembali, sambil terus mengerang, mendesis, mendesah kesetanan bersama Adit. Sementara itu kedua tangan Adit melingkar di pinggulku dan memelukku sehingga tubuh putih mulusku menempel seutuhnya dengan tubuh hitam besarnya, kedua susuku menempel seakan berusaha menembus dadanya Adit dengan putingku, irama jantungku memompa mendesak2 susuku agar semakin keras menekan dada Adit, sementara bibir Adit bermain2 di telinga, leher, pipi, tengkuk serta rambut panjangku yang hanya bisa kubiarkan tergerai berantakan.
Pantat Adit digerakkan naik turun, sementara pinggulku secara inisiatif bergoyang memutar layaknya penari dangdut dengan CD yang gampang sekali ditangkap mata. Vaginaku dan penisnya tidak pernah terlepas dari saling menempel, meski aku dan Adit bergoyang2 tanpa pola.
“Ohhh, Adiiiittt…” pekikku tertahan.
“Iya, sayaaang…”
“kita sedang aphaaa…?”
“kita sedang melakukan.. emh… itu, Rin… simulasi ngentot.” Adit berusaha menjawab sekenanya sambil terus bergerak liar menaik turunkan pantatnya hingga terasa penis besarnya menggesek2 vaginaku seakan sudah tak ada lagi CD yang menghalanginya, mungkin karena CDku yang basah. Aku setengah tertawa mendengar jawaban Adit,
“hhs, oh, teruskan sayang… yuk ahw!” timpalku sambil terus menggoyang2kan pinggulku seperti tengah bermain hoola hop.
Bukannya kepuasan yang aku dapatkan, malah aku ingin lebih. Spontan saja selangkanganku seperti merasa gelisah, sehingga membuat goyanganku kacau, sampai2 Aditpun menghentikan permainannya. Aku pun lekas berdiri dan kebingungan sesaat. Aku melepaskan diri dari Adit bukan karena ingin menyudahi saling memeluk dan saling menggoyang, melainkan aku ingin mencari kepuasan lebih. Maka kulepaskan celana dalamku. Novelseks.com
“kamu ngapain?” tanya Adit khawatir.
“ini menghalang, Dit.” jawabku. Aku sudah tidak peduli apapun lagi. Aku tidak peduli hujan sudah tidak sederas tadi, aku tidak peduli perutku yang lapar dan tenggorokanku yang haus, aku tidak peduli dengan keperawananku ataupun pada rupa Adit yang bukan tipeku, aku ingin segera memuaskan seorang teman yang sangat baik dan memuaskan diriku juga, sekaligus berekplorasi mengenai sex bersama Adit yang tampaknya juga baru pertama kali. Jujur saja aku juga sempat menerawang apa yg akan terjadi pada hubungan kami setelah aktifitas penuh cinta ini usai, sekalipun mungkin aku akan menyerahkan status lajangku untuk Adit demi kepuasan 1 hari ini, aku tidak peduli, ambillah semuanya, renggutlah semuanya, Adiit! Ayooo!

 
Niatku tadi hanya membuka CD, namun rasa tanggung muncul setelahnya, sehingga kuputuskan untuk melepas semua yang ada di tubuhku dan membuangnya begitu saja. Tampaknya tubuh hitam pebuh keringatnya Adit itulah yang kuinginkan, aku melihat adanya rasa puas yang kudapat pada tubuhnya dengan syarat aku harus telanjang bulat. Kuikat rambutku dengan karet sampah yang kupungut di atas meja Adit, Adit yang tak sabar segera memelukku dari belakang dan diculiknya aku sehingga aku kembali duduk di pangkuannya pangkuannya. Pantat telanjangku langsung merasakan aura nikmat yang tiada duanya begitu tersentuh dengan penisnya Adit, seperti otomatis aku bergerak sehingga membuat penisnya Adit berpindah posisi hingga terjepit tepat di antara bongkahan pantatku, belahan bibir vaginaku. Ohhh, enak sekali.
“Oh, Rina… jangan tinggalin aku sedetikpun. Aku sudah rindu.”
“Ehm, sabar atuuhh, Adit sayang.” jawabku namun tak kembali berdiri. Lalu aku bergerak hati2 agar berhadapan dengan Adit tanpa harus menjauhkan vaginaku dari penisnya. Oohh, aku tidak mau penisnya terlepas walau sedetik saja. Setelah berhasil, kamipun lanjut berpelukan serta memulai goyangan kami. Tapi Adit jadi agak ragu, tampaknya ia takut kalau penisnya bergerak masuk ke liang vaginaku baik secara tidak sengaja maupun disengaja. Padahal aku sudah berpikir, masukpun gak apa-apa.
“Anggap saja keperawananku ini hadiah ultah dariku, okay!?” kataku.
“Oh, sayang… tapi kan aku sudah janji…!”
“Owh, shut up! Biar aku yang masukkan, dengan gitu janjimu tetap aman, bukan?” kataku. Padahal aku yakin, sesaat yang lalu aku tidak punya niatan untuk membiarkan Adit memasukiku, aku hanya mencukupkan diriku untuk merenggut kepuasan dengan saling gesek-menggesek saja. Tapi Ohh… sepertinya bagian bawahku sangat mencintai Adit lebih dari rasa geliku melihat tampangnya. Lalu aku pun tidak ingin berpikir, aku tidak ingin mengingat ada satupun penghalang aku melakukan hal ini, kubiarkan penyesalan datang di akhir nanti. Aku cuma ingin menggunakan tubuhku untuk memuaskan Adit yang selama ini lemah lembut dan baik padaku. Atau mungkin aku sudah jatuh cinta pada sosok menakutkannya itu.

 
“Ohhh, Adiiiittt…” aku menjerit kesakitan setelah kutemukan kesulitan menyediakan tempat di dalam vaginaku untuk penisnya Adit, namun di balik rasa sakit itu ada rasa nikmat yang siap bergejolak membantuku mengusir rasa sakit, sehingga jika kutambah sedikit lagi tenaga dan menahan rasa sakit yang akan datang, penis besar itu sudah sepenuhnya jadi milik vaginaku. Sebelum itu terjadi secara spontan, Adit berteriak,
“Rina chaaan… aku belum memakai pengamaan…!”
SLEEEPPP… penis itu pun tenggelam sudah. Terlanjur.
“Eeeengh…!” teriakku kesakitan bercampur nikmat luar biasa. Kurasakan hangat penisnya Adit berdenyut2 memberontak di setiap mili permukaan vaginaku, dan aku merasakan betapa bergairahnya vaginaku menahan penisnya di dalam sana seakan tak mau dilepas.
“Yaaah, gimana doong?” gumamku seusai menjerit kenikmatan dan baru saja terpikirkan bahwa aku punya resiko hamil dan aku tak mau hal itu terjadi.
“oohh…” Adit menjerit seakan kehabisan akal, sementara penisnya sudah terlanjur di dalam. Kami diam tanpa gerakan, namun kedua alat kelamin kami saling berinteraksi penuh cinta dan kasih sayang walau tanpa gerakan pinggang.
“Kamu nyimpan kondom, gak?” aku bertanya sambil menatap wajahnya seperti sudah kuanggap kekasih yang paling kucintai. Sementara itu kunikmati denyutan hangat penisnya melalui rongga vaginaku yang kian seolah mengisap2 berusaha menenggelamkan penisnya Adit semakin dalam. Adit juga tampaknya merasakan adanya kasih sayangku, baik yang kuutarakan lewat suaraku, wajahku, pelukanku juga vaginaku.
“Mana ada aku nyimpan benda gitu. Lagian siapa sangka aku bakal melakukannya…”
“Beli sana!” potongku.
“Okay, kita pause dulu, ya sayang!?” katanya.
“Huum.” aku mengangguk. Namun kami kembali diam di posisi itu.
“Aku tidak bisa pergi ke market sambil tetap memposisikanmu seperti ini.” katanya tiba2.
“Yaudah, cabut gih.” kataku.
“mana bisa, kamu yang cabut, sayang. Tinggal berdiri aja!” sanggahnya. Iya juga, whahaha… aku pun berusaha berdiri sehingga penisnya terlepas dari vaginaku, namun setelah beberapa inci bergerak naik, otot rongga vaginaku kembali merasakan kenikmatan lantaran ia harus dipaksa bergesekkan lagi dengan otot penisnya Adit yang hangat. Oleh kenikmatan itu aku terjatuh dan kembali duduk sehingga lagi2 terjadi gesekan antara penis Adit dengan vaginaku, lalu kami saling mendesah lagi.
“Ohhw, Rina chan…”
“Auuhh.”
Entah jatuh itu kusengaja atau tidak, entahlah. Hanya saja aku merasa vaginaku tidak ingin melepas penisnya Adit walau cuma sebentar.
“Hati2, dong… ayo naik lagi!” kata Adit. Aku pun mencobanya sekali lagi dan gagal, malah membuat nafsuku semakin menggila2.
“I can’t.” kataku menggeleng2kan kepala. Lalu Adit segera menggantikanku dan berusaha sebisanya agar kedua alat kelamin kami yang tengah membuai satu sama lain terpisah, namun Adit tampaknya kesulitan memisahkanku darinya, karena kedua kakiku sudah sangat erat melingkari pinggulnya.
“Kakimu, sayang!” katanya sambil berusaha melerai simpul kakiku, namun aku menjawabnya dengan menggeleng sambil memejamkan mata.
“Mmmm… jangan… jangan pergi duluu…” rengekku manja.
“Tapi sayang…”
“tunggu dulu sebentaaar saja, okay, Dit?” kataku.
“Okay.” Adit mengangguk lalu tersenyum, aku pun ikut tersenyum. Kami berdua saling menatap dan melontarkan senyum manis dengan jarak antar ujung hidung kurang lebih 1 senti, sambil merasakan nikmatnya alat kelamin kami bercinta dalam diam.
Kudengar nafas Adit yang mulai memburu serta sayup2 suara m panjang di bibirnya.
“Adit stoop! Jangan dulu digoyangkan! Kita harus punya kondom dulu!” kataku.
“Gimana caranya kita bisa punya kondom tanpa harus berpisah dulu, sayangkuuu?” protesnya.
“Mana kutahu, tapi sebaiknya tunggu dulu penismu mengecil!” kataku.
“Oalaaah… okay!”

Tak sampai 1 menit kami saling menatap dan tersenyum dalam diam, Adit pun berkata padaku sambil mengusap keringat di keningku,
“Aku sudah sangat menginginkanmu sejak pertama kali bertemu, namun aku tidak tahu harus kuapakan perasaan ini. Tidak kusangka kamu sebaik ini dan seperhatian ini sehingga aku bisa mengengemut susu manismu, mencium bibirmu dan memasukkan penisku di sana. Aku sangat berterimakasih, aku bahagia sekali walau aku sadar ini pantas untukku hanya 1 kali dalam 1 tahun atau 1 kali seumur hidupku. Terimakasih, ya!” dengan suara penuh wibawa, hatiku bergetar dan spontan kutempelkan lagi bibirku yang padat ke bibirnya yang tebal.
“Uhmmm… jangan bodoh! Kita udah terlanjur, mulai sekarang kita pacaran. Kamu mau, kan Dit?” tanyaku sambil tersenyum manis.
“Sama kamu, Rin? Serius?” Adit balik bertanya, menganga tidak percaya.
“Iya, sama aku. Serius.” jawabku. Adit pun tersenyum.
Dan tanpa sadar, aku mulai menggoyangkan pinggulku naik turun, kiri kanan, memutar secara perlahan dengan irama pelan seolah mengikuti irama dansa dengan lagu Celine Dion – My Heart Will Go On. Dan nafsu yang tadi kutahan sekarang menggebu2 seolah2 sudah cukup bagi mereka untuk bersabar. Mataku merem, bibir tertutup rapat dan hanya mengeluarkan suara “m” panjang mengikuti nafsu.
“Sayang? Kau bergoyang!” Adit memperingatkan. Aku sadar arti kata peringatannya, namun aku tetap menggoyangkan pinggulku, malah makin kencang.
Dan sekarang lagu Celine Dion itu berubah tema menjadi house musik.
“Aku bergoyang!” teriakku dengan 1 tarikan napas, serta pinggul yang bergerak naik turun. Oh, nikmat sekali rasanya memiliki penis Adit sebagai teman bersenggama mulai dari sekarang. Rasanya aku inginkan ini jadi rutinitasku layaknya kuliah dan kelas balet. Oh, tampaknya aku akan lebih menyukai aktifitas yang 1 ini bersama Adit. Akan kulakukan ini tiap hari dengannya tidak peduli dia mau apa nggak, tidak peduli dia sibuk apa nggak, akan kugoda dia, akan kurayu dia.
“Kalau kamu bergoyang seperti itu, penisku takkan mengecil, sayang!!” kata Adit lagi.
“Awh… ituuuh.. ah, engh, awwh… itu pikirin nanti sayang. Yuu, sekarang kamu goyang juga! Ayo goyangh… bersamaku, Adit… Owhhh yeaahh!! Ah.. ahhh… AHHH!!!” ceracauku tak karuan, aku sendiri tidak sadar sudah mengeluarkan kalimat selancar itu di tengah ubun2ku yang seluruhnya sudah dipenuhi nikmatnya gelora birahi ini. Aku bergoyang kesetanan di atas pangkuan Adit.
“Okay, Rina chaan…!”
Kami berdua pun saling bergoyang menggenjot, mengadu kelamin masing2 agar mendapatkan interaksi penuh cinta lebih jauh lagi…
“Nanti kalau aku mau keluar, aku akan mencabut penisku darimu…” kata Adit cepat di sela2 mulutnya yang berdesah, ah, eh, oh, tak karuan.
“Okaay…! Oooh, Adiiit enak sekali Adiiit…” ceracauku sambil bergoyang memutar2 pinggul mengimbangi gerakan naik turunnya penis Adit. Aku sampai sempat menyayangkan kenapa ini tidak kulakukan sejak dulu, padahal selama ini Adit senantiasa selalu ada untukku. Betapa ruginya aku.
“Ooowh, enak sekali goyanganmu, Riiinh… Teruslah goyang sayang!!! Uwoogh!!” gumam Adit setengah mendesah, kedua tangannya yang tadi melingkar di pinggulku kini menempel di masing2 dua sisi pinggulku dan bergerak2 membantu goyanganku.
“Aku goyang.” jeritku. Aku sangat bergairah dibuatnya sehingga rasa lelah yang daritadi menyesak di paru-paruku seakan tidak ada apa-apanya. Takkan pernah lelah aku bergoyang untuk Adit, begitulah pikiranku.

Lebih lima menit kami saling menggenjot dan mendesah penuh kenikmatan, nafsu kian menjadi2. seakan titik kepuasan yang sudah hampir di raih, namun nyatanya kepuasan itu masih belum kudapatkan. Entah apa yang ada di ujung kenikmatan itu, aku saangat penasaran.
“Rina chaan… kita sedang apa? Bukankah ini sudah bukan simulasi lagi?” sempat2nya si Adit bertanya, ketika tak ada hal lain yg kurasakan selain penisnya aduhai nikmat dalam vagina ini.
“Ayolaaah jangan bercanda… kita, auuhh…. kita sedang ngentot, sayang! Auh, yahhh, ooonghh!!”
Tiba2 smartphoneku berbunyi, spontan tanganku cepat meraihnya dan berusaha menghentikan nada deringnya yang mengganggu goyangan penuh birahi kami, namun jari2 tangan malah lurus menekan¬† “answer”, mungkin karena kebiasaanku, padahal itu adalah panggilan mama. Parahnya lagi spontan itu masih berlanjut sehingga ponselnya tidak segera kumatikan, atau kutekan pemutus hubungan atau kubuang entah ke mana, malah aku menempelkannya di telinga, sambil menjawab,
“Iya mamhh… oohw, ada apha Mamiiiih? Akuh sedangh sibukkh.. ehh, eeeh, eeeeenghh…!”
Adit hanya terdiam, separuh merasa tidak menyangka aku akan seberani itu separuh lagi menikmati permainan entot mengentot yang kami lakukan seakan tak ada ujungnya ini.

 
“Kamu lagi ngapain sayang? JUJUR DEH, lagi mabuuuk?” sahut mama.
“Ehmmmmh… enggak koq mamhh… aku gak mabuuuk, owh… terusiiin sayaaang, jangan melambaaatt!!!”
“ITU SEDANG APAAAA??? JAWAB MAMA SEDANG APAAAA???” teriak mama di antara marah dan sedih, seperti bisa kuterawang dengan otak berkabutku bahwa mama tengah menitikkan air mata di sebelah sana, namun genjotanku tidak sedikitpun berkurang memberi buaian kasih sayang pada penisnya Adit yang hangat nikmat dan perkasa itu, seakan vaginaku fix menjadi rumah bagi penis Adit yang disayanginya.
“iniiih, aku sedanggh… ngentot maah… eaaawh…!!! Terusssh, owhh.. sayang, enak sayaangg…!”
“RINAAAA… DENGAN SIAPA KAMU GITUAN, SAYAAANG…??”
“Dengan Adit Mamh… Aku sedang ngentot bersama Adiiit… tunggu dulu bentar maaamh, aku sibuuk!” jawabku tak mau kalah dari teriakan mama. Mamapun terdiam ber-o panjang… seakan mengerti. Lagipula baru terpikirkan olehku bahwa mama dan papa sudah kenal lama dengan Adit, kebetulan mama papa juga pernah menyinggung sangat menyukai sifat Adit yang pintar, patuh dan sopan. Aku pun jadi lega dan dengan tenang mematikan lalu menyimpan smartphoneku begitu saja di atas sofa dan lanjut melayani genjotan Adit.
“Aku sudah sampai di sana, Rina chaaan…!!” Adit berteriak tiba2 di saat aku juga mulai merasakan hal yang kurang lebih sama.
“Aku jugaaaaa… oooh…! Adiiit, aku juga…”
“Inilah saatnya!” ujar Adit, sembari kurasakan goyangannya mulai aneh, namun makin menggila. Kedua tangannya berusaha melepas simpul kakiku,
“BIARKAAAN… JANGAN DILEPAAASSS!” teriakku sembari mengencangkan pelukan kaki serta tanganku di tubuhnya, karena di detik itu aku sudah mencapai titik di mana hal yang kurasakan seutuhnya adalah kenikmatan mutlak, seakan tak ada kejadian yang lebih buruk di dunia ini selain memisahkan vaginaku dari penisnya.

Lagipula apalah daya Adit untuk memisahkanku darinya, ketika aku yakin 100% kekangan kedua tanganku di leher dan kepalanya seerat rantai tunggal tak bermata, juga kedua kaki yang melingkar di pinggulnya seerat besi yang dilas mati ke materi lainnya. Jujur aku tidak ingin ini tanggung, aku tak ingin melepaskan penisnya dari vaginaku sekalipun resikonya nanti aku akan melahirkan anaknya, aku malah sudah kepikiran untuk menyusui keduanya sekaligus seharian penuh tanpa beranjak sedikitpun. Bacaan sex top: Cerita Sex Terhot Titin Cewek Imut Asli Sunda

 
Dan puncak itu datang, ketika tangan Adit buntu hanya memegangi pahaku dan bibir tebalnya menempel di puting susuku, ketika penisnya merengsek penuh ke dalam vaginaku sampai menemukan buntu lalu memuncratkan sesuatu yg lebih hangat dan nikmat, mengalirkan sesuatu yang hangat Nikmat sekali. Belakangan ini kami ketahui itulah yang disebut sebagai orgasme. Dan beruntungnya aku tidak hamil karena itu, entah kenapa aku belum tau. Mama tidak marah padaku karena aku berbohong bahwa aku dengan Adit melakukannya dengan alat pengaman. Mama malah senang dan mulai berbagi2 cerita tentang dunia sexnya bersama papa dan menyuruhku untuk cepat lulus bersama Adit dan buruan menikah.

 
Aku dan Adit melakukannya tiap hari di waktu dan tempat yang bervariasi namun tak pernah lepas dari pengaman. Teman2 perempuanku sedikit menjaga jarak karena dengan hebohnya tau aku pacaran dengan algojo buruk rupa macam Adit, tapi bagiku masa bodoh, tak peduli tipe lelaki yang kuimpikan seperti apa, pada akhirnya aku sadar, aku butuh lelaki seperti Adit untuk urusan siang dan malamku. Malah terkadang aku terang2an datang ke kampus pagi2 bersama Adit dan langsung menyusui Adit di bangku kelas paling belakang, tak sedikit teman2ku yang melihatnya.

 

Kadang pula aku mengenakan kostum balet itu lagi dan menari2 di depan Adit dalam rumahnya sambil memasang musik yang biasa kupakai dansa saat latihan. Terkadang pula aku datang di rumahnya Adit ketika aku rindu menyusuinya walaupun saat itu mamanya ada di rumah kontrakannya untuk sekadar mengunjungi Adit… dan aku ketahuan tengah menyusui Adit oleh mamanya, namun mamanya hanya tersenyum dan membiarkan kami melanjutkannya bahkan lebih intim lagi.
Aaah, Adiit…!!!

Situs dewasa sex online terlengkap, novel sex terupdate, novel sex dewasa, novel xxx terbaru, novel cerita hot, novel cerita bokep, novel cerita porno, novel mesum, novel abg ml, novel tante selingkuh, novel janda hypersex, novel sex terpanas, novel perawan suka bugil.

Cerita Sex / Cerita Dewasa / Cerita Mesum / Cerita Panas / Cerita Porno / Cerita Bokep / Cerita Sex Tante / Cerita Sex ABG / Cerita Sex Janda / Cerita Sex Perawan / Cerita HOT / Kisah Sex / Sex Bergambar / Foto Seks

News Online Itil
Gravatar Image
NovelSeks.org Merupakan media hiburan bagi orang dewasa berumur 20 tahun keatas, bagi yang belum mencapai batas umur saya mohon kesadarannya untuk segera meninggalkan blog ini. Bagi yang cukup umur silahkan menikmati sajian cerita cerita panas igo nakal terbaru 2017 yang telah kami sudur dari berbagai sumber blog lain.